To Nessa


“Kevin!” panggil Oma sambil berjalan ke arah kamar Kevin yang pintunya dibiarkan terbuka.

“Iya, Oma,” sahut Kevin yang sedang memainkan gitarnya di atas tempat tidur.

“Kamu siap-siap ya, besok orangtuamu datang jemput kamu,” kata Oma yang sudah berdiri di pintu kamar Kevin sambil tersenyum. Oma yang cantik dengan sanggulnya yang besar.

Kevin hanya mengangguk, mengiyakan kata-kata Omanya tersayang.

Itulah kejadian seminggu yang lalu ketika Kevin masih tinggal bersama Omanya. Sekarang dia sudah kembali ke keluarga yang sudah lama dia tinggalkan karena sakitnya patah hati. Patah hati yang pertama dengan cinta pertama yang meninggalkannya begitu saja.

Sekarang Kevin sudah bersama lagi dengan keluarganya, dengan kedua orangtua dan adik laki-lakinya. Tapi mereka sekarang berada di rumah yang baru karena rumah mereka yang lama sudah dikontrakkan untuk menjadi aset masa depan keluarga.

Kevin masih belum terbiasa dengan lingkungan perumahannya yang baru. Masih belum ada  teman sebaya yang dia kenal, padahal hampir tiap pagi dan sore dia melihat belasan sebayanya berlalulalang di depan rumahnya dan di taman perumahan.

Sore ini, seseorang mengalihkan perhatiannya. Seorang cewek. Biasa saja. Tapi berbeda. Cewek itu terduduk di bangku taman, tepat di bawah pohon besar yang entah sudah berumur berapa ratus tahun yang mungkin sengaja tidak ditebang ketika pembangunan perumahan. Cewek itu terduduk dengan sebuah buku di tangannya. Tidak ada yang dapat mengalihkan perhatiannya dari buku yang sedang dibacanya. Puluhan orang hilir mudik di hadapannya, tapi dia seakan hanya seorang diri, tidak memedulikan sekitarnya.

Kevin memperhatikannya dan terus memperhatikannya.

*****

Ternyata Kevin tidak pernah berhenti memperhatikan cewek itu. Bahkan tiada sorenya tanpa ke taman hanya untuk memperhatikan gerak-gerik dari seorang cewek yang kerjaannya hanya membaca dan membaca berbagai buku yang berbeda tiap dua harinya. Kevin bahkan sudah hafal di luar kepala jadwal cewek itu ke taman.

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Kevin masih tetap memperhatikan cewek itu tanpa berani menyapanya. Seperti sore ini.

“Kev, mau kemana?” tanya Mama Kevin ketika melihat Kevin yang sudah mulai beranjak keluar dari rumah.

“Mau ke taman, Ma,” jawab Kevin.

“Kamu ngapain sih, tiap sore ke taman?” Mama mulai menginterogasinya.

“Mmm, cari angin aja, Ma,” alasan Kevin yang sudah tidak sabar ingin segera ke taman.

“Emangnya angin di rumah kita kurang banyak?” canda Mama.

“Hahaha,” tawa Kevin. “Biasa, Ma, anak muda,” lanjut Kevin yang langsung pergi, jangan sampai Mamanya bertanya lebih lanjut lagi.

Dalam hati Mamanya bersyukur, Kevin sudah kembali menjadi dirinya sendiri. Bukan lagi Kevin yang pernah dia lihat frustasi dan depresi hanya karena cintanya yang mati. Cinta yang mati-matian dia kejar tapi malah berakhir dengan perpisahan yang tidak mengenakkan.

Ketika sampai di taman, Kevin langsung duduk di bangku taman yang selalu dia duduki tiap sore hanya untuk memperhatikan cewek yang itu-itu saja, padahal ada banyak cewek yang berseliweran di depannya. Kevin sendiri tidak tahu kenapa dia selalu ingin memperhatikan cewek misterius itu. Bahkan untuk mengetahui dimana dia tinggal dan siapa namanya saja, Kevin tidak peduli. Hanya saja, Kevin sangat senang melihat ekspresi cewek itu ketika sedang serius membaca, mengabaikan sekitarnya, dan ketika musim kemarau.

Ketika daun-daun pohon berguguran, hanya itu yang mampu mengalihkan perhatiannya dari buku di tangannya.  Ketika daun-daun pohon berguguran, kepalanya akan mendongak ke atas seakan ingin merasakan siraman dedaunan yang jatuh menimpa kepalanya. Tidak jarang dia mengambil selembar daun dan menulisinya. Setiap kali dia sudah menulisi daun, daun itu dia taruh begitu saja di kursi taman seperti daun-daun gugur lainnya. Dan setiap kali itu pula, Kevin akan mencari daun yang dia tulisi untuk melihat apa yang dia tulis ketika dia sudah beranjak dari duduknya.

