Perjodohan. Emang Masih Jaman?


Perjodohan bukan lagi hal baru dalam masyarakat Indonesia. Perjodohan bahkan sudah ada sejak jaman baheula. Jaman dulu, para raja menjodohkan para putra-putrinya untuk mempersatukan dua kerajaan. Jaman Siti Nurbaya, perjodohan dilakukan karena hutang orangtua yang menumpuk sampai tidak mampu melunasinya sehingga anak yang menjadi korban. Jaman sekarang, perjodohan bisa dilakukan dengan berbagai motif, bisa karena orangtua sudah tidak mampu membiayai si anak sehingga menikahkan anak lebih cepat dianggap lebih baik (biasanya terjadi di daerah-daerah perkampungan) atau bahkan untuk mempersatukan dua perusahaan besar (terjadi di perkotaan tentunya).

Mungkin pada jaman dulu, perjodohan hanya dilakukan oleh kalangan masyarakat perkampungan yang belum tersentuh oleh peradaban dan perkembangan, tapi sekarang, manusia yang mengaku modern pun sudah menganggap biasa yang namanya perjodohan, dan biasanya perjodohan itu dilakukan hanya untuk keuntungan sepihak. Contohnya, hanya untuk keuntungan orangtua, anak-anak yang menjalani dan merasakan justru tidak dipertimbangkan perasaannya.

Contoh nyata masalah perjodohan yang mengorbankan anak adalah cerita salah seorang teman sekolahku yang sekarang tinggal di daerah lain. Sebut saja temanku itu bernama Didi. Dia seperti anak sekolah biasa lainnya, tapi memang dia dari keluarga yang bisa dibilang tajir. Suatu ketika dia pindah sekolah ke kota lain. Awalnya, aku dan teman-teman sekolah yang lain mengira dia pindah sekolah karena orangtuanya pindah rumah ke daerah lain, seperti yang guru-guru katakan. Sampai suatu ketika, sebuah undangan pernikahan tiba di rumah salah seorang teman sekolahku. Ternyata, itu adalah undangan pernikahan Didi. Merasa tidak percaya, teman-teman pun menghubungi Didi. Untungnya dia belum mengganti nomor hapenya. Teman-teman pun mempertanyakan kebenaran undangan itu. Didi membenarkan bahwa undangan itu benar undangan pernikahan untuk teman-temannya. Kami shock! Tentu saja. Kami semua baru berumur antara 16-17 tahun saat undangan itu datang. Dan Didi saat itu baru berumur 17 tahun, umur dimana seorang pemuda masih ingin menikmati masa-masa mudanya untuk bergaul dengan lebih banyak orang dan bukannya mengurusi rumah tangga yang bahkan belum ada dalam benak remaja-remaja lain. Ketika kami bertanya kenapa bisa, dia tidak menjawab dan hanya menceritakan tentang calon istrinya itu, yang ternyata juga masih seumuran dengan kami semua. Dari cerita Didi, kami tahu mereka dijodohkan karena adanya perjanjian bisnis, karena calon istri Didi itu adalah putri salah seorang teman bisnis Papanya. Tentu saja, apalagi yang bisa membuat orangtua setega itu mengorbankan masa muda anak remajanya kalau bukan harta? Beberpa bulan yang lalu, Didi tiba-tiba saja menelepon salah seorang teman yang pernah dia “sukai” dengan nada suara yang panik. Istrinya akan segera melahirkan. Bayangkan, di umur yang bahkan baru menginjak angka 18 tahun, Didi dan istrinya sudah bersiap menjadi orangtua dari seorang manusia baru.

Perjodohan, kalau aku artikan menurut kataku, adalah sebuah pemaksaan untuk menimbulkan cinta yang mungkin benar-benar bisa menjadi cinta atau bahkan tidak sama sekali. Dalam keluargaku pun perjodohan dianggap hal yang wajar-wajar saja, bahkan sangat baik bagi masa depan anak, menurut para orangtua. Memang dalam keluargaku, sebagian besar menikah karena hasil perjodohan, termasuk kedua orangtuaku. Alhamdulillah, mereka akhirnya saling mencintai. Tapi, bagaimana jika perjodohan itu justru menjadi hal yang sia-sia karena tidak menimbulkan sedikitpun percikan cinta meski telah menikah bertahun-tahun lamanya? Perceraian.

Pernah suatu kali aku membaca sebuah buku tentang pernikahan dalam Islam. Salah satu babnya membahas tentang perjodohan. Pada buku tertulis bahwa menikah yang tidak didasari oleh cinta adalah haram hukumnya. Sama halnya dengan pernikahan yang terjadi karena perjodohan dan tidak ada cinta di antara kedua mempelai. Aku sudah lupa apa judul buku itu karena sudah lama sekali. Suatu hari, aku menceritakan isi buku itu pada Mamaku dan apa tanggapannya, beliau mengatakan buku itu mengada-ada. Ya, orangtua selalu menganggap apa yang mereka anggap benar memang benar adanya, meskipun sebenarnya itu kurang benar atau malah sangat salah.

