Merah


Judul : Merah
Pengarang : Agnes Jessica
Penerbit : Pustaka Hermon
Tebal : 512 halaman, 20 cm

Ini pertama kalinya aku membaca buku karya Agnes Jessica dan lumayan tertarik untuk membaca buku-bukunya yang lain. Buku ini aku temukan di rumah sepupuku di antara tumpukan novelnya yang menggunung. Judul buku ini, yang sesuai dengan salah satu warna kesukaanku, langsung saja menarik perhatianku untuk membacanya. Awalnya, aku pikir buku ini biasa saja, mungkin hanya sepintas lalu akan aku baca, tapi setelah membaca beberapa halamannya, aku tertarik untuk membacanya lebih lanjut dan akhirnya memutuskan untuk meminjam buku ini pada sepupuku. Cara penulisannya, kalau aku bilang, kurang lebih sama dengan salah satu pengarang favoritku, yaitu Clara Ng.

Buku ini dimulai dengan prolog, dimana Pencipta, Kasih, dan Penolong duduk semeja di langit sana memandang ke arah Indonesia menyaksikan lahirnya sesosok manusia baru, seorang bayi. Bayi merah yang masih bersimbah darah dan belum dimandikan oleh para suster. Bayi merah kecil yang ternyata kelahirannya tidak diinginkan karena kedua orangtuanya yang justru mengharapkan kelahiran bayi laki-laki setelah sebelumnya sang ibu telah melahirkan 2 kakak perempuan sebelum dia. Si bayi, Petra, tumbuh dalam dunianya sendiri yang penuh dengan kebebasan dan diacuhkan oleh kedua orangtuanya dan kedua kakaknya karena dianggap sangat pembangkang. Bagaimana tidak, di antara saudara-saudaranya, cuma dia yang tidak memiliki kelebihan apapun yang patut dibanggakan. Kakak pertamanya Joana adalah seorang wanita yang cantik, kakak keduanya, Helen, seorang yang berotak cemerlang, sedangkan dia pernah dikeluarkan dari sekolah dan harus masuk ke sekolah buangan.

Tapi, ada banyak hal yang dia rahasiakan selama ini. Rahasia kedua kakaknya yang sempurna tapi tidak pernah menghargainya, rahasia kenapa dia bisa dikeluarkan dari sekolah, rahasia tentang bakatnya yang terpendam. Sebuah masalah terjadi dalam keluarganya dan mengubah semua yang ada dalam hidupnya. Berselang beberapa tahun kemudian, hidupnya benar-benar berubah drastis. Dia bukan lagi Petra yang biasa, tapi Petra sang bintang, dan kini dia dihadapkan pada sebuah pilihan sulit untuk menentukan, harus menambatkan hatinya pada Nathan, si kaya yang sombong, atau Jimmy, si pelukis yang cuek. Dan ada apa sebenarnya di antara Nathan dan Jimmy hingga Nathan sangat membenci Jimmy? Dan apa sih, sebenarnya makna dari judul buku ini? Mau tahu? Beli donk! Hehehe😛

Novel ini memiliki alur maju dan pada satu bab, yang saya lupa bab berapa, menggunakan alur campuran. Buku ini memiliki banyak pesan moral dan patut untuk dibaca oleh remaja dan para orangtua. Banyak pesan moral yang tersirat di dalam buku ini, terutama pesan moral bagi para remaja agar tidak menyia-nyiakan masa mudanya dengan hal-hal yang merugikan karena masih banyak hal bermanfaat lainnya yang menunggu untuk kita lakukan. Sayangnya, pada buku ini terdapat beberapa kata yang salah ketik, selain itu pada buku ini juga terdapat beberapa ayat dalam alkitab, jadi jangan sampai keimanan kita yang beragama berbeda dengan sang penulis, jadi terganggu ya!

Jika kamu membiarkan dirimu terperangkap dalam sangkar mimpimu, makanya selamanya kamu tak akan melihat dunia dengan matamu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s