Hanya satu kata yang tertulis di daun itu. Cinta.

Ya, hanya itu yang tertulis. Entah apa maksudnya. Kevin penasaran, tapi dia tak ingin bertanya pada siapapun. Dia akan mencari tahu. Kevin belum sadar kalau dia terpesona dengan keanggunan yang tidak biasa.

“Kev, ngapain kamu?” tanya Tryan yang baru saja muncul dengan tiba-tiba. Tryan teman sekompleks Kevin yang sudah akrab dengannya beberapa minggu belakangan karena seringnya bertemu di taman.

“Ah, nggak ngapa-ngapain,” jawab Kevin yang mulai salah tingkah karena mengira dirinya ketahuan sedang memperhatikan anak gadis orang.

“Bohong, dari tadi kita perhatiin, kamu ngeliatin Nessa terus,” kata Raka, teman Kevin yang lain.

“Nessa?” bingung Kevin.

“Iya, Nessa. Cewek yang lagi baca buku di sana itu kan?” tangan Raka menunjuk ke arah cewek yang selalu menarik perhatian Kevin itu.

Jadi namanya Nessa, batin Kevin.

“Udah, kamu ngaku aja. Dari awal kenal kamu juga, kita udah tau kalau kamu selalu merhatiin si Nessa,” terang Tryan sekenanya.

“Oke, aku emang selalu merhatiin cewek yang bernama Nessa itu,” aku Kevin yang tidak dapat mengelak lagi.

“Kamu suka sama dia?” tanya Tryan langsung pada intinya.

“Ha? Aku nggak suka sama dia, aku cuma suka ngeliat dia aja,” kata Kevin.

“Ya, sama aja kali,” kata Raka yang sekarang sudah duduk di samping Kevin.

“Apanya yang sama? Aku sekedar suka ngeliat dia aja, bukan suka yang lebih,” Kevin mati-matian berusaha meyakinkan teman-temannya kalau dia tidak menyukai Nessa.

“Kamu suka ngeliatin dia karena apa?” tanya Tryan.

“Karena …,” Kevin berpikir. Tidak mampu menjawab.

“Berarti kamu suka sama dia,” sambung Raka langsung.

“Aku nggak tau deh, kalau ini yang dinamakan suka,” Kevin tidak dapat membantah lagi.

“Mau tau cerita tentang si Nessa yang pendiam dan misterius itu nggak?” tanya Tryan.

Kevin jadi sangat penasaran. Ada apa dengan Nessa sampai Tryan ingin menceritakan sesuatu tentang Nessa padanya? Pertanyaan itu membuat Kevin mengatakan iya pada Tryan.

Tryan pun bercerita tentang Nessa dengan beberapa kali diselingi oleh Raka yang tidak mau kalah ingin bercerita tentang apa yang mereka ketahui tentang Nessa yang ternyata cucu dari pemilik perumahan yang mereka tinggali.

Selama mendengarkan Raka dan Tryan bercerita, sesekali kepala Kevin berbelok untuk melihat ke arah Nessa. Entah berapa lama Tryan dan Kevin bercerita, yang pastinya ketika Kevin berbalik untuk melihat Nessa untuk yang kesekian kalinya, Nessa sudah tidak ada.

Dari cerita Tryan dan Raka, Kevin tahu kalau Nessa adalah cewek dari keluarga yang broken home. Kedua orangtuanya cerai, itulah mengapa dia memilih untuk tinggal bersama kakek-neneknya. Dan dari cerita kedua temannya itu pula, Kevin tahu, ternyata yang tertarik dengan Nessa bukan hanya dirinya, tapi hampir semua cowok di perumahan tempat tinggalnya. Termasuk Tryan. Tapi sayang semuanya ditolak. Tidak ada yang tahu kenapa mereka ditolak oleh Nessa, karena ketika mereka menyatakan cinta, Nessa hanya memandangi mereka, mengatakan maaf, lalu kemudian pergi begitu saja. Mereka pun berspekulasi kalau Nessa trauma dengan kehancuran rumah tangga orang tuanya sehingga tidak ingin berpacaran.

Tapi Kevin tidak meyakini spekulasi mereka. Kevin membaca sendiri tulisan tangan Nessa di daun itu dan dia yakin, itu tanda kalau Nessa tidak trauma dengan cinta dan ingin merasakan cinta.

