Kasih Ibu


Mataku mengerjap-ngerjap pelan. Sinar sang surya yang merayap masuk lewat celah kecil di tirai jendela kamarku menyentilku untuk segera bangun karena hari sudah tak subuh lagi. Ku usahakan untuk membangunkan tubuhku ini dari pembaringan yang terlalu empuk dan nyaman untuk aku tinggalkan, meski tak pernah lagi membuat tidurku nyenyak sejak beberapa bulan ini. Tapi aku sudah terlalu lama terbaring di situ, aku harus bangun menikmati sisa-sisa pagi yang masih sempat aku sapa.

Dengan tenaga yang sudah terkumpul, aku menuju ke arah jendela kamarku. Menyibak tirai itu hingga sinar matahari menyapaku seluruh tubuhku. Sudah lama aku tak merasakan cahaya hangat ini menyelimutiku. Taman kecil rumahku ternyata sudah ada yang menikmatinya lebih dulu. Seorang gadis kecil bergaun merah muda dengan rambutnya yang lurus dan panjang sepinggang berlari-lari mengejar kupu-kupu yang beterbangan di atas bunga-bunga hibiscus merah kesayanganku. Ah, andaikan ku masih sekuat dulu, aku pasti bisa menemaninya bermain bersama kupu-kupu cantik itu.

Ku alihkan pandanganku dari taman kecilku yang cantik. Entah mengapa, tiba-tiba saja aku tertarik untuk memandangi sebuah figura yang menampilkan diriku dan dua orang yang beberapa hari ini selalu menemaniku di rumah kecilku yang sudah lapuk dimakan usia ini. Aku tidak tahu kenapa kali ini perasaanku sangat ingin memandangi foto itu, padahal hampir tiap hari foto itu aku lihat.

***

Rasa-rasanya baru kemarin aku menggendong putri kecilku yang baru saja dipotong tali pusarnya dan dimandikan oleh para suster yang membantu proses persalinanku. Suamiku tampak sumringah memandangi bayi mungil kami. Dia sangat cantik, pipinya merona merah muda, matanya belum terbuka. Tak terasa, sembilan bulan lebih sepuluh hari dia berada dalam rahimku, kini ia sudah menghirup udara kehidupan dan siap tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang dicintai banyak lelaki.

Ketika aku dan suamiku membawanya pulang ke rumah, bayi kecilku langsung menjadi primadona bagi kakek-neneknya yang baru pertama kali menimang cucu. Dia menjadi rebutan. Semua ingin menggendongnya. Semua ingin menciumnya. Semua menyayanginya. Aku bahagia, benar-benar bahagia, karena semua bahagia menyambut kelahiran putri kecilku yang selamanya menjadi anak semata wayangku.

Kandunganku tidak kuat. Sudah beberapa kali aku keguguran, hingga akhirnya melahirkan Salsabilah. Ya, itu nama cantik untuk putri cantikku. Mata air surga, agar dia memiliki paras dan hati yang sebening mata air surga. Awalnya, para dokter memvonis bahwa aku akan melahirkan prematur, tapi Tuhan berkehendak lain. Ia menyayangiku dan Ia mengijinkanku untuk menikmati indahnya menjadi calon ibu dengan waktu yang normal, sembilan bulan lebih sepulu hari. Tapi sayangnya, setelah itu aku tak dapat hamil lagi. Sebuah resiko besar, kata dokter, jika aku memutuskan untuk hamil lagi. Maka diangkatlah rahimku. Tapi aku tetap bersyukur, aku sudah mempersembahkan Salsa bagi suamiku, bagi orangtuaku, bagi mertuaku, dan bagi diriku sendiri. Aku bahagia menjadi seorang ibu.

Tapi, kebahagiaan keluargaku tak berlangsung lama. Ketika Salsabilah berusia 4 tahun, ayahnya pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Suamiku kecelakaan, mobil ditabrak sebuah mobil lain yang melaju sangat kencang dari arah berlawanan ketika ia berada dalam perjalanan pulang dari kantornya. Aku berusha menahan tangisku di depan anak semata wayangku. Aku tidak ingin dia tahu kalau dia sudah menjadi anak yatim di usia semuda ini. Barulah ketika ia tertidur, aku menangis sejadi-jadinya di kamarku.

