Sahabat Jadi Cinta. Hmm.


“Ra, bisa tolongin selesain PR matematikaku ini nggak?” tanya Kenta pada Sora yang sedang asik membaca komik di kelas pada jam istirahat ini.

Sora menengok sebentar dan nampak kaget ketika melihat siapa yang baru saja meminta pertolongannya. Kenta. Sora tidak mampu berbicara selama beberapa saat.

“Ra, kamu bisa nggak?” Kenta mengulang pertanyaannya.

“Eh, iya, iya, bisa, Ken,” kata Sora kemudian dengan gelagapan sambil menerima buku yang Kenta sodorkan.

Thanks, ya, Ra. Jam istirahat ke dua aku ambil,” setelah berkata seperti itu, Kenta pun pergi.

“Kamu bego banget sih, tau udah dia nyakitin kamu, kamu masih juga baik-baikin dia,” Vicky mentoyor kepala Sora dengan gemas setelah Kenta sudah menghilang dari pandangan mereka. Sora yang kena toyor, balik mempelototi sahabatnya itu.

“Kan, dia minta tolong, Na. Masa aku nggak bantuin sih?” kata Sora dengan mata yang membesar sebal.

“Tapi dia siapa coba? Kenapa nggak minta tolong ama teman-temannya aja kalau cuma buat nyelesaiin PR?” Vicky jadi pake urat karena Sora masih juga membela Kenta.

“Udah ah! Aku udah nerima bukunya, nggak mungkin aku kembalikan,” Sora mengakhiri perdebatannya dengan Vicky dan segera beranjak dari duduknya, meninggalkan komik yang belum selesai dia baca dan Kana yang masih tidak terima dengan kebodohan Sora yang mau saja dimanfaatkan sama mantannya yang brengsek itu.

Dalam hatinya sebenarnya Sora membenarkan setiap kata yang keluar dari mulut Vicky, hanya saja dia tidak mau memikirkannya. Meskipun dia dan Kenta sudah putus, sudah tidak ada hubungan apa-apa, tapi hatinya masih menyisakan tempat bagi Kenta, masih ada bagian yang hanya tersedia bagi Kenta. Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk membuatnya melupakan cowok yang pernah menjadi kekasihny setahun lamanya itu.

Nggak semudah itu, Vick, batin Sora sambil terus melangkahkan kakinya. Sejujurnya dia tidak tahu harus kemana, dia hanya ingin berjalan dan terus berjalan mengitari kompleks sekolahnya sampai bel masuk berbunyi nyaring. Dia sadar, dia dimanfaatkan.

“Seandainya kamu tahu ada sangat menyayangimu, Ra,” gumam Vicky pada dirinya sendiri dan kemudian menghembuskan nafas panjang sebelum kembali ke bangkunya.

*****

Ternyata, Kenta tidak mengambil bukunya di jam istirahat ke dua, melainkan ketika jam pulang. Padahal, Sora sudah mencoba mengerjakan PR Kenta itu dengan secepat mungkin sambil memeras otaknya sendiri. Vicky yang melihat sendiri perjuangan Sora, jadi naik pitam ketika melihat Kenta. Sesuatu yang di luar dugaan Sora terjadi.

BUKK!

Dengan cepat sebuah tinjuan melayang mengenai pipi Kenta yang tidak siap menerima pukulan. Seketika itu pula, Kenta tersungkur, kacamatanya lepas, hampir saja diinjak murid-murid yang lalu lalang di koridor sekolah.

Belum sempat Sora membantu Kenta berdiri, orang yang memukul Kenta sampai tersungkur seperti itu, melanjutkan aksinya. Kali ini dia langsung menarik kerah baju Kenta. Sora tidak percaya ketika tahu orang yang memukul Kenta adalah sahabatnya sendiri, Vicky.

