Apa Kabar?


unlove_me_by_ahermin-dahpal9Apa kabar, Langit? Masih cerahkah kau di atas sana? Kau yang tetap jauh dan sulit tergapai, masih ingatkah pada Pertiwi?

Engkau yang memeluknya tanpa menyentuhnya. Engkau yang meninggalkan bekas hujan hingga menembus pusat semestanya. Tak terpikirkah kau seberapa dalam lubang yang telah kau ciptakan pada Pertiwi?

Apa kabar, Samudera? Masihkah ombakmu berdebur deras di sisi Pertiwi? Tak sadarkah kau, dia hanya mendamba Langit?

Samudera, tak ada yang berani membantahmu. Tak ada yang mampu menjatuhkanmu. Engkau yang mampu meluluhlantakkan segalanya, bodohnya kau jatuh pada pesona Pertiwi. Tak sadarkah kau betapa luka Pertiwi masih belum sembuh juga?

Apa kabar, Pertiwi? Apa yang engkau pikirkan? Apa yang engkau nantikan? Apa yang engkau harapkan?

Pertiwi, tak ada yang tahu apa yang kau pikirkan. Tak ada yang tahu apa yang kau nantikan. Tak ada yang tahu apa yang kau harapkan. Sungguh, serumit itukah kau, Pertiwi? Tak tahu dirinya kamu, terus menyeret lukamu, terus membiarkannya basah dan tak tersembuhkan. Tak tahu dirinya kamu, terus mendamba yang tak mampu kau jangkau.

Dunia yang membingungkan. Bahkan nyata kini terasa fana.

Apa kabarmu besok?

Apa Enaknya Menikah?


331278-marriage“Semua orang mau menikah. Apa enaknya menikah?”

Itu sepenggal kalimat yang dikatakan Lita, yang diperankan oleh Rachel Maryam, di film Arisan! 2. Film ini sudah tayang 5 tahun yang lalu, selisih 8 tahun dari film pertamanya dengan judul yang sama. I watched the movie last night and those words of Lita suddenly created a thought inside my mind.

Apa enaknya menikah?

Banyak orang menjadikan pernikahan sebagai jalan keluar. Jalan keluar dari kesulitan finansial, jalan keluar dari keharusan untuk memenuhi tuntutan keluarga, atau jalan keluar untuk dapat memuaskan masyarakat tentang konsep moralitas yang mereka yakini.

Tidak sedikit juga yang menjadikan pernikahan sebagai sebuah ajang perlombaan, perlombaan untuk menunjukkan siapa yang lebih dulu “laku”, terutama. Seakan-akan dengan menikah mereka telah memenangkan sebuah penghargaan bergengsi di dalam lingkaran pergaulannya sebagai yang tercantik atau tertampan, terbaik atau terhebat hingga pantaslah ia menjadi yang lebih dulu menikah atau dinikahi.

Bahkan, tidak jarang perasaan dilambung oleh teman soal pernikahan juga menjadi pemikiran tersendiri bagi beberapa orang. Membuat mereka merasa kalah atau bagaimana, I don’t really get it.

I’m 24 years old and some of my friends are married now, some others are going to be soon. Me? I don’t know.

Beberapa orang yang belum menikah merepresentasikan pernikahan sebagai a road of flowers. Pemikiran yang terlalu naif atau terlalu terbawa euphoria musim kawin? Once againI don’t get it. Beberapa buku menjabarkan pernikahan sebagai kebalikannya, bahkan ada sebuah laman di internet yang concern terhadap pernikahan yang mengatakan kurang lebih seperti ini: “indahnya pernikahan hanya sampai di bulan madu saja, but after that is just another day“.

I’ve been in a conversation with a friend. We both agree that if Indonesian society has the same way of thinking of marriage with those western people who live in Europe or America, Indonesia must be a better place. Orang-orang di negara-negara di Eropa dan Amerika, as we know, memiliki pandangan yang lebih terbuka soal pernikahan. Mereka bahkan melegalkan hidup bersama tanpa ikatan pernikahan tidak peduli sampai kapan pun, bahkan banyak yang tetap hidup bersama hingga tua, hingga maut memisahkan dengan tetap tanpa pernikahan.

Bukan perkara mudah memang untuk menerapkan hal yang sama di Indonesia karena di Indonesia kita terikat dengan berbagai aturan yang berbagai rupa. Bukan hanya aturan pemerintah, ada pula aturan adat, dan, yang paling keras, aturan agama. Hidup bersama tanpa pernikahan adalah hal yang sangat melanggar norma-norma, tidak bermoral, dan sebuah dosa besar.

Saya tidak menentang pernikahan, saya pun ingin menikah. Tapi, apa enaknya menikah?

