Cinta HARUS Memilih


SMA Harapan Bangsa hari ini sangat ramai. Semua murid berkumpul di lapangan sambil berteriak-teriak memberikan dukungan, khususnya para siswi. Sekolah mereka minggu ini memang sedang mengadakan porseni dan hari ini adalah final team basket. Tentu saja, semua jadi semangat mendukung team yang mereka unggulkan.

Lia pun tidak mau ketinggalan. Dia bersama teman-teman se-gank-nya tidak pernah ketinggalan event sekolah yang seru kayak gini. Sekarang saja mereka sudah berdiri di pinggir lapangan meneriakkan nama Bayu.  Cowok anggota team basket sekolah dan team basket kelas sebelah yang cakepnya minta ampun.  Ditambah lagi, ada yang bilang Bayu naksir berat sama Lia. Wuih, tambah heboh deh, teman-teman Lia.

Sekarang Bayu akan melakukan shoot three-point yang paling menetukan teamnya akan menang atau kalah. Bayu membuat semua orang jadi deg-degan. Saat semua orang sedang serius-seriusnya memperhatikanna, dia malah berhenti sejenak untuk berkata, “Kalau tembakanku masuk, berarti tembakan ini untuk seseorang yang aku sayang banget.”

So sweet,” cewek-cewek jadi mabuk kepayang karena kata-kata Bayu, yang meskipun buat mereka tetap aja memambukkan.

Bayu sempat mengedipkan sebelah matanya ke arah Lia sebelum menembakkan bolanya dan tentu saja masuk dan membuat team Bayu menang gemilang, membuat semua murid yang tadinya berada di pinggir lapangan, tumplek-numplek di lapangan.

“Li, tadi dia ngedipin mata buat kamu, tuh,” kata Pipit, salah satu teman se-gank Lia sambil menyenggol lengan Lia.

“Ih, apaan sih? Belum tentu itu buat aku,” ucap Lia meskipun dalam hatinya dia sangat berharap itu untuk dia.

“Udah deh, itu pasti buat kamu say,” sambung Pipit.

Bayu terlihat berjalan menghampiri Lia dan teman-temannya setelah sebelumnya dieluk-elukkan oleh anak-anak satu sekolah dan terutama teman sekelasnya.

“Gimana permainanku?” tanya Bayu pada Lia. Hanya pada Lia.

“Mmm, bagus banget,” puji Lia dengan malu-malu.

“Bagus deh, kalau kamu suka. Aku usaha main bagus buat kamu,” katanya sambil tersenyum manis.

Lia jadi makin malu setelah Bayu berkata seperti itu.

“Eh, aku ke kelas dulu ya. Da,” katanya kemudian dan melangkah pergi setelah Lia mengangguk dan teman-teman Lia mengatakan, “Da, Bayu,” dengan hebohnya.

“Ciee, Lia. Dia main bagus buat kamu, tuh!” goda teman-teman Lia yang membuat muka Lia yang sudah merah jadi makin merah.

Apa bener dia main buat aku? Batin Lia.

*****

Sepulang dari sekolah, teman-teman Lia mengajaknya untuk jalan ke mal karena mereka sudah lama tidak nonton bareng. Karena hari ini mereka pulang cepat –secara cuma porseni doang – ya mereka pun ke mal ramai-ramai deh.

Mereka benar-benar menikmati kebersamaan mereka. Jajan bareng, tertawa-tawa, ngegosip, dan semua-semuanya yang biasa dilakukan para cewek kalau lagi ngumpul sebelum akhirnya mereka menuju ke bioskop yang ada di mal itu.

Hanya sebagian dari teman-teman Lia yang ngantri, sisanya nunggu di salah satu sudut bioskop yang ada sofanya. Mereka masih menikmati kebersamaan mereka sebelum akhirnya sesuatu tertangkap oleh ekor mata salah satu teman Lia.