“Mau kamu itu apa sih? Udah ninggalin Sora gitu aja, sekarang mau manfaatin dia, lagi! Kamu itu murid paling pintar di sekolah ini, kenapa mesti nyuruh Sora ngerjain PRmu?” Vicky ngamuk sejadi-jadinya di depan wajah Kenta yang tidak bisa berbuat apa-apa karena, sepertinya, masih kesakitan dengan pipinya yang lebam terkena pukulan Vicky. “Kamu tau, Sora setengah mati ngerjain tugasmu itu, karena kamu bilang bakal ngambil di jam istirahat kedua, ternyata kamu ngambilnya pas jam pulang ini. Kamu nggak tau apa kalau dia juga punya tugas? Bukan cuma kamu aja yang punya tugas, goblok!” lanjut Vicky yang kemudian sekali lagi melayangkan tinjuannya ke muka Kenta yang kali ini menyebabkan Kenta jadi mimisan.

Sora jadi terpaku sendiri. Kakinya seakan terpaku ke lantai koridor, tidak bisa digerakkan. Dia sangat ingin menolong Kenta dan menghentikan kebrutalan Vicky yang tidak dia sangka-sangka, tapi dia tidak bisa.

“Awas kalau kamu berani memanfaatkan Sora lagi!” ancam Kenta yang diakhiri dengan, sekali lagi, sebuah pukulan.

Vicky berdiri dan kemudian langsung menghampiri Sora yang hanya dapat melongo. Ketika Vicky menariknya pulang pun, dia hanya dapat ikut saja dengan sesekali membalikkan kepalanya untuk melihat keadaan Kenta yang kemudian dibantu berdiri oleh beberapa murid. Sora masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi di depan matanya.

*****

“Vick, kamu apa-apain sih? Kenapa kamu mukul Kenta kayak tadi?” protes Sora yang baru tersadar setelah mobil Vicky berjalan beberapa meter dari sekolah mereka menuju ke arah rumah Sora.

“Aku nolongin kamu, Ra,” kata Vicky yang, sepertinya, masih terbawa emosi, sehingga tidak menengok sedikit pun ke arah Sora dan hanya tetap menatap ke depan sambil mencengkeram keras setir mobilnya, urat tangannya sampai muncul semua.

“Kamu nolongin aku dari apa?” tanya Sora yang tidak kalah emosinya.

“Kamu nggak nyadar apa kalau dia manfaatin kamu?” suara Vicky jadi meninggi.

“Manfaatin apa? Aku yang mau nolongin dia, jadi kamu nggak usah sok tau!” Sora tidak terima dibentak seperti itu dan tidak mau kalah keras suaranya.

“Terserah kamu mau bilang apa, aku cuma nolongin kamu,” Vicky putus asa dan mulai menurunkan volume suaranya.

“Kalau gitu terserah aku juga kalau aku nggak mau lagi pulang bareng kamu! Turunin aku disini!”

Akhirnya, Vicky membalikkan kepalanya karena mendengar kata-kata Sora barusan. Mata Vicky membulat besar seakan ingin meloncat keluar dari rongganya.

“Kamu jangan gitu dong, Ra. Aku cuma nggak mau kamu dimanfaatin sama Kenta,” ujar Vicky.

“Hentiin mobil ini! Aku mau turun!” Sora berlagak tidak mendengar kata-kata Vicky.

“Ra, denger dulu dong!”

“Aku bilang, hentiin mobil ini!” suara Sora jadi lebih terdengar seperti teriakan.

Dengan sangat terpaksa, Vicky pun menepikan mobilnya. Sesaat setelah mobil menepi, tanpa menunggu lama, Sora langsung keluar dari dalam mobil.

“Ra, aku minta maaf, Ra. Ra! Ra! Ra!” Vicky berusaha minta maaf dan memanggil-manggil nama Sora beberapa kali. Tapi Sora sama sekali tidak peduli dan langsung membanting pitnu mobil sampai menutup dengan kerasnya. Sora pergi begitu saja dan langsung mencegat salah satu angkutan umum yang mengarah ke rumahnya.

Vicky memukul setir mobilnya dengan keras. Dia teriak sejadi-jadinya di dalam mobil.

“Bego kamu, Vick! Bego! Bego! Bego!” Vicky memaki dirinya sendiri sambil menjambak rambutnya sendiri, tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Sora marah padanya dan itu sudah seperti kiamat menjemputnya.