*****

Keesokan harinya di taman, Kevin mengutarakan niatnya untuk berbicara pada Nessa pada teman-temannya.

“Jangan!” Raka dan Tryan langsung melarangnya.

“Kenapa?” alis Kevin terangkat sebelah.

“Percuma. Kamu bakal gondok karena dicuekin,” kata Raka.

“Biar kamu ngomong sepanjang apapun dan bicara dengan suara yang sekeras apapun, dia nggak bakal menjawab kata-katamu,” sambung Tryan.

“Kok bisa gitu?” Kevin makin heran.

“Ya, bisa aja, kalau kamu berhadapan sama cewek-manis-tapi-dingin kayak Nessa,” jawab Raka.

“Terus, gimana caranya supaya aku bisa kenalan sama dia?”

Raka dan Tryan pun mulai memikirkan cara untuk membantu teman mereka yang satu ini. Memikirkan semua cara yang mungkin dilakukan oleh Kevin untuk berkenalan dengan Nessa tanpa dicuekin seperti korban-korban yang sebelum-sebelumnya.

“Aha!” sebuah bola lampu seakan berpijar di kepala Raka membuat Kevin dan Tryan langsung memperhatikannya. “Kamu datangin aja rumahnya,” usul Raka.

Tryan menoyor kepala Raka. “Bego. Siapa Kevin, main datang ke rumah orang cuma buat kenalan? Kurang kerjaan tau. Yang ada Kevin malah bakal langsung diusir sama Nessa,” kata Tryan. “Kenapa kamu nggak sekalian aja bilang datengin rumahnya sambil bawa bunga dan surat cinta?” Tryan malah jadi ngomel.

“Ih, kok kamu malah ngomel sih? Itu kan cuma sekedar usul, diterima alhamdulillah, nggak diterima ya, nggak apa-apa. Nggak usah pakai urat, Mas,” ujar Raka.

“Eh, tunggu bentar, tadi Tryan bilang surat cinta kan?” Kevin seakan baru menyadari sesuatu.

“Iya, emang kenapa? Kamu mau ngirim surat cinta buat Nessa?” tanya Tryan. “Nggak usah deh, yang nembak langsung di depannya aja ditolak apalagi yang lewat surat cinta di jaman IT kayak gini. Bisa langsung dirobek tuh,” belum sempat Kevin menjawab, Tryan sudah nyambung lagi.

“Bukan, aku bukan mau ngirim surat cinta, tapi surat kenalan.”

“Tapi mau disampein lewat mana dan siapa?” tanya Raka.

“Iya, ya?” Kevin bingung lagi.

“Lewat Widy aja,” ucap Tryan.

“Widy?” Kevin tidak mengenal Widy.

“Satu-satunya sahabat Nessa dan orang yang nggak bakal dicuekin sama Nessa,” jelas Raka.

“Kalau gitu, malam ini aku akan tulis suratnya dan besok, kalian tolong antar aku ke rumahnya Widy ya.”

“Yoha, brother,” sahut Raka dan Tryan berbarengan.

*****

To Nessa

Sebelumnya, aku minta maaf karena menyapamu lewat surat. Aku sengaja menulis surat ini hanya karena ingin, bisa kamu bilang, berteman denganmu. Soalnya, teman-temanku bilang kamu nggak pernah mempedulikan orang yang bicara langsung di hadapanmu.

Aku bukan bermaksud untuk menggombal atau semacamnya, tapi aku sangat menyukai ekspresimu ketika sedang membaca buku, bagaimana kamu tidak peduli dengan hiruk-pikuk di sekitarmu, dan bagaimana kamu mendongakkan kepalamu ketika daun-daun berguguran di musim kemarau.

Mmm, sebenarnya, aku selalu melihatmu menuliskan sesuatu di daun dan aku sudah membacanya. Boleh aku tahu maksud kamu menulisnya? Jangan berpikiran yang macam-macam ya, aku hanya ingin berteman denganmu karena aku tahu kamu tidak sedingin yang orang-orang katakan.

Boleh kan kita berteman?

Kevin

*****

“Hmm, jujur aja ya, aku nggak bisa menjamin surat ini bakal dibaca, karena bukan nggak mungkin surat ini bakal langsung masuk ke tempat sampah kalau beruntung nggak sampai dirobek-robek sama Nessa,” kata Widy sesaat setelah menerima amplop surat dari Kevin dan mendengar cerita Raka dan Tryan tentang Kevin yang selalu memperhatikan Nessa sampai berbulan-bulan yang membuat wajah Kevin memerah menahan malu.

