Metropolitan In Your Eyes


Malam ini sekali lagi aku telusuri kotaku yang indah. Kerlipan lampu neon dimana-mana seakan mengundangku untuk mengabadikannya dalam jepretan kamera digital bekas kesayanganku. Semua hal indah yang selalu bisa membuatku merasa menjadi pelukis warna yang handal karena tahu caranya menciptakan keindahan tanpa perlu bersusah payah dan bermandikan cat minyak.

Oh iya, maaf kalau aku langsung mulai bercerita tentang diriku. Perkenalkan, aku Aura. Hanya mahasiswi biasa. Seperti yang kalian baca di atas, aku sangat suka memotret. Ya, aku sangat ingin menjadi seorang photographer, tapi bukan photographer yang asal main jepret sana-sini saja. Aku tidak suka memotret orang, aku menyukai keindahan yang berbeda. Manusia memang indah, bahkan makhluk ciptaan Tuhan yang teridah, tapi aku melihat keindahan dari mataku, bukan mata Tuhan. Aku memotret apa yang ingin aku potret, sesuatu yang bisa bercerita lewat warna, bisa berbicara lewat gambar.

Tapi sayang, pandanganku ini ditolak oleh banyak orang. Bahkan, perkumpulan photographer kampus pun tidak mau menerimaku. Mereka bilang, manusia adalah objek terbaik dari sebuah karya foto dan mereka juga bilang, aku harus membuktikan kata-kataku dulu sebelum berniat bergabung dengan mereka. Oke, aku terima tantangan mereka, dan jadilah aku di sini bersama kameraku, menelusuri indahnya kota di malam hari mencoba mencari sesuatu yang mampu bercerita. Sesuatu selain pohon-pohon dan daun-daun yang selama ini selalu menjadi objek kebanggaanku.

Ternyata tidak semudah yang aku kira. Sesuatu yang aku cari itu sangat sulit ditemukan. Kota metropolitan ini terlalu besar, sulit untuk menemukan sesuatu yang berbeda dibalik semua yang pada dasarnya sudah homogen seperti ini. Dengan lemas ku dudukkan diriku di trotoar jalanan. Memandangi lalu lalang kendaraan berbagai merk melintas di depanku. Benar-benar metropolitan. Semua orang kaya.

Menikmati malam dengan cara ini benar-benar menyenangkan kalau saja pikiranku tidak dipenuhi dengan how to get something can speak to everyone? Nah, sekarang terjadi kemacetan. Bunyi klakson mulai terdengar sahut-menyahut seakan tidak mau kalah. Keadaan jadi semrawut. Ternyata, lampu merah di perempatan jalan mati, nggak ada polisi lalu lintas yang bertugas pula. Weleh-weleh, inilah kota metropolitan.

Seseorang menarik perhatianku. Dia keluar dari salah satu mobil bermerk  yang sudah dia parkir di pinggir jalan dan segera, sepertinya aku salah lihat, mengatur lalu lintas. Tapi, dia benar-benar melakukannya. Mengatur lalu lintas maksudku. Cowok dengan dandanan keren, dengan kendaraan kalangan upstair, mengatur lalu lintas? Ini bukan metropolitan. Sepertinya ada yang salah. Tapi, benar deh, dia sedang mengatur kendaraan yang masih nggak berhenti saling membunyikan klakson dan membuat jalan raya menjadi tempat perlombaan klakson-siapa-yang-bunyinya-paling-memekakkan-telinga.

Hampir saja aku akan menjepret cowok itu tapi kemudian aku sadar, aku nggak suka motret orang. Orang sudah terlalu sering bercerita, bukan sesuatu yang aku cari. Jadi, aku hanya memandanginya saja. Eh, tunggu dulu. Dia lagi ngeliatin saya ya? Atau saya yang ke-GR-an. Nggak! Dia benar-benar ngeliatin saya. Bukan. Saya ketangkap basah lagi ngeliatin dia. Tapi kenapa mesti saya? Padahal semua mata kan sedang terarah ke dia. Kenapa malah saya yang ditatap paling lama? Aduh! Terpaksa pura-pura motret.

Tunggu dulu! Benar juga. Motret kemacetan. Kenapa nggak kepikiran dari tadi ya? Sesuatu yang bisa bercerita. Kemacetan. Aku pun mulai memotret. Benar-benar memotret, bukan pura-pura memotret. Ketika kemacetan sudah tertangani, foto pun sudah aku dapatkan. Tapi, kalau cuma memotret kemacetan, belum bisa membuktikan apa-apa. Aku harus mencari lebih banyak lagi sesuatu yang bisa bercerita. Harus!

“Hei!” terdengar suara seseorang.

Sepertinya bukan aku yang dipanggil, jadi aku cuekin saja. Aku terlalu sibuk melihat hasil jepretanku di kameraku ini.