“Li, itu Bayu kan?” tanya Tasya, salah satu teman Lia sambil menunjuk seorang cowok yang juga sedang antri. Seorang cowok yang masih memakai celana basketnya dan sudah berganti baju menjadi sebuah kaos oblong santai.

“Iya, itu Bayu. Ngapain ya, dia di sini?” bukan Lia yang menjawab, tapi Pipit. “Samperin, yuk!” ajak Pipit yang sudah hampir membuat Lia berdiri dari duduknya.

“Jangan, Pit, nanti dia lagi sama teman-temannya. Kan nggak enak kalau kita ganggu,” tahan Lia dengan penuh pengertian.

“Iya deh, Bu,” Pipit pun mengalah meskipun dia sebenarnya sangat ingin nyamperin Bayu, siapa tahu Rezky, teman Bayu yang jadi kecengannya, juga ada.

Setelah beberapa saat memperhatikan Bayu, seorang cewek datang. Bukan menghampiri Lia dan teman-temannya, tapi menghampiri Bayu yang sedang antri. Memang bioskop sedang ramai hari ini karena sedang ada premiere film baru. Cewek itu menghampiri Bayu dan langsung memeluk pinggang Bayu sambil menyerahkan sebotol coke ke Bayu yang kemudian menerimanya dan mengucapkan terima kasih dengan sebuah kecupan di kening cewek yang entah siapa itu.

Hati Lia hancur. Teman-teman Lia hanya dapat melongo menyaksikan tontonan gratisan yang nggak mereka sangka-sangka akan mereka dapatkan itu. Tanpa menunggu lebih lama dan lebih hancur lagi, Lia meninggalkan bioskop dan teman-temannya, dan ketika teman-temannya tersadar, Lia sudah tidak ada. Terang aja mereka panik. Setelah itu, mereka lalu pergi mengejar Lia dan memutuskan untuk tidak nonton dulu hari ini.

Lia yang sudah melarikan diri dari teman-temannya hanya bisa menangis di dalam taksi yang sedang mengantarnya pulang ke rumah. Supir taksi hanya dapat melihatnya dari spion, tidak mampu berkata-kata. Dasar anak muda, mungkin begitu pikirnya.

*****

Beberapa bulan kemudian …

Setelah kejadian di bioskop itu, Lia selalu berusaha untuk menjaga jarak dengan Bayu, tidak mau lagi termakan kata-kata manis Bayu yang pernah membuatnya jatuh cinta.

Tapi kali ini, dia nggak bisa menghindari Bayu yang jelas-jelas sudah berdiri di depannya dan mencegat langkahnya.

“Kamu nggak bisa menghindar lagi, Li,” kata Bayu yang sangat sadar kalau dia dihindari oleh Lia.

“Kamu mau apa?” tanya Lia tanpa mau melihat wajah Bayu dan hanya melihat ke arah lain.

“Tolong jelasin ke aku,kenapa kamu menghindari aku sampai berbulan-bulan kayak gini?” Bayu langsung pada inti.

“Kamu nggak perlu tahu kenapa aku menghindari kamu. Hak aku untuk dekat atau jauh sama seseorang,” kata Lia.

“Tapi pasti ada alasannya kan?” Bayu nggak mau menyerah.

“Kamu NGGAK PERLU tahu!” Lia langsung saja berlalu meninggalkan Bayu yang juga tidak bisa mengejarnya karena Bayu tahu itu juga pasti percuma.

Bayu pun mencari cara lain untuk mengetahui kenapa Lia menjauhinya sampai selama ini. Bayu pun memutuskan untuk bertemu dengan salah satu teman Lia, Pipit, karena Pipitlah yang paling akrab dengan Lia.

Pipit bersedia untuk menjawab semua pertanyaan Bayu, karena dia sendiri sebenarnya tahu kalau Lia tidak senang berjauhan dengan Bayu seperti ini hanya saja gengsinya selalu memenangkan hatinya. Pipit pun menjelaskan semuanya.

