Malaikat


Lelahmu jadi lelahku juga

Bahagiamu, bahagiaku pasti

Berbagi takdir kita selalu

Kecuali tiap kau jatuh hati

Semilir angin pagi masuk ke dalam kamar Sasa lewat jendela dan menerbangkan poninya yang baru saja ia sisir. Sasa pun menyisir kembali poninya dan kemudian memakai kacamata kesayangannya yang berbingkai besar berwarna hitam yang sebenarnya lebih cocok digunakan oleh cowok dibandingkan cewek.

Setelah merasa cukup, Sasa pun keluar dari kamarnya dan segera pamit pada bunda dan ayahnya setelah sebelumnya mengambil selembar roti tawar di atas piring. Sasa melangkah keluar rumah dengan perasaan riang seperti hari-hari kemarin setiap pukul 6.30 pagi, karena jam segini adalah waktu Ryan, tetangganya sedang mencuci mobil.

Benar saja, Ryan memang sedang cuci mobil ketika Sasa lewat. Ryan yang melihatnya langsung menyapanya.

“Pagi, Sa,” sapa Ryan.

“Pagi, Kak. Rajin bener nyuci mobil mulu tiap pagi,” komen Sasa yang merasa senang amat sangat karena sapaan Ryan yang sebenarnya hampir tiap pagi dia dapatkan.

“Biasa, pacar baru. Mobil harus kinclong, Sa,” ujar Ryan dan seketika itu juga hati Sasa hancur berkeping-keping.

“Oh,” itu saja yang dapat Sasa ucapkan.

“Cepat ke sekolah, gih, ‘ntar telat lho,” kat Ryan dengan senyumnya yang manis banget.

“Iya, Kak. Pergi dulu ya, Kak,” pamit Sasa dengan muram yang tidak disadari oleh Ryan yang sedang asik sendiri mencuci mobilnya demi mendapatkan perhatian dari pacar barunya.

Sejak kecil Sasa sudah tetanggaan dengan Ryan. Rumah mereka hanya dipisahkan sebuah tembok tipis. Dan yang seperti kalian baca, Sasa jatuh cinta pada Ryan, sejak pertama kali mengenalnya. Tapi, Sasa sadar, anak SMA berkacamata tebal seperti dia nggak akan cocok dengan  Ryan yang anak kuliahan dengan tampang di atas rata-rata dan selalu dikerumuni para mahasiswi yang super duper cantik. Jadi, Sasa hanya dapat memendam perasaannya. Membiarkannya bersembunyi di lubuk hatinya yang terdalam dan menjaga agar tidak sampai pergi meninggalkannya.

Berjuta-juta kali Sasa berusaha menunjukkan rasa sayangnya pada Ryan dengan berbagai cara yang ia bisa. Mulai dari perhatian sepele, seperti mengingatkan untuk sholat dan ingat makan, sampai belajar membuat kue kesukaan Ryan, meskipun ia sendiri sama sekali tidak punya bakat memasak.

Menjadi tempat curhat Ryan adalah pekerjaan tetap Sasa. Ya, tempat curhat Ryan tiap kali dia patah hati karena diputuskan sama pacarnya. Sambil menahan rasa senangnya yang hampir selalu akan tumpah, Sasa duduk manis di samping Ryan sambil mendengarkan tiap kata patah hati Ryan sambil berpura-pura prihatin. Sasa tau dia salah dengan merasa bahagia, tapi itulah cinta yang dia rasa dan bukan salahnya karena memiliki rasa itu.

Menjadi tempat curhat Ryan tiap dia mendapatkan pacar baru pun adalah pekerjaan Sasa. Dan kebalikan dari yang aku tulis di atas, ketika Ryan bertutur tentang indahnya jatuh cinta dengan malaikat bersayap, yang berwajah rupawan, dan tampak cemerlang, seolah tanpa celah, Sasa hanya dapat menahan tangisnya dalam hati dan baru menumpahkan semuanya ketika kembali ke rumah.

*****

Kali ini hampir habis dayaku

Membuktikan padamu

Ada cinta yang nyata

Setia hadir setiap hari

Tak tega biarkan kau sendiri

Meski seringkali kau malah asik sendiri

“Sa,” panggil Ryan dari balkon kamarnya, sore itu.

Sasa menoleh.

“Halo, Kak,” balas Sasa dengan riang sambil menutup buku yang sedang dibacanya.

“’Ntar malam ada PR atau acara nggak?” tanya Ryan.

“Nggak ada, Kak. Emang kenapa?” Sasa balik bertanya.

“Ke taman belakang ya, biasa, mau curhat,” jawab Ryan sambil cengengesan seperti anak kecil.