Sex? Legally have sex is probably one of the reasonsMake love dengan pasangan resmi tidak akan dianggap melanggar aturan mana pun, pun tak berdosa. Tidak akan kena razia penyakit masyarakat or such thing. Lalu, bagaimana kalau sex itu ternyata tidak semenyenangkan yang ada di film-film porno? Pernikahan yang dikira akan selalu indah dengan sex activity yang berapi-api lama-lama akan membosankan dan lalu apa? Pisah?

Keturunan? Kalau di Indonesia, itulah alasan paling utama, mungkin. Si ini ingin menikah karena ingin punya anak, si itu juga menikah karena orangtuanya sudah ingin punya cucu. Terus, kalau ternyata pasangan memiliki kandungan yang lemah sehingga butuh bertahun-tahun untuk dapat hamil atau pasangan malah mandul, bagaimana? Langsung cerai? Langsung mencari pasangan yang baru?

Lewat pernikahan, berpisah menjadi hal yang rumit. Mesti berurusan dengan pengadilan, pengacara, dan serangkaian persidangan dengan mediasi yang hanya sekedar formalitas demi mengikuti aturan yang ada. Belum lagi urusan dengan keluarga dan orangtua yang mungkin akan sangat kecewa dengan keputusan berpisah. Lebih rumit lagi jika ada anak di tengah-tengah. Kalau tanpa ikatan pernikahan, at least tidak perlu melalui persidangan dan embel-embelnya yang sebenarnya paling menguras emosi dan tenaga. How’s that?

One day, a friend told me that every girl has this time of their life when they really want to get married. But only that one time. When that one time has passed, takes time for the second time or never.

Lucky my friend for she has not been in that stage of life, but I have.

I was in that moment when I finally felt the time for me to get married had come, I had met this one guy I used to believe as the one I wanted to spend the rest of my life with, but then one evil devil ruined everything, made him left me watching that road of flowers I dreamed of burned right in front of my eyes. And here I am now, with no desire to get married so soon, though all my friends seem running to the gate of marriage, though many people insist me to settle down and tie the knot soon.

Sempat terpikir, why do I need to get marriedI have a job and financially stable in this young age. Menikah atau tidak, saya rasa saya akan baik-baik saja. Jika kemudian saya menikah, itu patut disyukuri. Namun, jika kemudian saya tidak menikah, sepertinya tidak ada yang perlu saya khawatirkan. But then, saya ingin punya anak. Perlukah saya menikah? Well, the answer is crystal clear as long as I still live in Indonesia and as long as I’m still a muslimI must be married to have a child.

Mungkin masih ada kekecewaan dari pengalaman sebelumnya atau mungkin juga pikiran saya telah terlalu banyak berpikir hingga akhirnya menarik kesimpulan bahwa pernikahan bukanlah jawaban atas semua masalah ataupun gerbang menuju kebahagiaan yang abadi karena, sungguh, dunia nyata ini bukanlah dunia dongeng yang selalu berakhir dengan happily ever after.

My Mom told me one day, after years of marriage, love will be gone dan yang tersisa hanya sayang. Sayang yang ambigu, bagi saya. Apakah “kasih sayang” yang tersisa? Atau “sayang” untuk mengakhiri setelah selama ini dan anak-anak sudah besar? Sayang yang mana yang kemudian tersisa dari pernikahan yang telah bertahun-tahun lamanya itu?

I’m in a relationship now. My boyfriend is someone who will do everything to make me happy, a way better man than my ex. I don’t wish him to read this, but if he suddenly fall to this post, he knows it already, he knows this thought of mine about marriage.

Saya ingin menikah, tapi tak masalah kapan pun itu. Tidak seperti banyak perempuan lainnya di Indonesia yang begitu menginjak usia 25 tahun mulai kasak-kusuk soal jodoh yang tak kunjung datang, sementara bagi saya kapan pun jodoh saya datang tidak menjadi masalah. Tahun depankah, lima tahun lagikah, sepuluh tahun lagikah, I will let the time answer itMy friend is already above 30 years old, still single, and she’s just fine with it. She enjoys every single day of her singleness with a wide smile in her face and a brave thought that best always takes time and the best will come at the right time, never too soon, never too late.

And after this long post, I keep asking myself: Apa enaknya menikah?

Anyone, help meDon’t give me a cliche or classic answer or religion-based answer, I’m enough of those things. Berikan saya satu saja jawaban yang masuk akal untuk pertanyaan saya tadi dan anda akan menjadi orang yang sangat berjasa dalam membantu sesosok manusia untuk menjawab salah satu pertanyaan terbesar dalam hidupnya.

Apa enaknya menikah?

Saya ingin menikah bukan semata untuk sex atau ingin memiliki keturunan. Saya ingin menikah untuk alasan yang tepat hingga tidak akan pernah terlintas sekali pun kata berpisah di dalam benak saya.

