Kamu Rebut, Aku Ambil Kembali !


Sorry, kita harus putus sekarang,” kata seorang cowok pada cewek di depannya yang sudah tampak ingin menangis.

“Tapi kenapa? Memangnya aku punya salah apa, sayang?” tanya cewek itu yang sekarang sudah tidak mampu lagi membendung air matanya.

“Maaf, aku menyayangi cewek lain,” ujar cowok itu yang kemudian dengan cueknya pergi begitu saja meninggalkan pacar yang baru saja ia putuskan. Cewek yang baru saja dia putuskan itu, cuma bisa berdiri, menangisi nasibnya yang diputuskan begitu saja karena cewek lain.

Dengan segala kemampuannya yang masih tersisa, cewek ini mencoba menyusul pacar yang baru saja memutuskannya itu untuk melihat cewek macam apa yang setega ini merebut pacarnya.

Sementara, mantan pacar si cewek sudah mendatangi pacar barunya dan menyapanya dengan mesra.

“Hai sayang,” sapanya pada cewek cantik yang sedang duduk menantinya di sebuah kafe.

“Hai,” balas cewek itu. “Kamu sudah mutusin Ela?” tanya cewek itu ketika cowok itu sudah duduk di depannya.

“Iya sayang. Buat cewek secantik kamu, apa sih, yang nggak?” gombal cowok itu sambil membelai rambut cewek itu.

“Makasih sayang,” katanya centil.

Dari kejauhan, Ela, cewek yang baru saja diputuskan, memperhatikan kedua orang yang sekarang menjadi orang yang paling dia benci. Belum pernah dia merasakan kebencian yang sebesar ini pada mereka berdua. Kesya, yang terkenal sebagai perebut pacar orang yang selama ini dia pikir nggak akan merebut pacarnya yang berbeda sekolah dengan mereka, ternyata adalah perusak hubungannya dan yang mencuri hubungannya. Ela bersumpah dalam hatinya untuk membuat Kesya jera.

Tidak tahan dengan semua yang dilihatnya, Ela pergi sambil memikirkan cara yang tepat untuk membuat Kesya menyesal sudah merebut pacarnya dan pacar cewek-cewek lain.

*****

“Ha? Kamu jadian sama Romeo? Si bintang basketnya SMA Borju?” kaget Nina, sahabat Kesya, setelah mendengar cerita Kesya kalau dia baru saja jadian dengan seorang cowok yang T-O-P B-G-T karena kepopulerannya yang terkenal sebagai seorang bintang basket.

“Iya,” singkat Kesya yang kemudian mengeluarkan cermin dari dalam tasnya dan kemudian memperhatikan dandanannya yang selalu perfect sejak fajar menyingsing hingga terbenam.

“Tapi, bukannya dia sudah punya pacar kan? Yang kapten team cheers itu,” bingung Nina makin menjadi-jadi mengingat Romeo sudah ada yang punya dan pacarnya itu juga tidak kalah populernya dengan cowoknya.

“Hello, kamu udah kenal aku berapa tahun sih, say? Kamu taulah, aku ngerebut dia. Hehehe,” kata Kesya dengan santainya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.

“Ya ampun, Kes. Kamu bener-bener ya, jahat banget,” komen Nina yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya itu. Selalu dan selalu saja merebut pacar orang, seakan nggak ada cowok lain yang bisa dijadikan pacar, seakan nggak ada hobi lain yang lebih menarik selain merebut pacar orang.

“Salah sendiri cewek-cewek itu nggak bisa jaga cowok-cowoknya sampe cowok-cowok itu dengan gampangnya tergoda sama rayuan aku,” kata Kesya dengan cuek bebek dan kemudian memoleskan lipgloss pink di bibirnya.

“Jangan gitu dong, Kes! Kalau kamu nggak menggoda, cowok-cowok itu juga nggak akan tergoda kan? Kamu bisa kena karma kalau kayak gini terus,” nasihat Nina yang sudah sering dia ulangi, tapi nggak pernah sekalipun didengarkan apalagi dipikirkan oleh Kesya.

Whatever! Aku nggak percaya di jaman IT kayak gini karma masih berlaku. Selagi muda, aku mau nikmatin semua yang bisa aku lakukan,” ujar Kesya dengan batunya.