Kak Ryan mau curhat apa ya? Batin Sasa.

“Oke, Kak,” Sasa mengiyakan. Meskipun penasaran, tidak mungkin dia bertanya pada Kak Ryan.

Malamnya, setelah makan malam, Sasa pun menuju ke taman perumahan yang tepat berada di belakang rumahnya dan Ryan. Taman ini memang tempat langganan yang Ryan gunakan sebagai tempat kalau dia mau curhat sama Sasa. Benar saja, ketika Sasa sampai, Ryan sudah menunggu dengan gitarnya.

“Malam, Kak,” sapa Sasa.

“Eh, kamu, Sa. Duduk sini,” kata Ryan sambil menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya, di sebuah bangku taman panjang.

Sasa pun duduk di sebelah Ryan.

“Kak Ryan sudah sholat dan makan?” tanya Sasa yang sepertinya tidak bisa kalau tidak memperhatikan Ryan barang sebentar saja.

“Sudah, bos,” jawab Ryan dengan isengnya.

“Terus, mau curhat apa nih, Kak?” tanya Sasa lagi yang sebenarnya sangat penasaran sambil berharap Ryan akan curhat tentang hatinya yang patah lagi.

“Aku patah hati lagi, Sa,” katanya dengan santai dan seketika itu pula hati Sasa melonjak girang.

Sasa berusaha mati-matian untuk membuat mulutnya tetap terkatup rapat dan bukannya malah tersenyum lebar mendengar Ryan patah hati lagi, padahal baru tadi pagi dia mencuci mobil dengan riang untuk pacar barunya.

“Kok bisa, Kak?” Sasa bertanya dengan nada yang dibuat seprihatin mungkin.

“Kakak dibohongi. Ternyata dia udah punya pacar,” kata Ryan, yang Sasa bisa lihat dari raut wajahnya, tampak sedih.

Belum sempat Sasa bertanya lebih lanjut, Ryan sudah melanjutkan ceritanya lagi.

“Kakak pikir dia adalah malaikat yang selama ini kakak cari, ternyata bukan. Jujur aja, kakak kecewa banget sama dia. Padahal, kakak baru aja mau ngenalin dia ke kamu, Sa,” ceritanya yang kemudian menatap Sasa dengan sayang, sayang seorang kakak pada adiknya.

“Sabar ya, Kak. Tuhan pasti ingin memberikan yang lebih baik buat Kakak. Malaikat yang bersayap putih, berwajah rupawan, dan tampak cemerlang seperti yang Kakak selama ini selalu bilang,” Sasa berusaha untuk menghibur Ryan sebisanya.

“Makasih ya, Sa, kamu selalu ada buat aku,” Ryan lalu memeluk Sasa dengan sayang.

Sasa yang tidak menyangka akan dipeluk oleh Ryan hanya terkaget-kaget, tapi dia sadar, ini hanya sekedar pelukan terima kasih seorang kakak. Sasa pun membalas pelukan Ryan dengan sayang.

“Seandainya kamu yang jadi malaikat itu ya, Sa,” ujar Ryan kemudian. “Pasti aku seneng banget punya malaikat seperti kamu,” tambah Ryan.

Aku juga berharap aku yang jadi malaikatmu, Kak.

*****

Karena kau tak lihat

Terkadang malaikat

Tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan

Namun kasih ini silahkan kau adu

Malaikat juga tahu

Siapa yang kan jadi juaranya

Keesoka harinya, bahagia itu kembali menjadi duka.

Sepulangnya dari kampus, Ryan langsung bertamu ke rumah Sasa hanya untuk menceritakan kalau dia sudah menemukan malaikat yang selama ini dia cari. Dan dia sangat yakin, perempuan inilah yang akan jadi malaikatnya.

Hati Sasa tak berbentuk lagi. Seluruh tubuhnya seakan mati rasa.

Belum sempat Sasa memperbaiki perasaannya yang hancur lebur, Ryan yang tak tahu apa-apa tentang perasaan Sasa lalu berkata kalau dia bertemu dengan malaikatnya ini ketika dia di kampus. Ryan bisa melihat sayap malaikat pada tubuh cewek itu. Wajahnya yang rupawan bagaikan malaikat dan tampak cemerlang di matanya, sudah memastikan bahwa cewek itulah malaikatnya.

Sasa hanya bisa tersenyum kecil dengan hatinya yang sudah bolong besar dan mengucapkan terima kasih yang terdengar sangat hambar. Bukan kali ini saja Ryan dengan girangnya menghampiri Sasa untuk mengatakan dia sedang jatuh cinta, tapi baru kali ini Ryan tampak sangat serius bercerita. Sangat semangat. Sasa tahu ini sudah pasti.