A good marriage would be between a blind wife and a deaf husband — Michel de Montaigne

Coffee Talk


coffee_by_sofus85Musim hujan baru saja mulai. Air langit dengan tanpa henti menghakimi setiap apa yang ada di bawahnya. Jalanan jadi sepi oleh orang yang lalu lalang, tapi sebaliknya jadi ramai oleh berbagai kendaraan yang akhirnya menimbulkan kemacetan. Ya, sebuah pemandangan yang biasa di setiap kali musim hujan tiba.

Malam sudah menyapa. Langit gulita, bahkan sinar bulan pun tampak redup. Pengunjung kafe dimana aku duduk kini juga sudah mulai berkurang satu persatu. Ku perhatikan jam tangan di tangan kananku. Sudah jam sepuluh malam ternyata. Pekerjaanku belum selesai juga.

Kembali ku tekuni layar laptopku yang sejak tadi ku biarkan saja menyala, menyaksikanku melamun menatap keluar jendela kaca kafe. Seperti orang-orang pada umumnya, aku juga butuh untuk sejenak beristirahat dari pekerjaan yang harus sudah ku serahkan kepada bosku pagi besok. Iya, kan?

Seorang pria berkemeja putih polos dan mengenakan celemek secara tiba-tiba duduk di hadapanku. Tanpa perlu mendongak aku sudah tahu siapa dia.

“Serius amat, bu,” katanya.

“Hmm.”

Ku acuhkan dia yang ku kenal betul wataknya sejak duduk di bangku SMA.

“Mau kopi lagi nggak?”

Aku hanya mengangkat jempolku untuk mengiyakan pertanyaannya.

Ekor mataku bisa menangkap seringai jahilnya sebelum ia beranjak dari hadapanku dan kembali ke meja baristanya.

Namanya Koko. Bukan nama sebenarnya, itu hanya panggilan dalam pergaulan karena dia memiliki mata yang sipit. Darah Tionghoa memang mengalir deras dalam darahnya langsung dari ibu kandungnya. Dia sahabat karibku sejak SMA dan kafe ini adalah miliknya. Aku hapal betul naik-turun usaha dan upayanya hingga kafe ini menjadi salah satu kafe andalan di kota tempat tinggal kami. Coffee Talk nama kafe ini. Hampir setiap malam Coffee Talk penuh, mulai dari mahasiswa hingga professional muda, apalagi di akhir pekan, dia bisa buka hingga subuh.

Untung bagiku yang selalu membutuhkan tempat seperti Coffee Talk di hampir setiap malam selepas kantor. Terutama ketika ada pekerjaan yang perlu untuk segera diselesaikan, sementara tidak mungkin untukku terus berada di kantor hingga tengah malam.

Koko yang baik tahu benar meja favoritku di kafenya, meja di sudut Coffee Talk tepat di sisi jendela kaca besar, hingga tiap kali aku datang, di meja itu sudah ada tulisan reservasi yang dengan mudah dapat aku singkirkan karena tulisan itu memang sengaja dipasang untukku agar tidak ada orang lain yang menempati meja untuk dua orang itu saat aku datang di jam-jam yang Koko sudah hapal di luar kepala.

Berselang sepuluh menit kemudian, Koko datang lagi dengan secangkir kopi di tangan kanannya, kopi Toraja latte racikannya yang menjadi favoritku, dan sepotong besar cheese cake di tangan kirinya yang juga kesukaanku.

Tepat saat Koko meletakkan piring cheese cake di hadapanku, ku matikan pula laptopku. Akhirnya, selesai juga pekerjaanku.

“Makasih, Koko kesayangan aku,” kataku dengan senang sambil menarik kopi latte dengan latte art seekor capung dan cheese cake ke arahku setelah menyimpan laptopku masuk ke dalam tasnya.

“Sekarang aja kesayangan, tadi nyuekin,” sindir Koko.

“Ya, maaf. Itu kan, tadi. Sekarang kerjaannya udah beres, jadi semua sudah kembali normal.” Aku tersenyum lebar seperti anak kecil yang diminta untuk menunjukkan deretan giginya.

Koko menggeleng pelan sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya melihatku mulai menyantap cheese cake sambil sesekali meneguk latte hangat. Pasangan yang pas di saat hujan turun dengan deras-derasnya.

“Udah makan nasi belum?” tanya Koko.

“Belum. Nggak sempat. Tadi dari kantor langsung ke sini.”

“Dan perutmu sudah menampung dua cangkir latte plus this one and this one,” ucapnya dengan nada menegur sambil menunjuk cangkir latte dan cheese cake bergantian.

Memang kopi latte ini sudah cangkir yang ketiga, dua lainnya sudah diangkat oleh pelayan.

“Mau sakit perut, mbak?”

“Ya, nggaklah, tapi mau gimana lagi, Ko. Udah terlanjur juga.”