Vicky jahat, batin Sora yang bersusah payah menahan agar airmatanya tidak mengalir. Malu kalau dilihat orang-orang di angkot .

*****

Sora menatap jam dinding di kamarnya. Jarum jam menunjukkan pukul 8 malam tepat.  Sora menutup buku yang baru saja dia pakai untuk mengerjakan PRnya, lalu kemudian melangkah ke arah tempat tidurnya. Sebelum naik ke tempat tidur, Sora membuka laci meja lampu di samping tempat tidurnya dan mengeluarkan sebuah majalah milik adiknya yang dia pinjam tadi sore.

Baru sekitar lima halaman yang sempat Sora lihat dan baca isinya, tiba-tiba hapenya bergetar. Sora langsung saja mengambil hapenya yang selalu dia tempatkan di atas meja lampu.

Kenta

calling ...

“Halo,” kata Sora dengan detak jantung yang kencang.

“Ra, kamu lagi dimana?” tanya Kenta, langsung-langsungan.

“Lagi di rumah. Emang kenapa?” jawab sekaligus tanya balik Sora dengan alis yang terangkat sebelah.

“Kamu bisa bantuin aku nggak?”

“Bantu? Bantu apa?”  perasaan Sora jadi tidak enak. Aneh, menurut Sora. Kenta hanya meminta bantuannya, tapi dia merasa ada sesuatu yang aneh.

“Kamu bisa jemput aku nggak? Mobilku mogok dekat rumah kamu, nih,” kata Kenta tanpa basa-basi sedikitpun.

“Ha? Iya, iya. Kamu di jalan mana?” Sora jadi panik sendiri. Mobil Kenta mogok dan di luar sedang hujan deras.

“Aku di Jalan Anggrek,”  ujar Kenta. “Cepetan ya, Ra,” tambah Kenta.

Tanpa pikir panjang lagi, Sora langsung meloncat turun dari tempat tidurnya, berlari turun, menyambar kunci mobil papanya di meja, dan segera tancap gas menjemput Kenta. Mamanya yang berteriak-teriak memanggilnya dari belakang, tidak dia dengar sama sekali. Mamanya jadi panik sendiri dan langsung memanggil suaminya.

“Pa, Sora mau ke mana tuh? Udah malam gini, dia bawa mobil, lagi,” ujar Mama Sora dengan paniknya.

“Udah, Mama tenang aja, mungkin dia ada urusan mendadak,” kata Papa yang berusaha menenangkan Mama.

“Papa ini kok tenang-tenang aja, anak gadis ngabur naik mobil malam-malam, Papa masih bisa santai,” protes Mama pada kesantaian suaminya itu.

“Ya, soalnya Papa percaya Sora pasti akan balik, Ma,” kata Papa. “Udah, kita masuk, yuk! Dingin nih,” Papa pun menuntun Mama masuk ke dalam rumah dengan setengah memaksa dan agak menyeret.

Sementara itu, Vicky, di rumahnya, sedang bermain gitar di balkon kamarnya. Ketika sedang asik-asiknya memetik senar gitar, salah satu senar tiba-tiba putus.

“Aaarggh, putus, lagi,” keluh Vicky.

Merasa sudah tidak berminat melanjutkan main gitarnya, Vicky pun masuk ke dalam kamarnya. Tapi kemudian, langkahnya terhenti. Fotonya bersama Sora ketika masih SMP seakan menghentikan waktu di sekitarnya.

Sora lagi ngapain ya? batin Vicky.

Di lain tempat, Sora sendiri sekarang sedang menengok ke kiri-kanan Jalan Anggrek untuk mencari keberadaan Kenta dan mobilnya. Jalan Anggrek lumayan seram juga kalau malam, hanya ada dua lampu jalan yang meneranginya. Tak lama kemudian, Sora pun melihat sebuah mobil yang sangat dia kenal terparkir di pinggir jalan dengan kap terbuka. Itu mobil Kenta.

Benar saja, Kenta ada di dalam mobil menunggu Sora.

Sora mengambil payung di jok belakang mobilnya dan langsung menjemput Kenta di mobilnya.

“Ayo, Ken,” kata Sora.