Nina cuma bisa geleng-geleng kepala dengan sikap dan sifat sahabatnya yang sungguh amat sangat batu banget. Nina sudah nggak bisa menghitung berapa jumlah cowok yang sudah Kesya rebut dari ceweknya yang berarti sama dengan jumlah cewek yang membencinya setengah mati. Akibat dari kebiasaannya merebut pacar orang, Kesya langsung terkenal sebagai orang ketiga yang selalu diantisipasi oleh setiap cewek yang baru jadian.

Selain itu, Nina juga sudah nggak bisa menghitung berapa banyak cowok yang udah dia buang begitu aja seperti mainan yang kalau udah bosan langsung main tinggal begitu aja.  Dengan kata lain, tiap Kesya dapat mangsa baru, cowok yang baru saja dia rebut pun pasti akan langsung dia putuskan, sekalipun cowok-cowok itu memohon-mohon agar tidak diputuskan.

Dan Nina sudah kehabisan akal untuk menyadarkan sahabatnya itu kalau semua yang sudah dia lakukan itu adalah sebuah kesalahan besar yang bisa membuat dia menyesal. Nina cuma bisa menunggu Tuhan memberlakukan karmanya bagi Kesya supaya Kesya bisa cepat sadar.

*****

Malam ini Kesya jalan-jalan sendiri mengelilingi mal, soalnya Nina sedang ada acara keluarga jadi tidak bisa menemaninya bermalam mingguan. Ingin mengajak Romeo, tapi Romeo juga nggak bisa diharapkan karena nyokapnya mau melahirkan, jadi dia harus nemenin nyokapnya di rumah sakit sampai bokapnya balik dari Aussie, dan itu pun baru besok bokapnya baru bisa pulang. Terpaksa Kesya menghabiskan malam minggunya kali ini sendirian.

Setelah membeli satu cone ice cream, Kesya pun mengitari mal sambil memperhatikan etalase-etalase toko yang ada di mal. Semuanya keren dan hampir semua isi etalase itu ingin dimiliki oleh Kesya.

Ngedata dulu, ah! Terus minta Romeo ngebeliin, pikir Kesya yang kemudian masuk ke sebuah toko dan memulai hunting-nya mencari barang-barang menarik yang akan dimintanya pada Romeo.

Brakk !

Tanpa sengaja Kesya menabrak seseorang ketika keluar dari toko. Kesya terjatuh dan ice cream memenuhi bajunya.

“Hwaa!” Kesya jadi panik sendiri dengan keadaannya yang basah karen bajunya dipenuhi ice cream.

“Maaf, maaf, maaf,” kata seorang cowok yang tadi ditabrak Kesya sambil berusaha untuk membantu Kesya berdiri.

“Apaan maaf, maaf, maaf? Aku udah basah gini masih berani minta maaf!” kesal Kesya.

“Kan kamu yang nabrak aku, bukan aku yang nabrak kamu,” kata cowok itu.

“Tapi tetap aja aku basah dan ice cream-ku habis begitu aja,” Kesya masih tidak terima.

“Oke deh, ice cream-mu aku ganti,” kata cowok itu yang lebih memilih mengalah daripada dapat masalah.

“Bagus kalau kamu tahu diri,” ketus Kesya nggak ketulungan karena udah dongkol banget.

Kesya lalu berjalan duluan diikuti oleh si cowok di belakangnya menuju ke tempat Kesya membeli ice cream-nya. Sesampainya di tempat penjual ice cream, si cowok langsung memesan ice cream yang sama persis dengan milik Kesya yang tadi jatuh. Kesya menunggu dengan muka yang ketekuk tujuh karena BETE berat.

“Eh, kenalin, aku Rendra,” kata si cowok sambil menyodorkan tangannya pada Kesya yang tetap tidak mengubah raut muka juteknya ketika menerima uluran tangan si cowok.

“Kesya,” singkatnya.

“Kamu masih sekolah atau sudah kuliah?” tanya Rendra lebih lanjut.

“Sekolah.”

“Kelas berapa?”

“Kelas 3 SMA.”

“Kok jutek gitu sih?” tanya Rendra yang lama-lama jadi males juga kalau terus-terusan dijutekin.

“Masih sewot masalah ice cream,” jawab Kesya.

“Kan udah aku ganti. Tuh, lagi dibuat,” Rendra menudingkan jarinya ke arah tempat ice cream pesanan sedang dibuat.

“Iya, iya, makasih deh,” Kesya jadi merasa nggak enak juga padahal ice cream-nya sudah diganti.