“Hei! Kamu cewek yang megang kamera,” katanya lagi.

Nah, kalau cewek yang megang kamera, aku boleh merasa. Aku nengok kiri dan kanan, nggak ada orang lain yang sedang memegang kamera. Aku pun berbalik ke arah suara itu.

“Saya?” tanyaku pada pemilik suara yang ternyata cowok keren yang tadi mengatur lalu lintas sampai jadi pulih dan nggak macet lagi.

“Iya, kamu,” ucapnya. “Ngapain motret-motret mobil?” tanyanya sambil berjalan menghampiriku.

“Kenapa? Emangnya salah?” aku bertanya balik karena menurutku caranya bertanya sangat nyolot.

“Nggak. Cuma tadi aku lihat kamu ngeliatin aku. Kenapa kamu ngeliatin aku?” cowok ini sepertinya seseorang yang nggak bakal pernah tersesat, nanyak melulu sih, daritadi.

Waduh, benar-benar ketangkap basah ngeliatin anaknya orang, batinku.

“Ya, nggak apa-apa. Aku cuma salut aja ngeliat sikap kamu yang langsung ngatur lalu lintas,” jawabku dengan sok cool.

Cowok itu terdiam sesaat dan tampak mengamatiku, dari atas ke bawah, dari bawah ke atas. Bikin risih aja.

“Kenapa ngeliatin aku kayak gitu?” sekarang aku ketularan dia jadi hobi nanyak juga.

“Kamu photographer ya?” tanyanya. Benar-benar hobi nanyak kan?

“Mmm, iya,” jawabku dengan ragu-ragu karena aku belum menjadi photographer, tapi baru merintis untuk menjadi seorang photographer.

“Wow, keren banget!” ekspresi yang benar-benar di luar dugaanku. Raut mukanya tampak takjub, terpesona, dan semacamnya. Emang jawabanku barusan sekeren itu ya?

“Ha?” aku pun jadi oon sendiri melihatnya seperti itu.

“Terus itu kameramu? Type apa?”

“Iya ini kameraku. Aku nggak tau type apa, aku kurang paham soal kamera, ini juga bekas, aku cuma tau motret aja,” kataku.

Selanjutnya, kami pun berkenalan. Namanya Dimas. Mahasiswa juga sepertiku. Dia ternyata juga sangat menyukai dunia photography, sepertiku juga. Kamu bercerita banyak tentang photography, tidak lupa aku ceritakan juga tentang pendapatku dalam memotret. Dia jadi tertarik untuk melihat hasil jepretanku selama ini yang tidak pernah sekalipun berobjekkan manusia. Kami pun janjian untuk bertemu keesokan harinya sambil membawa hasil jepretan kami masing-masing.

Keesokan harinya, kami benar-benar bertemu lagi. Seperti yang sudah dijanjikan, kami bertemu di salah satu kafe yang terkenal sebagai tempat ngumpulnya para photographer. Tidak salah kalau kafe ini dijadikan tempat ngumpulnya para photographer, penataannya artistik banget, membuat tangan gatal untuk memotret. Jelas aja sih, secara yang punya kafe juga seorang photographer.

Aku memperhatikan semua hasil jepretannya. Dari semua foto di tanganku, aku tahu dia hanya memotret kehidupan jalanan. Berbagai grafity, baik gambar maupun cahaya, dia potret. Aku paling suka foto tentang grafity cahaya. Aku kira orang Indonesia nggak bisa membuat yang sekeren itu, tapi foto ini sudah membuktikan kalau negeri kita juga bisa.

Dia juga tampak serius memperhatikan foto-foto hasil jepretanku.

“Ini kamu pakai kamera bekas itu?” tanyanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari foto-fotoku.

“Iya,” jawabku. “Emang kenapa?”

“Pakai pengaturan cahaya nggak?” tanyanya lagi.

“Nggak. Aku nggak mikir soal cahaya kalau motret. Aku motret apa adanya aja.”

“Keren! Kamu tau nggak kalau foto-foto kamu keren banget?” pujinya yang sekali lagi membuatku kaget dengan ekspresinya yang tidak terduga.

“Oh ya? Perasaan biasa aja. Orang-orang di kampusku malah bilang nggak masuk kriteria,” ujarku.

“Bego tuh, orang-orang. Maha karya kayak gini masa dibilang nggak bagus sih?” protesnya. Aku tertawa saja mendengarnya.

Baru kali ini ada yang memuji hasil jepretanku, selain diriku sendiri. Aku senang, terharu dalam hati.