“Tapi, mobilku gimana?” tanya Kenta yang tidak meninggalkan mobilnya, yang memang bisa dikategorikan mewah, begitu saja.

“Ya, tinggal aja, Ken,” kata Sora.

“Nggak mungkinlah aku ninggalin mobil ini di sini. Kalau ada yang nyuri atau mretelin mesinnya, gimana?”  Kenta melotot pada Sora.

“Ya, mau gimana lagi. Mobil kamu kan, mogok. Nggak bisa jalan,” ujar Sora yang jadi tidak berani menatap mata Kenta karena dipelototi.

“Kamu beneran mau nolongin aku kan?” tanya Kenta.

“Iya,” singkat Sora dan perasaannya jadi makin tidak enak.

“Kalau gitu, kamu jaga mobilku dulu. Aku balik ke rumah manggil supir papaku buat benerin mobilku, gimana?” ujar Kenta dengan tidak tahu dirinya.

“Ha?” Sora tidak percaya dengan apa yang baru saja Kenta katakan.

“Mau nolongin nggak sih? Aku juga nggak lama kok,” Kenta menaikkan volume suaranya dan mulai terdengar menggertak daripada minta tolong.

“Iya deh. Tapi kamu jangan lama-lama ya,” kata Sora dengan putus asa.

Tanpa mengucapkan terima kasih atau semacamnya, Kenta langsung merebut payung di tangan Sora dan langsung masuk ke kursi kemudi mobil Sora, meninggalkan Sora yang tidak punya pilihan lain selain menerima kenyataan. Masuk ke dalam mobil dan berharap Kenta benar-benar akan segera kembali.

*****

Hape Vicky bergetar di meja belajarnya. Vicky pun langsung mengambil hapenya dan membaca tulisan di layar hapenya yang berkedap-kedip.

“Halo, Ra,” Vicky langsung menjawab panggilan di hapenya itu.

“Vick, tolongin aku,” kata Sora dari seberang sana yang terdengar agak terisak.

“Kamu kenapa, Ra? Kamu dimana?” tanya Vicky yang khawatir karena mendengar nada suara Sora.

“Vick, aku sendirian di Jalan Anggrek dekat rumahku,” jawab Sora yang tengah berusaha mati-matian menahan airmatanya.

“Kok bisa? Sekarang kan, lagi hujan deras, Ra? Kamu ngapain di sana?” Vicky tidak tahu harus berkata apa dan hanya terus bertanya saking khawatirnya.

“Nanti aku ceritain. Kamu bisa jemput aku kan? Aku di pinggir jalan, di dalam mobil Kenta,” kata Sora.

Sebenarnya Vicky ingin bertanya lebih lanjut lagi tentang kenapa Sora bisa ada di dalam mobil Kenta, malam-malam, hujan-hujan, tapi berhubung dia sendiri tahu kondisi Jalan Anggrek ketika malam, dia pun langsung memutuskan sambungan telepon dan langsung menuju mobilnya dan segera saja menembus hujan untuk menjemput Sora.

*****

Sora langsung saja ke luar dari mobil Kenta dan masuk ke dalam mobil Vicky ketika dia melihat mobil Vicky sudah berhenti di samping mobil Kenta. Sora tampak menggigil karena sempat terkena air hujan di luar.

“Kamu kenapa bisa ada di mobil Kenta?” tanya Vicky langsung, tidak mau menunggu lebih lama.

Setelah mengatur nafasnya, Sora pun menceritakan semuanya, mulai dari telepon Kenta yang minta dijemput karena mobilnya mogok, Kenta yang nggak tahu diri langsung meninggalkan Sora sendirian sambil membawa mobil Papa Sora, dan ternyata Kenta nggak kembali setelah hampir dua jam ditunggu.

“Kurang ajar!” geram Vicky sejadi-jadinya.

Sora tidak berani berkomentar. Dia juga sudah tidak bisa memungkiri kenyataan Kenta sudah memanfaatkan dan mempermainkannya. Sora sudah tidak mau peduli lagi kalau seandainya Vicky mau menghajar Kenta seperti tadi siang. Kenta, mungkin, memang pantas mendapatkannya.