Koko kembali menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum memanggil salah satu pelayannya dan memintanya untuk membawakan nasi goreng untukku.

“Gila, bisa kenyang banget ini, Ko,” protesku.

“Bungkus kalau kenyang,” katanya.

Untuk beberapa saat ada keheningan di antara kami. Suara hujan deras di luar dan perbincangan beberapa pengunjung Coffee Talk yang masih betah yang menjadi latar. Seandainya kami sepasang kekasih, mungkin ini akan menjadi romantis, tapi tentu saja tidak akan ada kisah romantis dari persahabatan kami karena Koko sudah menikah dan istrinya adalah perempuan paling baik dan paling cantik yang pernah aku kenal.

“Aku punya cerita,” katanya kemudian.

“Stok ceritamu nggak ada habisnya, ya.”

Koko memang senang bercerita dan dia tahu, aku sangat senang mendengar setiap ceritanya. Cerita-cerita yang terinspirasi dari para pengunjung Coffee Talk.

“Kalau yang satu ini terjadi di sini, di meja ini.”

“Meja ini? Oke. Go on.” Aku mulai penasaran.

Koko pun memulai ceritanya. Katanya, kira-kira sekitar setahun yang lalu, di awal musim kemarau yang sedang kering-keringnya, ada seorang wanita yang duduk di meja ini yang memesan secangkir affogato, espresso dengan es krim vanilla di atasnya. Beberapa kali wanita itu mengecek jam tangannya. Terlihat jelas, dia sedang menunggu seseorang.

Selang beberapa saat kemudian, seorang pria berperawakan tinggi yang berpenampilan rapi dan terlihat tampan masuk ke dalam Coffee Talk dan terlihat mencari-cari seseorang. Dia lalu mengutak-atik ponselnya dan melihat ke arah meja di sudut Coffee Talk dimana wanita tadi duduk membelakangi pintu masuk.

Pria itu lalu menghampiri si wanita. Mereka bersalaman. Sepertinya itu kali pertama mereka bertemu. Koko bisa melihat kecanggungan yang menyeruak di antara keduanya. Si pria lalu memesan es kopi Luwak, mungkin dia sedang sangat kepanasan dari luar tadi.

Butuh beberapa saat sebelum obrolan menjadi lancar mengalir dari mulut keduanya. Koko yang iseng mencuri-curi dengar obrolan mereka. Hanya obrolan-obrolan remeh, khas orang-orang yang baru pertamakali bertemu.

Pertemuan mereka berakhir di akhir jam makan siang. Sepertinya si pria harus segera kembali ke kantornya.

“Mereka ketemu lagi, nggak?” tanyaku yang penasaran.

“Dengar dulu,” gemas Koko.

Koko kembali melanjutkan ceritanya.

“Mereka bertemu lagi,” kata Koko.

Koko pikir mereka tidak akan bertemu lagi karena telah lewat dua bulan sejak pertemuan pertama mereka di Coffee Talk. Ternyata Koko salah. Mereka kembali bertemu di tempat itu, kembali duduk di meja yang sama, dan memesan kopi yang sama.

Obrolan mereka menjadi lebih santai. Koko kembali mencuri-curi dengar dari meja baristanya yang memang cukup dekat jaraknya dari meja di sudut itu.

“Enak nggak cokelat yang waktu itu aku bawakan ke rumah?” tanya si pria.

“Enak banget, Kak. Langsung habis malah. Mama juga suka banget,” jawab si wanita.

Si pria tersenyum senang mendengar jawaban si wanita yang sepertinya lebih muda beberapa tahun dari si pria, terdengar dari cara bicaranya.

Ternyata beberapa bulan mereka tidak kembali ke Coffee Talk, si pria telah mengunjungi rumah si wanita dan bertemu dengan orangtua wanita tersebut.

Seorang pelayan datang dan meletakkan sepiring nasi goreng di hadapanku dan sebotol air mineral. Wangi daging asap menerobos masuk ke lubang hidungku dan mengganggu saluran pencernaanku yang seketika menuntut perut untuk menyuarakan pinta untuk diisi.

Koko tertawa mendengar suara perutku yang tidak tahu malu.

“Alamat nggak bakal dibungkus ini, sih,” ejek Koko.

“Ih, rese’ banget, sih. Lanjut aja ceritamu.”

Singkat cerita, mulai sejak saat itu, tiada malam minggu yang terlewatkan tanpa mereka menjadi tamu Coffee Talk.

Koko yang senang mempelajari karakter pengunjung Coffee Talk lewat kopi yang mereka pesan, merasa heran dengan dua pengunjung spesialnya itu. Si wanita selalu memesan affogato yang lebih sesuai untuk kepribadian si pria yang tenang dan terlihat serius, sementara si cowok selalu memesan es kopi yang lebih sesuai untuk kepribadian si wanita yang santai dan terang-terangan.

