Aura


Matahari belum juga turun setengahnya tapi lembayung jingga mulai memayungi Pantai Kuta yang eksotik ini. Ku pandangi para wisatawan yang justru semakin banyak menjelang malam, mereka menunggu keindahan yang sebenarnya, sunset. Aku dan banyak orang lain di dunia ini tidak dapat memungkiri lagi betapa indahnya matahari terbenam di Pantai Kuta. Tidak heran jika banyak turis dari berbagai negara rela merogoh kocek hanya untuk melihat keindahannya.

Ku lihat di depan sana, tepat di laut di hadapanku, di depan garis khatulistiwa yang tak lama lagi akan menelan sang surya, 2 orang anak kecil, laki-laki dan perempuan yang sepertinya berumur 5 dan 7 tahun bermain air bersama orangtuanya. Aku jadi merindukan orang-orang yang ku sayangi. Terutama Aura.

***

Belasan tahun yang lalu, aku menderita scoliosis, kelainan tulang belakang. Aku memakai alat aneh di punggungku yang membuat banyak anak sebayaku menjauhiku. Aku kesulitan untuk bergerak, apalagi berjalan dan berlari. Hingga kemudian Aura muncul. Rambutnya lurus, panjang sebahu, dan kecoklatan. Tingginya hanya sedikit di bawahku. Aura sangat memperhatikanku. Di saat semua mengacuhkan keberadaanku, Aura justru selalu menemaniku.

Dia baru pindah ke perumahan tempatku tinggal waktu itu. Awalnya dia menatapku. Pandangan yang tidak bisa aku artikan. Antara kasihan dan penasaran. Lama dia menatapku yang hanya duduk di pojokan taman memandang anak-anak lain yang bebas bermain basket, bermain skateboard, bercanda dengan teman-teman mereka, sebelum akhirnya dia berjalan pelan menghampiriku dan lalu menyodorkan tangannya sambil tersenyum.

“Aku Aura. Nama kamu siapa?” tanyanya waktu itu.

Aku memandangnya tidak percaya. Apa dia benar ingin mengenalku? Aku yang dengan alat aneh di punggung ini?

Aku membalas uluran tangannya dengan ragu. Aku takut kalau dia hanya ingin mempermainkan aku, seperti anak-anak lainnya.

“Aku Alfian,” jawabku.

Aura lalu duduk di sampingku dan menemaniku ngobrol. Ini pertama kalinya, sejak aku menderita scoliosis, ada anak lain yang mau bicara denganku. Sejak saat itu, Aura menjadi kawan terbaikku, sahabat sejatiku. Aura yang selalu jadi penyemangatku untuk cepat sembuh dari sakitku. Aura yang selalu tersenyum agar aku juga mau tersenyum. Aura yang selalu mengisi hari-hariku dengan berbagai cerita tentang kota tempat tinggalnya dulu atau tentang adik-adiknya yang selalu membuatnya kesal. Aku bahagia bersama Aura, dia tidak pernah bertanya apapun tentang penyakitku, dia ingin menjadi penyemangatku bukan penambah bebanku.

Pernah suatu kali, ketika kami SMA, aku merasa Aura menjauhiku. Beberapa hari dia tidak lagi menemaniku saat jam istirahat tiba. Dia lebih sibuk berkumpul bersama teman-teman lain. Berbisik-bisik di pojok ruangan atau berkumpul di depan kelas. Tidak pernah sekalipun dia mengajakku untuk ke kantin. Aura tidak seperti biasanya. Dia seakan mulai melupakanku. Aura memang terkenal di sekolah kami. Paras yang cantik, sikap yang santun, otak yang cemerlang, kesayangan guru-guru, idola para adik kelas, banyak cowok yang sudah menyatakan cinta padanya, tapi semua ditolak.

Aku merasa dilupakan olehnya, aku pun menjauh. Aku tidak ingin mengganggu Aura. Mungkin ini saatnya aku mandiri tanpa Aura di sisiku lagi. Aku akui, aku mencintainya. Tapi siapa aku? Hanya cowok dengan penyakit yang entah kapan sembuhnya. Mungkin Aura sudah bosan berteman denganku, dia sudah capek menyemangati orang yang tidak sembuh-sembuh juga, bahkan setelah bertahun-tahun.

Setelah dua minggu berlalu, aku mulai terbiasa tanpa Aura di sampingku. Mamaku mulai sering menanyakan keberadaan Aura yang mulai jarang datang ke rumah. Tapi pagi itu, di tanggal 3 Februari, Aura dan seisi kelas mengejutkanku. Ketika aku baru saja melangkahkan kaki memasuki kelas, mereka semua berteriak dengan lantang, “Happy birthday, Fian!”