“Yang penting surat itu sudah nyampe di dia, aku sudah berterimakasih banget sama kamu,” kata Kevin.

“Kalau kamu udah ngomong gitu sih, entar malam pasti aku sampein ke dia,” Widy pun setuju untuk menyampaikan surat itu pada Nessa.

Malamnya, Widy benar-benar menepati janjinya dan mengantarkan surat Kevin itu ke rumah Nessa yang sebenarnya tepat berada di samping rumahnya.

“Jangan dirobek dulu, Nes. Baca dulu. Nih anak kayakny serius suka sama kamu. Dia sampai bela-belain nulis surat buat kamu karena tau kamu bakal nyuekin dia kalau dia sampai berani ngomong langsung di depanmu,” nasihat Widy pada Nessa setelah memberikan surat Kevin pada Nessa.

Sepulang Widy, Nessa memandangi surat di tangannya. Sebenarnya, seperti surat-surat lainnya, Nessa sudah hampir akan merobeknya dan melemparnya ke tempat sampah, kalau bukan Widy yang menyuruhnya untuk membacanya dulu. Jadilah Nessa membaca surat itu.

*****

Seperti sore-sore kemarin, sore ini, Kevin kembali nongkrong di taman. Tapi sayang, ketika Kevin sampai tidak ada Nessa di bangku yang biasa ditempatinya duduk untuk membaca. Kevin celingukan mencari Nessa, mungkin Nessa mencari tempat baru untuk duduk, pikirnya. Tapi diputar berapa ratus derajat pun, ke arah manapun, mata di kepalanya tetap tidak menangkap sosok Nessa di taman.

Kevin menghela nafasnya. Ingin mencari Nessa, tapi mau mencari dimana Kevin tidak tahu. Rumah Nessa saja, dia tidak tahu. Baru kali ini Nessa tidak datang ke taman. Kevin pun mulai menghubung-hubungkannya dengan surat yang dia kirimkan buat Nessa.

“Apa dia merasa terganggu ya, karena tahu aku selalu memperhatikan dia?” gumam Kevin pada dirinya sendiri.

Angan Kevin pun mulai mempermainkannya. Membuat dia mengingat kembali masa lalunya. Masa lalu cintanya. Ketika dia masih bersama Putri. Putri yang sekarang mungkin sudah di surga bersama para malaikat mengamatinya yang sekali lagi patah hati. Putri yang disayanginya setengah mati tapi harus meninggalkannya dengan cepat karena tidak mampu melawan kanker darah yang di deritanya.

Nessa sudah membuatnya hampir melupakan semua kesedihannya. Tapi sekarang, Nessa menghilang entah kemana setelah semalam dia mengirimkan suratnya.

Baru saja Kevin akan meninggalkan taman, tapi kemudian sebuah suara menghentikan langkahnya.

“Hei! Kamu Kevin kan?” panggil dan tanya suara itu.

Kevin tidak mengenal suara itu, tapi dia yakin tidak salah dengar kalau namanyalah yang barusan disebut. Kevin pun berbalik.

“Kamu Kevin yang ngirim surat ke aku kan? Aku Nessa. Kamu tau kan?” lanjut cewek yang sekarang sedang berhadapan dengan Kevin.

Hati Kevin berdebar tidak karuan. Cewek yang selalu dia perhatikan berbulan-bulan, cewek yang mencuri perhatiannya hanya dengan duduk terdiam dan sedikit mendongak, cewek yang kata teman-temannya sangat dingin terhadap orang lain selain sahabatnya, cewek yang membuatnya melawan perkembangan jaman dengan mengirimkan surat disaat semua orang saling berkirin pesan lewat hape dan e-mail, cewek yang sudah membuatnya hampir melupakan kesedihannya ditinggal Putri, dan cewek yang membuatnya mencari-cari sedari tadi kini berdiri di hadapannya sambil tersenyum.

Kevin tahu, Nessa menerimanya sebagai temannya. Senyum itu sudah berkata. Inilah kesempatan Kevin untuk menanyakan jawaban dari pertanyaan dalam suratnya. Kevin tahu, Putri sudah merestui keputusannya dari surga. Dan Kevin tahu, kalau dia tidak menjawab Nessa, dia akan membuang kesempatan emas untuk mengenal Nessa lebih dekat. Mungkin sekarang hanya sekedar teman, tapi siapa yang tahu nanti.

“Hai! Iya, aku tau kamu Nessa dan benar aku Kevin. Kamu sudah baca suratku?”

*****

6 pemikiran pada “To Nessa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s