Dugaan Koko hanya satu, mungkin mereka berjodoh karena katanya jodoh adalah orang yang akan melengkapi segala kekurangan dan kelebihan kita dan kopi yang mereka minum, yang berkebalikan dari karakter mereka, sepertinya sudah cukup menjelaskan itu semua.

Di tiga bulan berikutnya, ketika musim kemarau telah berubah menjadi musim hujan, momen indah terjadi. Koko yang masih saja mencuri-curi dengar obrolan mereka menjadi saksi saat itu.

“Aku mau ngomongin sesuatu,” kata si pria. Dia terlihat sangat canggung.

“Mau ngomongin apa, Kak?” tanya si wanita yang sepertinya sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh si pria karena kemudian dia memperbaiki posisi duduknya dan juga terlihat canggung.

Mungkin mereka berdua sudah tahu bahwa inilah momennya.

Si pria menarik napasnya.

“Aku tahu kita belum terlalu lama kenal dan baru beberapa bulan belakangan ini kita menjadi benar-benar akrab. Aku bukannya bermaksud lancang, tapi dari komunikasi yang terjalin di antara kita, jujur saja, ada perasaan berbeda yang aku rasakan terhadap kamu.”

Koko bisa melihat jemari si wanita bergerak dengan gugup di atas meja. Si pria ternyata juga menyadari hal itu dan lalu meraih jemari si wanita.

“Maaf karena ini tiba-tiba, tapi sejak awal kita diperkenalkan, aku memang sudah berniat untuk mengenalmu lebih jauh dan ketika aku telah mengenalmu, aku serius ingin bersamamu.”

Kata-kata pamungkas telah diucapkan oleh si pria. Muka si pria dan si wanita mendadak berubah menjadi semerah kepiting rebus.

Koko tersenyum-senyum sendiri di balik meja baristanya, seakan teringat momen ketika ia melamar istrinya. Ya, pria mana pun yang mendengar kata-kata si pria tahu pasti, dia tidak sedang menyatakan cinta untuk sekedar menjadi pacar, tapi sebuah lamaran untuk menjadi pendamping hidup.

Wanita yang beruntung. Tidak banyak perempuan yang mendapatkan pernyataan cinta sekaligus lamaran dalam satu momen yang sama.

Sejak malam itu mereka menjadi pelanggan yang lebih spesial lagi bagi Coffee Talk. Koko selalu memberikan bonus cheese cake untuk mereka tanpa mereka tahu siapa yang memberikannya.

“Romantis banget, ya, Ko,” gumamku dengan tetap mengunyah. Nasi goreng daging asap di Coffee Talk memang yang terbaik.

“Ini cewek jorok banget sih, telan dulu baru ngomong,” tegur Koko.

“Lanjuuuttt.”

“Hubungan mereka sangat indah. Si pria sangat dewasa dalam menghadapi si wanita yang manja dan sepertinya dia senang-senang saja wanitanya manja padanya. Beberapa kali aku lihat si pria memperhatikan dengan serius wanitanya yang sedang bicara dengan heboh tentang berbagai hal. Kalau kamu lihat sendiri, kamu pasti sibuk meng-aw-aw-kan mereka karena tatapan pria itu, seriously, hanya orang buta yang tidak bisa lihat kalau itu cinta,” kata Koko.

Aku menyimak dengan serius, tidak terusik sedikit pun dengan bagian dia mengangguku.

“Tapi seperti kopi, yang jika terlalu banyak akan membuatmu sakit, mungkin itu juga yang terjadi dengan mereka. Terlalu banyak cinta yang mereka bagi terhadap satu sama lain.” Suara Koko mendadak menjadi lemas.

Hanya dua bulan, ya, hanya dua bulan lebih beberapa hari, kisah cinta yang semanis Arabika seketika berubah menjadi sepahit Robusta.

Mereka tidak lagi datang bersama ke Coffee Talk. Entah apa yang terjadi di antara mereka berdua. Padahal sebelumnya Koko mendengar mereka membicarakan persiapan pernikahan mereka beberapa bulan lagi.

Mereka datang sendiri-sendiri kini. Masih duduk di meja yang sama, meminum kopi yang sama, hanya tidak bersama. Mereka sendiri.

Koko sungguh penasaran dengan apa yang telah terjadi pada hubungan dua pelanggan favoritnya, tapi cukup tahu diri untuk tidak ikut campur dengan masalah mereka.

Koko tahu mereka masih saling mencintai.

Bukan hanya sekali dilihatnya si pria maupun si wanita berjalan di depan Coffee Talk. Tidak masuk, hanya singgah sebentar untuk memperhatikan meja yang pernah menjadi saksi saat-saat indah yang pernah mereka lalui bersama di meja itu.