Aku terpaku. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aura keluar dari kerumunan murid lainnya dengan sebuah kue tart bertuliskan Happy Eighteen Fian di tengah-tengahnya dan dua buah lilin angka 1 dan 8. Mataku berkaca-kaca, aku hampir menangis. Aku terharu.

“Anak cowok nggak boleh nangis! Kalau nangis, nggak boleh niup lilinnya!” kata Aura dengan galak waktu itu. Aura memang paling tidak suka kalau aku menangis. Nggak cowok, katanya.

Aku pun meniup lilin ulangtahunku itu dengan sebuah senyum untuk semua teman-teman yang ternyata sangat menyayangiku, tapi tentunya Auralah yang paling menyayangiku. Ketika jam istirahat tiba, Aura pun meminta maaf padaku karena beberapa hari ini menjauhiku. Dia menjelaskan kalau dia sengaja, dia sedang merencanakan untuk memberikan kejutan untukku bersama teman-teman yang lain. Dia juga sengaja menjauhiku agar aku penasaran dan agar kejutannya untukku berhasil. Aura ternyata selalu menyayangiku.

Ketika kami lulus  SMA, Aura tetap ingin dekat denganku, jadi dia juga memutuskan untuk kuliah di kampus yang sama denganku. Dia mengambil jurusan ilmu komunikasi, sedangkan aku mengambil jurusan hukum, yang setahun kemudian, setelah aku sembuh dari sakit scoliosisku, berubah menjadi kedokteran. Beberapa tahun kemudian, kami pun menjadi sarjana. Aku memutuskan untuk mengambil spesialisku, aku mengambil spesialis bedah tulang dan Aura menjadi photographer muda berbakat. Aura memang mencintai dunia potret-memotret.

Aku merasa pertemanan kami sudah cukup lama, sudah saatnya untuk aku menyatakan perasaanku padanya. Aku tidak memintanya menjadi pacarku, aku memintanya menjadi pendamping hidupku. Ku ajak dia makan malam romantis berdua, di sebuah restoran favoritnya. Sebuah restoran dengan view langsung ke pantai. Aku melamarnya di Bali, kota kesukaannya. Semua aku persiapkan dengan sebaik-baiknya. Aku meminta restu kedua orangtuaku, kedua orangtua Aura, adik-adik Aura, aku menyiapkan sebuah buket bunga mawar putih dan merah, bunga kesukaan Aura, aku memesan meja terbaik, aku melakukan segalanya untuk Aura, hanya untuk Aura.

Dengan mengucap basmalah dalam hatiku, aku berlutut di hadapan Aura, yang tampak kaget. dengan sebuah kotak cincin yang terbuka untuk memperlihatkan pada Aura cincin berlian dengan emas putih di sekitarnya yang seminggu lalu ku beli untuk momen indah ini. Para tamu lain di restoran sejenak terdiam memperhatikan pemandangan sakral yang aku buat ini.

“Kamu ngapain, Al?” tanya Aura dengan muka yang memerah karena malu diperhatikan seisi restoran.

“Malam ini, aku Alfian, dengan disaksikan oleh semua orang yang ada di restoran ini, dengan disaksikan laut, langit, bulan, dan bintang, dengan sepenuh hati memintamu, Aurora, untuk menjadi pendampingku hingga akhir hayatku. Will you marry me?”

Aku menunggu jawaban Aura dengan harap-harap cemas. Aku tidak berharap banyak. Aku maklum jika Aura menolak lamaranku ini. Aku tiba-tiba saja melamarnya padahal selama ini hubungan kami tidak lebih dari sahabat. Tamu-tamu lain juga jadi penasaran dengan jawaban Aura.

Ternyata, Aura tidak menjawab. Aura justru menitikkan airmatanya sambil mengangguk dan lalu memelukku.

Yes, I will,” bisiknya di tengah tangisnya. Aku balas memeluknya.

Para tamu langsung bertepuk tangan dan mengucapkan selamat pada kami berdua. Setelah itu, aku dan Aura langsung menghubungi keluarga kami untuk memberitahukan kabar gembira ini. Mamaku dan Mama Aura tidak sanggup menahan haru dan akhirnya menangis bahagia di ujung sambungan telepon. Adik-adik Aura tak hentinya mengatakan kalau mereka sangat bahagia mendengar Aura menerima lamaranku. Mereka semua bahagia dengan akhir bahagia sebuah persabatan.