Setelah Ryan pulang dengan senyum yang mengembang dengan lebar di bibirnya, Sasa berlari ke kamarnya, mengunci pintu kamarnya, dan menumpahkan semua airmata yang sudah ditahannya sejak tadi.  Air mata patah hatinya yang teramat sangat.

*****

Hampamu tak kan hilang semalam

Oleh pacar impian

Tetapi kesempatan untukku

Yang mungkin tak sempurna

Tapi siap untuk diuji

Ku percaya diri

Cintakulah yang sejati

Semalam Bunda bilang, Sasa sekeluarga harus pindah ke Surabaya minggu depan karena Ayah dipindah tugaskan ke sana. Kesedihan Sasa makin memuncak. Sudah cukup baginya Kak Ryan hanya menganggapnya sebagai adik, tapi kenapa sekarang dia juga tidak boleh melihat Kak Ryan setiap pagi?

Satu keputusan besar dibuat Sasa sehari sebelum kepindahannya dengan perasaannya yang gamang.

Dia menelepon Ryan dan mengajaknya bertemu di taman belakang rumah mereka. Taman yang akan selalu menyimpan kenangan tentang mereka berdua. Ryan pun menyanggupinya karena merasa ada yang tidak beres dari nada bicara Sasa.

Malamnya, mereka pun bertemu.

“Ada apa, Sa? Tumben, kamu yang ngajak kakak ke sini,” tanya Ryan langsung.

“Besok Sasa sekeluarga mesti pindah ke Surabaya, Kak,” jawabnya.

Ryan kaget. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

“Pindah? Ke Surabaya?” ulangnya.

“Iya. Untuk selamanya.”

“Kenapa?” tanya Ryan.

“Ayah pindah tugas, Kak. Ayah dipercayakan untuk megang cabang perusahaan tempat kerjanya di Surabaya,” jelas Sasa yang sedang berusaha membendung airmatanya yang beberapa hari ini tidak pernah berhenti mengalir.

“Tapi kamu bisa main ke sini sekali-kali kan?”

“Nggak bisa, Kak,” ujar Sasa dengan muram.

“Kenapa? Bunda sama Ayahmu ngelarang?” Ryan jadi tidak mengerti.

“Aku yang nggak mau,” Sasa tidak sekalipun menatap Ryan.

“Kenapa? Kamu nggak mau ketemu Kakak lagi?” entah kenapa emosi Ryan mulai ikut ambil bagian, Ryan sendiri juga tidak mengerti.

“Aku sayang sama kakak dan selalu berharap jadi malaikat Kakak, tapi Kakak sudah menemukan malaikat yang Kakak cari, aku hanya akan jadi pengganggu. Aku nggak bersayap, aku nggak rupawan, apalagi cemerlang,” Sasa tanpa ragu mengeluarkan semua isi hatinya yang sudah dia pendam sejak pertama kali menyadari ada cinta yang tumbuh dalam hatinya hanya untuk Ryan.

Ryan terperangah mendengar kata-kata Sasa yang sangat tidak diduganya. Dia baru menyadari arti seluruh perhatian yang selama ini Sasa berikan kepadanya. Bukan sekedar perhatian seorang adik pada kakaknya, tapi seorang cewek terhadap cowok. Ryan juga bisa melihat mata Sasa yang bengkak karena menangis berhari-hari dan dia jadi tahu alasan mengapa beberapa hari ini Sasa tidak pernah lagi lewat depan rumahnya tiap pagi. Mata itu sudah menceritakan semuanya.

“Maafin Kakak, Sa,” hanya itu yang bisa Ryan ucapkan.

Sasa tahu Ryan tulus mengucapkannya, tapi bukan itu yang dia harapkan.

“Nggak ada yang perlu dimaafin, Kak,” kata Sasa yang kemudian bangkit berdiri dan tersenyum untuk terakhir kalinya pada Ryan sebelum pergi meninggalkan Ryan terduduk sendiri di bangku taman kesayangan mereka yang selamanya akan menyimpan kenangan persaudaraan mereka yang berakhir dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Ryan hanya mampu menopang kepalanya dengan tangannya dan memutar kembali setiap bagian dari kenangannya bersama Sasa setiap kali teringat akan Sasa karena Sasa sekarang nggak ada lagi di sampingnya.

“Aku butuh kamu, Sa.”

Malaikatnya sudah terbang pergi dan tidak akan kembali untuk kedua kalinya kecuali dia yang menjemputnya.

Namun tak kau lihat

Terkadang malaikat

Tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan

Namun kasih ini silahkan kau adu

Malaikat juga tahu

Aku kan jadi juaranya

*****



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s