Memang ada perjodohan yang berbuah manis karena timbulnya cinta dan tujuan dari perjodohan itu tercapai, tapi bagaimana kalau tidak? Ada juga kenyataan yang seperti itu dan sepertinya pernah difilmkan. Cerita ini saya dengar dari salah seorang teman tentang keluarganya yang masih mengagung-agungkan perjodohan sebagai dasar membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah, menurut orangtua. Salah seorang tante temanku itu dijodohkan oleh orangtuanya dengan anak dari teman mereka. Tidak jelas karena motif apa, mungkin ingin makin mempererat tali silaturahmi antar dua keluarga yang bersahabat. Mulanya, tante temanku itu menolak karena memang tidak ada cinta dalam hatinya untuk si pria yang dijodohkan dengannya, tap ia menerimanya saja karena tidak ingin mengecewakan kedua orangtuanya. Tapi, apa yang terjadi kemudian? KDRT, Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Ya, suaminya selalu menyiksanya sejak awal pernikahan mereka dan mungkin sampai detik saat aku menuliskan ini semua. Pukulan demi pukulan diterima oleh tante temanku itu dan tidak pernah sekalipun dia mau menceritakan apa yang dia alami pada orangtuanya karena takut orangtuanya bersedih. Dia hanya mau bercerita pada temanku, si keponakan yang paling akrab dengannya dan yang paling dia percaya. Sungguh malang bukan nasib anak yang menikah dari hasil perjodohan yang dilakukan oleh orangtua?

Pernikahan yang sakral seharusnya menjadi akhir yang membahagiakan dari masa lajang yang penuh pencarian. Pernikahan menjadi gerbang ibadah yang sebaik-baiknya. Pernikahan menjadi jalan yang bertabur bunga bagi tiap orang karena adanya cinta yang menyertai. Bukannya jadi akhir masa lajang yang dipaksakan untuk diakhiri. Bukan jadi gerbang ibadah yang justru malah menjadi haram. Bukan jadi jalan yang bertabur derita karena tidak ada cinta yang mengindahkan hari karena semuanya memang hanya didasari pada keterpaksaan.

Sekarang kalimat Jodoh ada di tangan Tuhan sudah tidak berlaku dan berganti menjadi Jodoh ada di tangan Ortu. Sebuah kalimat yang dianggap sebagian orang sesuatu yang biasa, tapi tidak sedikit pula yang menganggapnya menakutkan, termasuk aku sendiri. Bagaimanapun, cinta itu nggak bisa dipaksakan adanya. Orangtua memang bisa saja menggampangkan yang namanya perjodohan, karena mereka merasa perjodohan membuat mereka bahagia selama-lamanya, tapi mereka tidak berpikir tentang segala kemungkinan yang bisa terjadi. Kemungkinan bahwa anak mereka bisa saja mengalami yang sebaliknya dari apa yang mereka rasakan dari pernikahan mereka. Iya kan?

Di jaman yang serba IT ini, jodoh bisa datang dengan cara apa saja yang tidak terduga. Terkadang memang campur tangan ortu diperlukan di dalamnya, tapi tidak perlu dengan pemaksaan. Kalau memang jodoh, kan tidak kemana. Seandainya semua orang memiliki pikiran yang maju dan tidak terpaku pada adat istiadat tua yang bahkan belum bisa dipastikan baik buruknya, pastinya tidak akan kejadian yang namanya pernikahan yang dipaksakan dan belum pada saatnya yang mengorbankan perasaan orang-orang tertentu. Pernikahan dini, pernikahan yang diwarnai KDRT, pernikahan yang berujung perceraian, bla, bla, bla.

Well, isi kepala orang itu beda-beda. Mungkin ada yang setuju dengan apa yang aku tulis dan pasti ada juga yang batu yang pastinya amat sangat tidak setuju. Aku hanya menjabarkan apa yang aku rasa benar dalam kepalaku. Aku hanya menuliskan apa yang menurut aku patut untuk dibahas. Sesuatu yang manusiawi tapi terkadang menjadi sangat hewani. Jadi, siapa yang harus disalahkan jika perjodohan tidak berakhir bahagia? Orangtua yang menginginkan yang terbaik bagi putra-putrinya tanpa mempertimbangkan perasaan mereka atau para anak yang menerima begitu saja karena tidak ingin mengecewakan orangtua mereka? Siapa yang bisa disalahkan kalau ternyata sebatang coklat tidak semanis tampilannya?

8 pemikiran pada “Perjodohan. Emang Masih Jaman?