Beberapa bulan hal itu terus berulang. Tak ada satu pun dari mereka yang masuk ke Coffee Talk. Mungkin terlalu takut akan diserbu oleh serangan kenangan yang begitu banyak di tempat ini.

Baru beberapa minggu yang lalu, si wanita memutuskan untuk masuk ke Coffee Talk lagi. Sepertinya dia sudah mengumpulkan segala daya dan upayanya untuk menguatkan dirinya ketika melangkahkan kakinya lagi di Coffee Talk. Koko melihatnya menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan, seakan berusaha menenangkan detak jantungnya.

Wanita itu melihat Koko memperhatikannya dan tersenyum pada Koko dengan senyum yang seakan tahu selama ini Koko mendengar semuanya. Koko membalas senyuman wanita itu dengan seprofesional mungkin agar tidak terpancar kesedihan yang juga dia rasakan.

Wanita itu kembali duduk di meja yang sama. Tampak enggan awalnya, namun tetap duduk juga.

Wanita itu pun masih memesan kopi yang sama.

Satu hal yang wanita itu tidak sadari, ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya dari balik kaca Coffee Talk. Mata yang tampak nanar, memandangnya dengan penuh kesedihan. Pemilik mata itu hanya berdiri diam di tempatnya terus memperhatikan wanita itu yang sedikit pun tidak menyadari keberadaannya

Hujan turun. Si pria masih berdiri di tempatnya dan baru beranjak pergi ketika dilihatnya wanita yang dia cintai telah pergi dengan tanpa menyadari keberadaannya setelah sekian lama di tempat itu.

“Mereka ada masalah apa ya, Ko?” tanyaku dengan mata yang mulai berair. Untung saja nasi gorengku sudah habis.

Koko mengangkat kedua bahunya.

“Hanya mereka dan Tuhan yang tahu,” ujar Koko. “Sejak saat itu, si pria juga sudah mulai sering ke sini lagi. Duduk di meja ini dan minum kopi yang sama sejak pertama mereka bertemu di meja ini.”

“Nggak pernah gitu, mereka nggak sengaja berpapasan di tempat ini?”

“Nggak pernah. Sekalipun. Sedetikpun. Seakan dunia sudah berkonspirasi untuk tidak mempertemukan mereka lagi.”

Aku terdiam. Tidak tahu harus bagaimana lagi untuk merespon kisah cinta yang menyedihkan itu.

“Hidup itu seperti kopi. Pahit. Untuk benar-benar menikmatinya, butuh waktu untuk benar-benar menyukainya. Mungkin itu yang tidak mereka tahu. Mungkin kopi yang selama ini mereka kecap terlalu manis, hingga ketika merasakan yang pahit, mereka memilih untuk tidak lagi meminumnya. Dan ketika mereka memutuskan untuk mencobanya lagi, semuanya sudah berbeda.”

 “Kenapa tempat ini kamu namakan Coffee Talk?” tanyaku kemudian.

“Karena teman bicara yang paling baik adalah kopi, kan? Pahitnya kopi membuat beberapa orang menambahkan susu dan krim. Pekatnya kopi membuat beberapa orang mengindahkannya dengan seni. Kopi membuatmu belajar tentang kehidupan hanya lewat sebuah tegukan.”

Koko tersenyum.

Seorang wanita cantik tiba-tiba merangkulnya dari belakang.

Latasya. Istri cantik Koko.

“Hai, Mocca,” sapanya padaku.

“Hai, La.”

“Ca, aku balik duluan, ya. Nggak apa-apa, kan?” tanya Koko.

“Yalah, nggak apa-apa. Istrimu sudah di sini juga.”

Thanks, ya. Eh, aku lupa nanyak daritadi, aku mau bikin menu kopi baru, bagusnya namanya apa, ya?” tanya Koko yang sudah beranjak dari duduknya dengan tangan istrinya menggandengnya mesra.

“Kopi Sianida.”

“Ngasal aja,” kata Koko sambil tertawa. Istrinya juga tertawa. “Besok ke sini, ya. Harus ada namanya besok.”

Aku hanya mengiyakannya saja sambil membalas lambaian Latasya.

Koko pun pulang bersama istrinya setelah sebelumnya melepas celemeknya dan menyuruh pelayannya untuk menyimpan celemek itu di ruangannya di belakang Coffee Talk.

Aku hanya bisa memandang mereka menghilang masuk ke dalam mobil yang terparkir di depan Coffee Talk.

“Sampai jumpa besok, Ko, dengan cerita lain, tapi kopi yang tetap sama. Seperti perasaanku ke kamu. Tetap sama, nggak peduli sepahit apa.”


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

The Story of (Unexpected) Prajabatan


prajab storyThree weeks ago, I got a bad news. It was that I must join a prajabatan for three weeks. What is prajabatan? And why was it a bad news for me? Here’s the story.