*****

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Vicky sudah tiba di sekolah. Bukan tanpa tujuan, dia sedang menunggu seseorang, dan seseorang itu datang tidak lama kemudian. Seseorang itu melangkah dengan santainya melewati Vicky yang sudah menunggunya sedaritadi. Tanpa menunggu lama, Vicky langsung saja menghampiri seseorang itu. Menarik bahunya agar berbalik dan ….

BUKK!

Satu bogem mentah mendarat mulus di pipi kanan Kenta dengan indahnya. Vicky tersenyum puas, apalagi setelah Kenta tersungkur, kacamatanya terlepas, dan kali ini sukses patah terinjak murid yang lewat. Vicky melanjutkan aksinya . Menarik kerah baju Kenta dan sekali lagi memukul Kenta sampai, bukan hanya hidungnya yang mimisan, tapi mulutnya pun berdarah, sepertinya bibir Kenta robek.

“Aku sudah bilang, JANGAN MANFAATIN SORA! Kamu budek ya?” teriak Vicky di muka Kenta dengan menekan beberapa kata.

Soory, Vick. Aku tadi malam …,”

BUKK!

Vicky tidak mau mendengar alasan Kenta. Baginya, Kenta sudah mempermainkan dan memanfaatkan Sora. Tidak ada alasan lain selain itu. Mempermainkan Sora berarti mempermainkan dia juga, dan itu adalah hukum yang sudah berlaku sejak Vicky mengenal Sora.

“Ada apa ini?” Pak Deri, guru BP, muncul, membuka kerumunan murid yang baru datang dan langsung berkumpul menonton aksi Vicky yang kemarin sudah memukul Kenta dan berlanjut lagi di hari ini. Murid-murid itu bahkan masih membawa tas mereka, belum sempat ke kelas.

Pak Deri tampak naik darah melihat pose Vicky dan Kenta yang sangat tidak mengenakkan. Kenta terduduk di tanah dengan kerah baju yang berada dalam genggaman Vicky yang sementara sedang mengepalkan tangannya di depan wajah Kenta.

“Vicky, Kenta, kalian ke kantor saya sekarang!” geram Pak Deri yang langsung membubarkan kerumunan murid-murid.

Vicky pun melepaskan Kenta yang berdarah-darah dan langsung menuju ke kantor Pak Deri. Kenta menyusul di belakangnya dengan agak terpincang-pincang karena kakinya keram setelah tertindis kaki Vicky.

Pak Deri langsung saja memarahi mereka berdua. Pak Deri sangat menyayangkan sikap Vicky yang main tonjok di pelataran sekolah sampai disaksikan banyak murid. Beliau juga sangat tidak menyangka, murid teladan seperti Kenta juga bisa terlibat perkelahian, bahkan sampai berdarah.

Alhasil, mereka berdua kena scorsing seminggu penuh.

“Vick, gimana? Kena scorse ya?” tanya Sora yang sedaritadi sudah menunggu Vicky di depan ruangan BP.

“Ya, gitu deh! Seminggu doank,” jawab Vicky dengan santainya.

Kenta lewat di depan mereka. Melangkah begitu saja dengan cueknya padahal Sora sangat berharap, paling tidak Kenta mau mengucapkan maaf karena sudah meninggalkannya sendirian tadi malam dan tidak kembali. Memang mobil Papa Sora sudah kembali ke garasi tadi pagi, dibawa oleh supir Kenta, tapi kata maaf tetap ingin Sora dengar. Sepertinya, hati Kenta sudah membatu.

Vicky baru saja ingin kembali memukul Kenta karena sadar Sora sangat mengharapkan kata maaf keluar dari mulut Vicky, tapi ditahan oleh Sora.

“Udah, Vick, seminggu udah cukup,” cegah Sora sambil menarik tangan Vicky. “Aku udah nggak peduli ama dia,” tambah Sora.

“Mmm, Ra, aku mau ngomong sesuatu,” kata Vicky.

“Mau ngomong apa, Vick?” tanya Sora yang merasa aneh, sangat aneh dengan perubahan sikap Vicky yang tiba-tiba. Tadi garang, sekarang tampak malu-malu.