So, boleh ngobrol nggak nih, ama kamu?” tanya Rendra yang lebih terdengar jahil.

“Boleh. Kalau ice cream-ku udah jadi,” tegas Kesya.

Rendra pun hanya bisa mengiyakan saja. Benar saja, ketika ice cream-nya sudah jadi, Kesya jadi tidak jutek lagi pada Rendra dan mulai bisa diajak bicara baik-baik tanpa jutek-jutekan.

Cowok ini oke juga, batin Kesya sambil melirik ke arah Rendra yang berjalan dengan cool di sampingnya.

Mereka mengobrolkan banyak hal. Bahkan mereka juga membicarakan pacar masing-masing, dan dari perbincangan itu Kesya tahu kalau Rendra masih jomblo dan baginya itu adalah sebuah peluang, jadi dia juga mengaku masih jomblo. Di akhir pertemuan mereka, mereka saling berjanji untuk bertemu lagi keesokan harinya. Bagi Kesya itu berarti, Romeo harus diputuskan.

*****

Keesokan harinya, ketika Romeo datang menjemputnya di sekolah seteleh bel pulang berbunyi, tanpa alasan yang jelas, seperti yang kemarin-kemarin, Kesya langsung memutuskan Romeo yang kemudian dia tinggalkan melongo bego di gerbang sekolahnya, masih tidak percaya kalau Kesya yang baru dipacarinya 3 hari sekarang sudah memutuskannya begitu saja.

Kesya sendiri dengan santainya langsung mencegat salah satu taksi. Segera saja dia menyebutkan nama sebuah mal tempat dia dan Rendra janjian kemarin. Nina yang tadi sempat melihat apa yang Kesya lakukan pada Romeo cuma bisa geleng-geleng kepala dengan sikap sahabatnya itu. Nina sudah tidak mau ambil pusing, suatu saat nanti Kesya pasti akan mendapatkan balasannya, mungkin begitu pikir Nina.

Sesampainya di mal, Kesya langsung saja bertemu dengan Rendra yang ternyata sudah menunggunya di loby mal.

“Nonton yuk!” ajak Rendra.

“Ayuk!” Kesya mengamini dengan riangnya.

Mereka pun menuju ke bioskop yang berada di dalam mal itu. Setelah nonton mereka lanjutkan dengan makan malam. Mereka baru memutuskan untuk pulang setelah lampu-lampu mal satu persatu mulai dipadamkan tanda mal akan tutup.

Rendra menawarkan diri untuk mengantar Kesya pulang karena sudah larut malam. Kesya pun mengiyakan setelah sebelumnya pura-pura jual mahal -salah satu taktik merebut hati cowok a la Kesya-, dan Rendra pun mengantarnya pulang.

“Kes, kamu mau nggak jadi pacarku?” tanya Rendra setelah motornya berhenti tepat di depan rumah Kesya dan Kesya sudah turun dari motornya.

“Ha?” kaget Kesya yang tidak menyangka secepat itu Rendra menyatakan cinta padanya.

“Mau nggak jadi pacarku? Aku sayang sama kamu,” tambah Rendra.

Kesya berpikir sebentar. Apa mungkin perasaan sayang bisa tumbuh hanya dalam 2 hari perkenalan? Kesya merasa ada yang aneh, tapi dia tidak tahu apa, dan pikirannya mengatakan kesempatan ditembak cowok sekeren Rendra nggak mungkin datang dua kali, jadi dia pun menerima pernyataan cinta Rendra.

Rendra tersenyum senang seperti Kesya. Rendra lalu memeluk Kesya. Setelah itu, Kesya pun masuk ke dalam rumahnya, segera menuju ke kamarnya, dan membuang dirinya ke tempat tidur sambil tersenyum-senyum sendiri. Sebelum tidur, dia berdoa semoga diberi mimpi indah tentang Rendra yang entah kenapa memberi rasa yang berbeda pada hatinya.

*****

Nina merasa telinganya sangat panas setiap kali mendengar cerita Kesya tentang pacar barunya yang kata Kesya, “Keren banget! Cakep gila!”  Sudah bosan Nina mendengar semua kata-kata itu, karena semua pacar Kesya yang sebelum-sebelumnya juga Kesya sebut seperti itu.

“Tapi yang kali ini beda, Na. Dia tuh, bikin aku berdebar-debar dan dia bukan hasil nyolong dari cewek lain,” kata Kesya dengan semangatnya.