In Indonesia, when people become a civil servant, there is a kind of initiation that they must follow to be a hundred percent accepted as a civil servant and it is a must because it is a government regulation. But not like freshman initiation we see in college/university with the senior students do the initiation to their juniors, it is actually an education and training of how to be a good civil servant. That’s prajabatan.

This was a bad news for me because:
First, it was supposed to be held on October of this year, not this early on June when I was not ready at all because all I knew was this would be on October. I was confused that time, did not know what to do first to prepare my self and all the things that I must bring to the dorm. Yup, during prajabatan, I must live in a dorm for three weeks. It would be a bit better if the dorm was clean and nice, but no, it was a dorm, even an ex-dorm of a squad of boys. So, you can imagine it by yourself.

Second, it is Ramadan. In prajabatan,  there are a lot of activities since early morning to middle of the night I must do. From gymnastics at 5.30 am, study in class at 8 am for 8 to 9 hours a day—with no coffee break because it is Ramadan and we all are fasting—, learn to reciting Al Qur’ an from after tarawih at 9 pm until 11 pm, and we must wake up on 3.30 am—and sometimes on 4 am when we were too tired to listen to the alarm—for sahur (a tradition in Islam to eat in the middle of the night every Ramadan to prepare body to fasting with no water and food at all for more than ten hours a day) and hard to sleep again after that because we must do Shubuh prayer on 5 am. So, can you count how many hours left for me and my friends to rest our body? Only 3-4 hours a day. Exhausting? You bet!

Third, I always think prajabatan is not so important since it is an education and training and I already work as a civil servant months before this, so what should I learn again? I know all the jobs already. What a waste, I think.

But, that is all my complaint because, honestly, I enjoyed my three weeks in the dorm, three weeks of being exhausting, three weeks of missing home, three weeks of feeling sleepy in the class, three weeks of meeting new people, three weeks of making new family. I enjoyed those three weeks of unexpected prajabatan.

I forgot since when I started to enjoy living in the dorm with that tight schedules every day. Probably, since when I got to know my friends one by one. I think what I grateful for was that all the girls slept in one room—so did the boys, but in different room of course—that led us to know and to be close to each other. At night before bed, we shared stories we laughed together. In the morning, we woke each other up because it was too tiring to wake up by our self—and there were this morning when we yelled at every alarm and that was so funny to remember. In gymnastic, we laughed at every funny moves others did and in class, we mocked each other so we wouldn’t fall asleep in the class.

On the picture of me and my friends above—there are 35 of us—I put some emoticons that related to our days in dorm. The suitcases are to show how many things we brought in to the dorm for three weeks and out of the dorm. Heavy for sure. The book with falling leave to show how many we learned and how boring it was in the class. The camera is a symbol for many pictures we took during prajabatan. The food is the symbol of the menu in dorm that was so dry and boring and made us ordered lots of food by delivery. And there is this cat that symbolizes many cats around the dorm and one of them is named Putri—or Princess in English—by the boys and I don’t know why. In the left corner, I left a note for my new friends, I hope they can read it because I see it too small to read 😅

I never thought that prajabatan would be this fun. At first week, I still thought it was a bad idea to hold a prajabatan in Ramadan and a week felt like a year, but when it came to the second week, I felt the rhythm and I finally could follow it to end and, I didn’t know how, it felt sad to end the prajabatan. But, still, it was nice to remember, but no to repeat 😂

I don’t want to be such a melancholic person, but let me say  the sincere grateful from my heart to my all new friends to accept this  young lady with arrogant face as part of their life 😊 Maybe there was a part of me they want to punch, especially my selfish attitude at first— so sorry for that, it’s a habit of meeting new people—, but don’t forget this your ‘lil sis, okay?

So, to my new family in dorm and to all my Muslim friends in this world, it’s just four days before our big day, our Eid, so I would like to send you all:

HAPPY EID AL-FITR
 تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك 
TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM

Have a nice day, everyone, and here are the faces of me and my friends in .gif I made when we were still in the dorm. Guess which one is me.

Prajab Gol. III Angk. III 2016 Squad

Moon Comes at Noon


holding the moon

Moon comes at noon
No one’s expecting
To see the sky suddenly maroon
Heart’s pounding

I wish to see it close
I wish to touch it now
I know I miss all that lost
Like I don’t care if I’m low

Moon comes at noon
When the land doesn’t anticipate it
But I know it will happen soon
Though my heart can’t contain it

I’m paralyzed
When I see the moon comes at noon
I’m blinded
With a desire to hold the moon

When moon comes at noon,
I wish we meet soon

Magic


magic_by_cruenta-dxmo5pI was spending time with one of my best friend when he suddenly told me his experience accompanying his girlfriend to a shaman to cure her disease. He said that not only disease the shaman can cure, romance also. Then I was just like, “What do you actually want to say?” And that’s how the story for this post began.