Bayu pun mengakui kalau cewek itu memang pacarnya, tapi dia juga menyayangi Lia. Pipit tidak bisa menerima jawaban itu dan langsung saja meninggalkan Bayu karena cowok itu benar-benar plin-plan, tidak bisa memilih di antara dua hati. Karena biar bagaimanapun, harus ada satu yang dipilih, tidak bisa dua-duanya.

*****

Bayu sedang bersama pacarnya mala mini, kebetulan malam ini malam minggu. Nita nama pacar Bayu. Nita berasal dari sekolah yang berbeda.

Malam ini mereka tidak nonton seperti malam-malam minggu sebelumnya. Bayu merasa bosan dengan suasana mal yang begitu-begitu saja, jadi dia memutuskan untuk bermalam minggu di pinggir jalan saja. Saga alias sate gaul, tempat yang ia dan Nita datangi untuk malam minggu kali ini.

Nita merasa ada yang aneh dengan Bayu malam ini. Bayu lebih banyak melamun daripada mendengarnya bercerita, beda dengan kemarin-kemarin. Nita yakin ada sesuatu yang Bayu sembunyikan.

Ketika Bayu pergi buang air kecil di salah satu toko kelontong, Nita pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencaritahu masalah Bayu dengan mengutak-atik hapenya yang selama ini sangat tidak ingin Bayu tunjukkan pada Nita. Ya, Bayu tidak pernah mau Nita melihat isi hapenya. Dan hapenya selalu tersimpan di dasbor mobil.

Dengan perasaa-takut-ketahuan, Nita pun mulai membuka-buka semua file di hape Bayu. Dia menemukan sesuatu yang sangat mencurigakan. Foto seorang cewek. Bukan hanya satu, tapi beberapa dalam berbagai pose. Berdasarkan salah satu judul foto, Nita tahu nama cewek itu. Nita pun langsung mencari nomor hape cewek itu di daftar telepon hape Bayu dan langsung menghubunginya untuk mengajak bertemu.

Ketika Bayu kembali, semua sudah kembali ke tempatnya masing-masing. Tidak ada yang mencurigakan sedikit pun.

*****

Lia tidak tahu siapa cewek yang semalam menghubunginya dan mengajaknya bertemu. Nomornya tidak dia kenal, dan yang paling membuat bertanya-tanya, dia bilang ada sesuatu yang penting yang ingin dia bicarakan.

Jadi, Lia pun datang memenuhi janji ketemuannya dengan cewek misterius itu di salah satu kafe sepulang sekolah. Lia duduk di salah satu meja. Setelah memesan segelas jus melon, Lia duduk menunggu sambil memperhatikan sekelilingnya. Tiba-tiba masuk seorang cewek yang juga masih berseragam sekolah seperti dirinya. Lia merasa pernah melihat cewek itu, tapi dia lupa dimana. Cewek itu juga sepertinya melangkah ke arahnya dan memang berhenti tepat di mejanya.

“Kamu Lia, kan?” tanyanya.

“Iya, saya Lia. Kamu yang semalam nelpon saya, ya?” Lia bertanya balik sambil mendongakkan kepalanya ke atas karena cewek itu nggak duduk di kursi di depannya dan malah memilih untuk tetap berdiri.

“Iya, saya yang nelpon kamu,” jawab cewek itu. “Langsung aja ya, aku mau kamu jauhin pacarku!” tambahnya.

“Pacar kamu?” bingung Lia. “Pacar kamu yang mana ya?” Lia tentu saja tidak mengenal pacar cewek di depannya ini, kenal cewek ini saja tidak,apalagi pacarnya.

“Bayu. Dia pacarku, dan aku nggak mau kamu dekat sama dia. Jelas?” Nita mengulang kata-katanya yang jelas-jelas sebuah perintah.