“Ya, ya, ya,” kata Nina dengan cuek sambil membolak-balik bukunya.

Nggak terasa sudah hampir sebulan Kesya jadian sama Rendra. Nina juga agak nggak nyangka dengan kenyataan sahabatnya itu bisa setia pada satu cowok hampir sebulan, karena sebelumnya paling bentar cuma sejam, paling lama cuma 2 minggu.

“Kamu beneran jatuh cinta ama cowok yang namanya Rendra itu, ya?” tanya Nina suatu hari pada Kesya ketika mereka sedang di kantin sekolah di jam istirahat.

A hundred percent,” jawab Kesya dengan pasti.

“Kalau begitu, kamu mesti jaga dia baik-baik, jangan diputusin karena cowok lain lagi,” ujar Nina yang nggak pernah bosan menasihati sahabatnya ini.

“Siap, bu!” Kesya berlagak seperti seorang tentara yang memberi hormat pada bosnya.

Sepulang sekolah hari ini, Rendra kembali menjemput Kesya, hal yang sudah menjadi kerjaan wajibnya sejak jadian dengan Kesya hampir sebulan yang lalu.

“Hari ini kita mau kemana, yang?” tanya Kesya dengan mesranya dari balik punggung Rendra yang memboncengnya.

“Liat aja,” singkat Rendra yang entah kenapa terdengar sangat cuek di telingan Kesya, tidak seperti Rendra yang biasanya akan menjawab dengan senang.

Setelah beberapa saat, motor Rendra pun berhenti di depan sebuah kafe pinggir jalan. Setelah turun dari motor, Rendra langsung masuk ke dalam kafe tanpa menggandeng Kesya terlebih dahulu seperti yang biasa dia lakukan di hari kemarin. Kesya yakin ada yang salah dengan Rendra. Kesya pun mengejar langkah Rendra masuk ke dalam kafe.

Kesya melongo sebego-begonya melihat pemandangan dalam kafe ketika dia baru masuk ke dalam kafe. Rendra bercipika-cipiki dengan seorang cewek yang dia sangat kenal. Ela . Cewek yang baru sebulan yang lalu dia rebut pacarnya, sekarang duduk di samping pacarnya dan sedang menggenggam erat tangan Rendra dengan mesra.

“Ren, ini maksudnya apa?” tanya Kesya yang tidak tahu harus bereaksi bagaimana dengan apa yang dia lihat sekarang.

“Ya, seperti yang kamu lihat, Kesya,” jawab Rendra dengan santainya dan kemudian mencium kepala Ela yang tampak tersenyum jahat bercampur senang yang tak terkira.

Kesya masih tidak mengerti dan jadi speechless.

“Kamu masih nggak ngerti, Kesya?” tanya Ela dengan nada yang sangat meremehkan. “Aku jelasin ya, Rendra pacarku,” tambahnya kemudian yang membuat dunia di sekitar Kesya seakan hancur lebur.

Rendra tersenyum bahkan sedikit tertawa setelah Ela melihat ke arahnya dengan tatapan sayang.

Kesya merasa bendungan di pelupuk matanya tiba-tiba penuh. Akan terjadi banjir bah tidak lama lagi.

“Maaf ya, Kes, kamu pernah merebut pacarku dan kali ini, aku merebut Rendra dari kamu,” ujar Ela dengan santainya tanpa mempedulikan Kesya yang sudah hampir menangis. “Sebenarnya bukan merebut sih, Rendra sudah jadi pacar aku sejak dia nembak kamu. Dia cuma sayang aku, dan untuk membuktikan dia serius ama aku, dia aku suruh untuk bikin kamu jatuh cinta sama dia dan ninggalin kamu begitu aja. Seperti yang dulu kamu lakukan sama aku kan, Kes?” kali ini Ela tertawa jahat, sudah terlihat seperti seorang nenek sihir.

Kesya sudah tidak mau mendengar lebih banyak lagi kata-kata Ela. Dia juga sudah tidak bisa membendung air matanya. Kesya berlari keluar dari dalam kafe diiringi derai tawa Ela dan Rendra yang berhasil membuatnya jera dan menyesal sudah pernah melukai banyak hati. Kini dia cuma sendiri menangisi nasibnya dan menyesali perbuatannya yang dulu.

Satu pemikiran pada “Kamu Rebut, Aku Ambil Kembali !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s