  1. asmi

    menurut saya, dijodohkan itu bisa dikatakan baik dan juga bisa sebaliknya. Semua Ortu pasti menginginkan anaknya akan hidup bahagia, tapi terus jangan memaksakan anaknya. Seharusnya ortu tu ngasih pengertian dulu pada anak dan ngasih mereka saling mengenal dulu. setelah perkenalan anak ma calonnya sudah berjalan, baru ditanya, apakah kamu da cocok?. Anak pasti akan ngasih penjelasan. Dan disini ortu harus mempertimbangkan pilihan anaknya. Kalau dipaksakan untuk dijodohkan sedangkan anak sudah merasa gak cocok, hasilnya anak yang akan menanggung akibatnya. dari Korban perasaan, minder atau juga KDRT. Jadi kesimpulannya menurut saya, komunikasi yang baik antara ortu dan anak yang paling penting. Ortu menyarankan dan memberi gambaran tentang rumah tangga, anak pasti akan ngerti. dan yang terkhir kita semua pasrahkan padaNya. Karena sesungguhnya Rejeki, Jodoh dan Mati itu semua kuasaNya.

  2. orang tua selalu tidak mau tau perasaan anaknya..mereka tutup hati,mata dan telinga dengan segala keluhan anaknya. Yah aku mengalami perjodohan yang dipaksakan.
    dengan dalih harus “manut” /menurut sama orang tua aku dituntut untuk menikah dengan seseorang yg tidak berkenan dihatiku.
    tapi, aku insyaallah selalu percaya segalanya akan terang pada waktunya.
    jodoh akan datang pada waktunya tanpa harus dipaksakan.
    meski seluruh keluarga besar mengecamku, aku insyaallah akan selalu teguh..karna ini untuk masa depanku.
    aku percaya hari itu akan tiba,
    ketika cinta bertemu dengan takdir Allah SWT,amiin

  3. imlegion

    bener bgt tulisan anda. sebut saja saya “imlegion”. saya pria berumur 25 tahun. Setaun yg lalu saya dipaksa menikah sama ke2 ortu saya,karena 3 bulan sblum pernikahan perjodohan tersebut saya membuat kesalahan besar dlm keluarga saya. saya menghamili pacar saya dan sudah hamil 4bln wktu diketahui ortu saya. qta beda agama,pokoknya qta gak bisa bersatu. dari saat itu,saya diberi toleransi wktu sama ortuku untuk segera cari calon istri 3 bln stlh ortuku mengetahui qta gak bisa menikah sama pacarku tsb. tp selama 3 bln tersebut aq gak bisa mencintai seorang cew pun,dan terpaksa aq dinikahkan sama org yg baru ku kenal,,dengan terpaksa aq melakukan pernikahan tersebut,,mungkin aq bisa mencintainya setelah beberapa lama menjalani pernikahan..tp hampir setaun ini sedikitpun aq gak merasakan bahagia,gak ada keharmonisan dlm rmh tanggaku…dan 2 bulan trakhir ini aku minta cerai,karna aq tau isriku smsan “sayang2an” sm pria lain. hal itu aq buat alasan perceraiaan kami. tp ortuku msh membela,msh pengen rmh tgga kami utuh. aku gak tau hrs berbuat apa lagi…haruskah aku mengajukan gugat cerai ke KUA dg bukti2 capture smsan “sayang2an” tsb…,tp aku kasihan,klo gugatan cerai ku dg bukti spt itu,dia bisa dipecat dr PNS…pokoknya aq gak mau melanjutkan rmh tgga ku ini…aku gak mau melewati hari2 disamping org yg gak kusayangi,,,walopun serumah,,mau ngobrol aja males,,,sampai2 aku pulang larut terus,,,walopun gak ada kegiatan,pasti aku berusaha nyari kegiatan.
    minta saran donkkk

    1. wow, complicated banget ya, masalahnya . honestly, saya agak sulit kalau harus memberikan saran soal beginian, soalnya saya sendiri belum pernah merasakan yang namanya berumahtangga🙂 jadi, mungkin saya cuma bisa memberikan saran . Begini, kalau memang istrimu SMS-an pakai sayang2an ama orang lain, coba kamu cek dulu kebenarannya, soalnya saya sendiri dengan teman2 saya, nggak peduli itu cewek atau cowok, juga pakai sayang2an . terus, kalau bisa jangan terlalu gegabah dalam mengambil keputusan, apalagi ingin langsung menggugat cerai istri kamu, coba kamu introspeksi diri dulu, mungkin ada sikap kamu yang membuat kalian merasa kurang cocok satu sama lain . orangtuaku juga dulu hanya berkenalan sebentar langsung dipaksa menikah oleh opa dan omaku tanpa ada yang namanya proses pacaran . di awal pernikahan, mereka sering bertengkar, tapi kemudian ada suatu kejadian yang kemudian membuat mereka sadar kalau selama ini mereka telah salah mengerti satu sama lain, alhamdulillah orangtuaku sampais saat ini masih berbahagia, meskipun dulunya mereka menikah dengan terpaksa karena harus meninggalkan kekasih masing2 demi memenuhi permintaan orangtua masing2 . jadi, mungkin lebih baik kamu dan istrimu belajar untuk berhubungan selayaknya sepasang suami-istri pada umumnya, belajar untuk saling mengerti, dan saling belajar dari masa lalu masing2 . kalaupun nantinya kalian memang benar2 tidak bisa bersama, ada baiknya kalau kalian membicarakan segala sesuatunya terlebih dahulu dengan orangtua kalian🙂
      mohon maaf ya, kalau sarannya biasa banget

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s