Sekembalinya kami, rencana pernikahanku pun mulai dibicarakan antar dua keluarga yang akan segera bersatu. Mamaku dan Mama Aura sibuk mengurus berbagai hal. Mereka yang memesan gedung terbaik, mereka memesan catering dengan makanan terenak, mereka memilihkan kain tercantik untuk kebaya Aura, mereka memilih desain undangan dari bahan paling bermutu, semua yang terbaik mereka berikan untuk pernikahan anak-anak mereka.

Lalu kabar buruk itu datang. Aura mengalami kecelakaan dalam perjalanannya dari Bali. Aura yang baru saja menghadiri pertemuan perkumpulan photographer yang diikutinya, harus mengalami kecelakaan pesawat yang hampir semua penumpangnya meninggal. Hanya Aura dan 15 penumpang lainnya yang berhasil selamat dari kecelakaan itu dari 118 penumpang.

Ketika mendengar kabar itu, langit di atasku seakan runtuh. Aku tidak ingin terjadi sesuatu apapun pada calon pengantinku. Aku tidak ingin dia terluka walau hanya sedikit. Aura tidak boleh pergi meninggalkanku begitu saja dengan cara seperti ini. Aku tidak bisa berpikir lagi. Segera saja ku tancap gas mobilku menuju ke rumah sakit tempat Aura katanya dirawat setelah dievakuasi. Saat aku tiba di rumah sakit, kedua orangtuaku dan orangtua Aura, serta adik-adiknya sudah berada di sana. Kami menatap Aura dari balik dinding kaca yang memisahkan kami dari ruangan Aura dirawat. Aku tidak tega melihat Aura dengan berbagai alat penopang hidup di sekitarnya. Satu persatu dokter bergantian masuk memeriksa keadaan Aura. Tapi tak satupun dokter yang mau bersuara tentang keadaan Aura.

Habis sudah kesabaranku. Aku ingin mengetahui keadaan kekasihku yang tak berdaya. Aku memaksa seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang perawatan Aura. Aku memaksanya, aku berteriak di hadapannya, aku menitikkan airmataku, aku benar-benar ingin tahu keadaan Aura sekarang. Dokter itu pun menjelaskan keadaan Aura. Aura mengalami patah tulang pada bagian kakinya, selain itu ada pendarahan hebat di kepalanya yang kemungkinan besar akan membuat Aura kehilangan ingatannya. Auraku kesakitan. Aku meminta dokter untuk segera mengoperasi Aura. Berapapun akan aku bayar demi kesembuhan Auraku.

“Kalian siapa?” kata Aura saat pertama kali sadar dari tidurnya yang panjang setelah mengalami dua kali operasi yang memakan waktu hingga berjam-jam.

Aura benar-benar melupakan semuanya. Aura lupa namanya sendiri, Aura melupakan kedua orangtuanya, Aura melupakan adik-adiknya, dan yang paling menyakitkan, Aura melupakanku. Aku sudah cukup kecewa ketika pernikahan kami dibatalkan dan semua undangan yang sudah terlanjur disebar ditarik kembali. Kini orang yang paling aku cintai melupakanku.

Aku dan keluarga Aura berusaha mati-matian untuk mengembalikan ingatan Aura. Memang tidak segampang dugaan kami. Keluarga Aura membongkar gudang mereka, mengeluarkan semua album foto kenangan dari masa kecil Aura, tapi Aura tidak ingat apapun. Aku perlihatkan buku tahunan sekolah kami dari SMP dan SMA, aku ceritakan semua hal yang mungkin bisa membangkitkan ingatan Aura, tapi itu juga tidak berhasil. Mama Aura jadi sering menangis padaku dan Mamaku. Beliau tidak bisa kalau terus-terusan kehilangan anak sulungnya. Aku pun tidak bisa kehilangan Auraku yang dulu.

Aku hampir menyerah, membiarkan waktu yang memperbaiki semuanya, mengembalikan ingatan Aura. Hingga kemudian, kedua adik Aura membisikkan sebuah ide untuk membangkitkan ingatan Aura. Aku pun segera memberitahukan ide ini pada kedua orangtua Aura dan orangtuaku dan mereka menyetujuinya. Aku pun segera memesan tiket penerbangan ke Bali keesokan harinya, untukku dan Aura. Adik-adik Aura menyarankan agar aku membawa Aura ke tempat dimana aku melamarnya. Mereka yakin itu bisa membuat ingatan Aura kembali pulih. Tapi, ketika aku selesai mengucapkan kata-kata yang sama ketika aku melamarnya, Aura menitikkan airmata dan langsung pingsan di tempat. Aku panik dan langsung membawanya ke rumah sakit terdekat.