I and him have been friend since high school, so you can say that he already knows me so well that even all the good and bad things about me he knows specifically. Romance as well. Then he asked me, “Do you wanna go there? I’ll accompany you.” I didn’t know that time whether he was serious with that question or he just tried to tease me. I guess patchy because I know him so well, too.

Many Indonesian people still believe in magic today. They believe they can be rich by using magic or they can get whatever impossible to achieve by using magic. What a naive mind it is, but that’s the truth. I don’t know if another country is the same, but I know that every place in this world has their own typical magic, such as Voodoo in Africa.

I wont say that I don’t believe magic. At some points, I believe it, too. I believe there is witches in this world. I believe Hogwarts is actually a real place, a real magic school, and I am actually sure that Joanne Kathleen Rowling or better known as JK Rowling, the author of the legendary Harry Potter, is a Hogwarts graduate. Don’t ask me how, I just believe so.

However, I don’t want to go to that shaman. Simply because it is prohibited in my religion. Once I go there just to fix my problem, the hell will welcome me with a wide open gate, because it means I don’t believe in God. I told my Mom about it, too, and she was a hundred percent forbid me to do such thing. She told me that greatest power that will help me is God’s power and she’s right. Well, I am not that desperate to ask a shaman for helping me by spelling some magic words to me. I am just, I don’t know, wondering or trying to figure out what my Mom will say about it perhaps.

Yeah, I wont lie that a part of me wants to try a chance—if it can be called a chance. Some shamans in Indonesia are using Arabic words in their spelling or even words from Al-Qur’ an, that’s what makes me considering shaman as a chance to fix my problem because I think it is not prohibited when they use words from Al-Qur’ an. But then, the logic side of my mind knocks me and realizes me that no matter what I should not go there, I should not go to a shaman. Shaman is just a human-being like me and if they can truly fix all problems in this life with their spelling, then what a perfect life they have, and I am sure there’s no such thing in this world—there’s no perfect life in this world—because what makes life as life is the problem in it, right? And I think it is probably a test from God to me. So, NO. The conclusion after all thinking I’ve done is I don’t and I wont go to a shaman.

By the way, it’s just two days before Ramadan begins. Happy Ramadan, all Muslims in the world! How lucky we are to have another chance to welcome Ramadan in this year. I don’t know why, but it always makes me feel moved when Ramadan comes every year. Don’t you feel it, too, guys? Thank God, for this chance to meet Your Ramadan again. Alhamdulillah.

And to end this post, let me share you two songs I love to listen this lately. Enjoy the songs, have a good night, and please don’t go to shaman to fix your problem, just pray to your God, okay? God will bring you the magic in time 😇

Currently


I just checked my blog seconds ago when I realize that the last time I post something was on February. Yeah, 3 months ago. And by checking the calender on my table, it’s going to be 4 soon if I don’t post anything today 😅

So, let me just write what crosses my mind in this very time—still on my working time, but I don’t know where my boss is now and there’s nothing left to do since all the task my boss gave me is done.

I actually don’t know what picture I must put on this post as what I usually do, so I just put my self-picture. To those who know about that app named Snapchat must know that I use it when I took that picture. I’m kinda obsessed to that app I used to call celebrity-obsessed-app. Yeah, I’m one of those celebrity-obsessed’s victim now. It’s fun actually, like I have a media to share anything interest me right at the time, by picture or video that I can modify with sticker or words or just share whatever I want to share, don’t care what people say, don’t care what people think. It will be deleted from the app automatically after a day, anyway, except you or someone capture it and save it. But the best thing, you will know who watch yours or capture it. Fun! Addicting! Ha!

I’m a little upset now for having nothing on my to-read list. All the novels I want to read is already read. No more new arrival comic that interest me also. So, can you guys suggest me a novel/comic or two? I need a vitamin B. Book. It’s already mainstream to read people say vitamin sea, I think.

I have a new novel draft. Already 50 pages more. But now, just like before, I stuck in the middle, don’t know what to write anymore to continue the story, but I will write it to the end. Swear! However I still keep it on my mind that I must write the story I want to read by myself. Yup, passion is still on fire!

Oh yeah, almost forget to tell, these months I am experiencing a feeling of being a host for some of my office’s event. It made me feel on pins and needles at first, but now I enjoy it. Not a big deal, I mean I’m just reading an event’s rundown on my hand with a voice that I must make as beautiful as possible and as loud as well. So, I’m an amateur host now.

To end this post, I will say that the city where I live is one big grill now. Rain comes sometimes, but doesn’t decrease the heat at all. I’m still waiting for a miracle—about my love life, you know, one thing I must worry about since I don’t even expect one now, but him, still. I hope good things happen soon and my resolution for this year can come true 😇

Fijne dag, guys!