“Ra, aku tahu kondisinya nggak mendukung banget, tpi berhubung mulai besok sampai minggu depan aku nggak masuk, jadi aku mau ngomong sekarang,” ujar Vicky yang benar-benar aneh. Tidak seperti Vicky yang biasa, menurut Sora.

“Apa?” Sora jadi tidak sabaran dan jadi gemas sendiri dengan sikap Vicky.

“Mmm,” Vicky jadi tidak berkata-kata.

“Mmm apa? Aneh deh, kamu, Vick.”

“Ra, aku sayang sama kamu,” tiba-tiba Vicky sudah berlutut di hadapan Sora yang sekali lagi menarik perhatian semua murid.

Sora jadi kelabakan, malu ditatap puluhan pasang mata.

“Vick, kamu ngapain sih? Malu nih,” ujar Sora yang mukanya mulai memerah.

“Aku sayang kamu lebih dari sahabat, Ra,” kata Vicky sambil menatap dalam mata Sora yang berdiri di depannya.

“Ha? Kamu nembak aku?” kaget Sora sekaget-kagetnya.

“Terserah kamu mau nyebut ini apa, yang pasti aku sayang kamu, Ra. Mau nggak jadi pacarku?” pertanyaan pamungkas pun dilontarkan oleh Vicky membuat wajah Sora yang sudah merah jadi semakin merah.

Murid-murid yang perhatiannya teralihkan oleh aksi kedua Vicky, sekarang membuat kegaduhan dengan secara bersama-sama mengatakan, “Terima. Terima. Terima.” Pak Deri pun kembali terusik ketenangannya di kantornya yang seharusnya bisa menjadi tempat terdamai. Beliau lalu melangkah ke arah jendela dan menyibakkan sedikit kain gorden untuk mengintip kejadian apa yang sedang terjadi di luar ruangannya.

Beliau hanya bisa geleng-geleng kepala kali ini memperhatikan pola tingkah muridnya yang baru saja tadi dia berikan hukuman sekarang sudah berlutut di hadapan seorang cewek.

“Dasar anak muda!” gumamnya sambil tersenyum tipis lalu kemudian kembali ke mejanya untuk melanjutkan pekerjaannya.

Sora sendiri masih speechless karena di”tembak” sahabatnya sendiri. Sora tidak menyangka kalau Vicky yang selama ini dia kenal sangat cuek terhadap cinta-cintaan ternyata memendam rasa untuknya.

“Ra?” panggil Vicky yang merasa dia sudah cukup lama menunggu Sora menjawab permintaan hatinya.

Sora tidak langsung menjawab. Dia meminta Vicky berdiri dulu, dan ketika Vicky berdiri, semua mulut terkunci rapat, menunggu jawaban Sora.

“Vick, kamu tahu, aku selalu sayang sama kamu dan persahabatan kita ini terlalu indah untuk kita akhiri karena cinta yang tumbuh di salah satu hati,” kata Sora dengan bijak sambil menggenggam erat tangan Vicky. “Vick, maaf, kamu sahabatku dan mungkin untuk saat ini akan tetap begitu dulu,” tambah Sora yang tersenyum dengan manisnya.

Vicky tidak kaget dengan jawaban yang Sora berikan. Vicky sadar, di hati kecil Sora masih ada Kenta, meskipun hanya sedikit sekarang. Tapi, Vicky tidak akan menyerah. Vicky tahu, suatu saat nanti Sora pasti akan menerima cintanya, asal dia mau berusaha merebut tempat Kenta di hati Sora. Yang tampak kecewa malah para penonton mereka.

Vicky mengulurkan jari kelingking tangan kanannya pada Sora.

“Sahabat?” tanya Vicky sambil tersenyum.

“Patinya,” jawab Sora sambil balas tersenyum lebih lebar dan mengaitkan jari kelingkingnya di kelingking Vicky.

“Ah, payah!” keluh para penonton.

Sora dan Vicky tertawa mendengar komentar teman-teman sekolah mereka yang mendapat tontonan kurang memuaskan, tapi sangat memuaskan khusus untuk Sora dan Vicky.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s