Aku menyalahkan diriku sendiri. Seharusnya aku tidak memaksa Aura untuk mengingat semuanya. Harusnya aku melakukannya pelan-pelan. Otak Aura sudah tidak kuat. Aura tidak mungkin bisa mengingat semuanya langsung secepat ini. Aku terus menyalahkan diriku. Keluarga Aura dan kedua orangtuaku datang keesokan harinya dengan penerbangan pertama ke Bali. Sekali lagi Aura harus berhadapan dengan berbagai alat yang mengerikan, tapi hanya itu yang dapat menyelamatkan hidup Aura. Lebih baik Aura melupakanku daripada aku harus kehilangan dia selamanya.

***

Aku menghela nafas panjang setelah memutar ulang semua kenangan itu. Kenangan yang sampai kapan pun tidak akan pernah bisa aku lupakan. Aura yang aku cintai.

“Papa,” ku dengar dua suara yang paling ku sukai memanggilku. Suara dua malaikat kecilku.

Ku lihat kedua anak kembarku berlari di antara pasir putih Pantai Kuta ke arahku. Putraku yang tampan, Dewa, rambutnya yang lurus, seperti rambut mamanya, memakai baju kaos dengan celana selutut. Dan putri cantikku, Dewi, rambutnya bergelombang, seperti rambutku, memakai gaun putih dengan pita kecil di rambutnya yang seperti menari di tiup angin. Keduanya baru berulangtahun yang ke 5 tiga hari lalu.

Aku membuka lebar kedua tanganku untuk menyambut dua malaikat kecilku itu. Keduanya memelukku sangat erat. Kuciumi pipi mereka berdua satu-satu. Aku merindukan mereka setiap saat, seperti saat ini. Padahal aku baru tidak bertemu mereka beberapa jam karena urusan kerjaan. Ada pasien gawat yang harus aku tangani di rumah sakit.

“Pa, tadi Mama bilang kalau kita mau kasih kejutan buat Papa,” kata Dewa.

“Ih, kok bilang sih? Bukan kejutan lagi namanya,” protes Dewi yang kemudian memonyongkan mulutnya tanda ngambek pada saudara kembarnya.

“Kejutan apa, sayang?” tanyaku heran.

Kedua buah hatiku langsung memasang aksi tutup mulut hingga Mama mereka datang. Istriku yang selalu jadi permaisuri hatiku melangkah pelan di atas pasir putih Pantai Kuta. Dia berjalan ke arahku dengan sangat anggun. Sosok yang selalu menjadi kawan terbaik dan sahabat sejatiku. Ibu dari anak-anakku, Auraku.

“Selamat ulangtahun, Papa,” ucap Aura bersama dengan kedua buah hati kami secara bersamaan.

Aku lupa kalau hari ini hari jadiku dan keluarga kecilku menyiapkan kejutan kecil ini untukku. Aku bahagia. Aku pria paling bahagia di dunia ini.

Ya, Aura berhasiL sembuh. Ingatannya pulih setelah beberapa minggu dirawat di rumah sakit di Bali. Aku tidak menyangka kalau Tuhan sangat menyayangiku dan Aura. Ingatan Aura kembali dengan sangat baik. Tapi, dia tidak ingat kalau dia pernah lupa ingatan. Dia hanya ingat kalau dia mengalami kecelakaan pesawat. Ketika melihatku, Aura langsung menangis. Aku pun menangis sejadi-jadinya sambil memeluknya.

“Hey, anak cowok nggak  boleh nangis!” katanya dalam isakan tangisnya.

“Boleh untuk saat ini, saat aku merindukanmu,” balasku.

Keluarga Aura dan kedua orangtuaku pun tak sanggup menahan haru melihat kami berpelukan. Setelah Aura diijinkan pulang, pernikahan kami pun direncanakan ulang dan segera dilangsungkan. Semua yang datang berbahagia untuk kami. Berbahagia untuk persahabatan ini, berbahagia untuk cinta sejati ini. Kami pun memilih untuk menetap di Bali, tempat yang menjadi saksi cinta kami.  Setahun lebih beberapa bulan, Aura melahirkan kedua buah hati kami, malaikat kecil kami. Hanya Aura di hatiku dan kini ada dua malaikat kami juga di hatiku.

2 pemikiran pada “Aura

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s