“Aku paling suka foto yang ini nih,” dia memperlihatkan padaku fotoku yang paling dia sukai, foto yang aku ambil beberapa bulan lalu. Foto sebuah jalan di samping sebuah danau dengan sebuah kursi panjang di sisi kirinya dan pohon besar yang menaungi jalanan di sisi kanannya. “Pencahayaannya keren banget! Ini benar-benar pencahayaan alami kan? Tanpa editan?”

“Yup! Tanpa sentuhan photoshop sedikit pun,” kataku dengan meyakinkan dan dia tersenyum, sekali lagi memandangi foto itu.

Waktu kami habiskan dengan bercerita tentang foto-foto yang kami potret. Aku juga, tentu saja, memuji karyanya yang memang benar-benar keren. Kehidupan jalanan yang bebas dan penuh kreasi. Imajinatif yang liar.

Hari-hari berikutnya, aku dan Dimas pergi mencari gambar berdua. Dia mengusulkan agar aku memotret kehidupan metropolitan. Tapi bukan tentang clubbing-nya, gaya hidup high class-nya, bukan juga tentang mal-malnya, tapi tentang kenyataan yang tersembunyi di baliknya.

Setelah beberapa minggu berlalu, akhirnya aku sudah mengumpulkan cukup banyak foto untuk aku tunjukkan. Semua aku tunjukkan pada para anggota organisasi photography di kampusku. Mereka tampak tidak percaya dengan apa yang aku foto. Beberapa tampak mencibir, menganggap apa yang aku potret hanya hal murahan yang nggak bernilai, terlalu biasa kata mereka.

Ketua organisasi melihat hasil jepretanku paling terakhir. Dia mempersilahkan anggotanya untuk melihat duluan dan memberikan pendapat mereka.

“Kamu diterima,” katanya kemudian.

Aku ternganga, mataku membulat kaget dengan apa yang barusan dikatakan ketua organisasi. Begitu pula para anggota yang lain, mereka kira mereka salah dengar.

“Kamu sekarang anggota dari club photography kampus kita,” katanya dengan bijak sambil tersenyum padaku dan menyodorkan tangan kanannya ke depanku.

Masih dengan ekspresi tidak percaya, aku membalas untuk menjabat tangannya.

“Terima kasih,” kataku dengan senang setelah berhasil mengatasi kekagetanku.

“Kenapa dia diterima?” protes salah satu anggota organisasi.

“Iya, kenapa dia diterima? Padahal fotonya sama sekali tidak ada seninya,” cela anggota yang lain.

“Kalian yang tidak bisa melihat seni,” kata ketua organisasi dengan galaknya. “Kalian lihat, foto ini nggak dibuat-buat seperti foto-foto kalian yang selalu ada editannya, sedangkan dia, alami. Kalian pikir saya tidak tahu mana yang bagus mana yang jelek?” sekarang ketua jadi tampak benar-benar garang, seperti seorang bapak yang sedang memarahi anaknya yang kedapatan nyolong di rumah tetangga.

Semua anggota organisasi tertunduk mendengar kata-kata ketua. Aku tidak harus berbuat apa dan hanya bisa mematung.

“Adakan pameran. Kita pajang karya anggota baru kita,” katanya kemudian. “Selamat datang, anak baru!” katanya padaku sambil tersenyum ramah, beda dengan dulu ketika pertama kali aku datang dan mengutarakan teoriku tentang photography. Dulu dia tampak sangat tidak suka dengan teoriku, tapi sekarang, aku rasa dia sudah menerimanya.

Sepulang dari kampus, aku langsung menemui Dimas. Dia ikut senang mendengar aku diterima menjadi anggota club photography di kampusku. Aku juga menceritakan padanya, bagaimana ketua memarahi para anggota organisasi yang lain dan menyuruh mereka mengadakan sebuah pameran yang akan memajang karyaku. Dimas sungguh tampak sangat senang, seakan dia adalah aku yang merasakan sendiri bahagia itu.

Kemudian, tanpa aku duga, Dimas menyatakan cintanya padaku. Ini di luar dugaanku. Tapi, mau diapa lagi, aku juga menyukainya. Dia sangat menghargaiku. Kami punya banyak kesamaan dan aku menyayanginya. Kami pun jadian.

Beberapa bulan kemudian, pameran itu benar-benar terlaksana. Foto-fotoku dipajang semua. Foto-foto yang aku dapatkan atas usul Dimas. Foto rumah-rumah kumuh yang terdapat di belakang jejeran apartment, foto kepulan asap dari pabrik-pabrik barang-barang bermerk, foto sebuah mobil mewah yang kebetulan bersebelahan dengan sebuah angkutan umum, dan lain sebagainya. Tapi yang menjadi diva malam itu adalah foto kemacetan di malam aku pertama kali bertemu dengan Dimas yang sekarang menjadi sahabat, pacar, sekaligus partner-ku dalam memotret. What a wonderful life!