Lia baru sadar. Dia pernah melihat cewek ini di bioskop beberapa bulan yang lalu bersama Bayu. Dia pacar Bayu.

Lia tidak bisa berkata apa-apa.

“Aku akan sangat berterimakasih banget kalau kamu mau dengar kata-kataku.” Cewek itu langsung pergi begitu saja meninggalkan Lia yang masih tidak tahu harus berbuat apa.

*****

Keesokan harinya, Pipit dan teman-teman Lia yang lain pun langsung mendatangi Bayu setelah mendengar cerita Lia tentang pertemuannya kemarin dengan pacar Bayu yang memintanya untuk menjauhi Bayu. Menurut Pipit, itu namanya main hakim sendiri.

Bayu yang tidak mengerti apa-apa diminta untuk membawa pacarnya sepulang sekolah nanti ke sekolah. Pipit hanya bilang ada sesuatu yang harus dia selesaikan hari ini juga.

Bayu hanya mengiyakan dan menjemput Nita sepulang sekolah. Nita sudah tahu apa yang akan terjadi, jadi dia hanya nurut saja ketika Bayu membawanya ke arah sekolah Bayu.

Di sekolah, Lia dan teman-temannya sudah menunggu tepat di tengah lapangan. Mereka jelas sedang menunggu kedatangan Bayu dan Nita.

“Ini ada apa sih?” tanya Bayu.

Pipit pun menjadi juru bicara dan menjelaskan semuanya pada Bayu. Bayu tampak tidak percaya dengan apa yang dikatakan Pipit dan hanya bisa memandang Nita yang tampak cuek di sampingnya.

“Sekarang kamu harus milih, Bay. Pacarmu atau Lia,” kata Pipit.

Bayu nggak bisa ngomong. Dia speechless. Nggak mungkin dia bisa memilih di antara dua cewek yang dia sayangi. Nita yang selalu ada buat dia dan Lia yang selalu bisa menarik perhatiannya.

“Kamu nggak usah milih, Bay. Aku mundur,” kata Lia kemudian yang memecah keheningan di sekolah yang sudah sepi itu.

Pipit dan teman-teman Lia yang lain tampak kaget dengan apa yang barusan dikatakan Lia.

“Nggak salah, Li, apa yang barusan kamu bilang?” protes Pipit.

“Nggak. Itu sudah jadi keputusanku,” ujar Lia dengan yakin.

“Aku juga mundur,” kali ini Nita yang bicara. “ Maaf, Bay, kita putus,” tambahnya dan langsung pergi meninggalkan Bayu, Lia, dan teman-teman Lia yang makin tidak percaya dengan semua kejadian ini.

“Aku nggak akan mengubah keputusanku,” kata Lia ketika teman-temannya memandanginya setelah kepergian Nita. Teman-temannya pikir, Lia akan mengubah pikiran setelah tahu Nita mundur. “Kamu nggak bisa milih, dan itu sudah cukup menjawab, Bay,” kata Lia sebelum akhirnya juga pergi meninggalkan Bayu dan teman-temannya.

Mereka yang tertinggal tampak tidak percaya dengan kejadian barusan. Tapi kemudian, Pipit dan teman-teman Lia yang lain pun menyusul Lia, meninggalkan Bayu yang masih melongo meratapi nasibnya yang ditolak oleh dua cewek sekaligus di waktu yang bersamaan.

“Li, kenapa kamu nolak Bayu?” tanya Pipit sewaktu dia dan teman-temannya yang lain berhasil menyamai langkah Lia.

“Alasan yang sama dengan Nita,” jawab Lia yang membuat teman-temannya bingung dan saling pandang. “Solidaritas cewek,” tambahnya sambil tersenyum ke arah seorang cewek di seberang jalan yang baru saja akan masuk ke dalam taksi sebelum membalas senyum Lia.

Cewek itu adalah Nita.

2 pemikiran pada “Cinta HARUS Memilih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s