Aku tak membawa Sasa, begitu panggilan putri kecilku, ke pemakaman ayahnya. Aku tidak ingin dia sedih. Aku menitipkannya pada seorang tetangga yang ku percaya saat itu. Setrelah pemakaman itu, Sasa selalu menanyakan keberadaan ayahnya dan aku hanya bisa berbohong padanya bahwa ayahnya sedang berada di tempat yang jauh menunggu kami berdua datang. Sasa selalu meminta padaku untuk menemui ayahnya.

“Bu, kita aja yang nyusul ayah,” rengeknya ketika itu.

Untuk kesekian kalinya, aku kembali berbohong padanya dengan mengatakan kalau ayahnya sangat sibuk berbincang-bincang dengan Tuhan di tempatnya sekarang berada karena ayah ingin memberikan sebuah rumah yang cantik untuk Sasa dan kami sekeluarga akan pindah ke rumah baru itu kelak. Senyum Sasa mengembang saat itu. Sasaku yang polos, maafkan ibu.

Barulah ketika Sasa duduk di bangku kelas 3 SD, dia mengetahui semuanya. Semua kebohongan yang telah ibunya buat ini. Siang itu, ketika Sasa baru pulang dari sekolah dan aku baru saja selesai berjualan di warung kecil, tempatku menggantungkan hidup sejak kepergian suamiku, aku melihat Sasa menangis sejadi-jadinya.

“Kenapa ibu nggak bilang kalau ayah sudah meninggal?” katanya di tengah-tengah isak tangisnya saat itu.

Aku langsung berlari memeluk putriku. Ku belai kepalanya sambil menjelaskan semuanya. Aku berharap dalam hatiku agar dia mau mengerti. Sasaku anak perempuan yang baik dan pintar, dia mengerti semua penjelasanku dan langsung berhenti menangis, meski masih sedikit sesenggukan dan langsung mencium pipiku.

“Sasa janji akan selalu menjaga ibu,” ucapnya yang membuatku merasa tak mungkin lagi aku hidup jika kelak aku juga harus kehilangan putri sematawayangku ini.

Sasa yang rajin dan selalu ada waktu untuk berbagi cerita denganku, mulai berubah ketika mulai duduk di bangku SMP. Dia kini lebih sering bercerita dengan teman-teman perempuannya. Teman se-gank katanya padaku. Tiap malam ia bercuap-cuap lewat ponselnya dengan entah siapa di seberang sana. Aku tak ingin mengusik wilayah pribadi anakku, hanya saja aku tak ingin ia melupakanku. Diam-diam suatu malam ku periksa handphone-nya ketika ia sudah tertidur. Ku dapati berbagai macam pesan dengan nada gombal dari seorang laki-laki. Aku hanya bisa tersenyum. Gadis kecilku ternyata sudah mengenal cinta.

Keesokan paginya, ketika sedang sarapan, ku ajak dia berbincang-bincang ringan. Ku tanyai dia pertanyaan seputar sekolahnya, teman-temannya, dan seseorang yang sedang ada di hatinya. Dia tersipu ketika aku mulai menanyakan hal yang terakhir itu.

“Ibu boleh mengenalnya kan?” tanyaku sambil tersenyum agar Sasa tahu, aku tidak akan marah padanya.

Sasa hanya mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. Malamnya, pacar Sasa benar-benar datang. Pemuda yang baik, kakak kelas Sasa di sekolah. Aku mengajaknya ngobrol. Ketika Sasa pamit untuk ke dapur membuat minuman, ku  pinta pada pemuda itu untuk selalu menjaga hati putriku, jangan pernah melukainya, karena bahkan, aku sendiripun tak pernah ingin melukainya walau setitik. Pemuda itu mengangguk takzim mengiyakan permintaan dari ibu pacarnya ini. Ku minta pula agar ia menghormati putriku karena dia adalah seorang perempuan. Sekali lagi pemuda itu mengangguk dan aku mempercayainya untuk selalu menjaga putri cantikku.

Hubungan Sasa dan pacarnya terus berlanjut hingga mereka menikah. Usaha warung kecilku sudah berubah menjadi usaha rumah makan dengan beberapa cabang di beberapa kota. Berkat kerja keras dan doa yang tiada henti, aku berhasil menjaga putriku seorang diri, dengan keringatku sendiri, ku buat ia menjadi seorang sarjana kedokteran terbaik dengan predikat cum laude. Banyak pria yang datang melamarnya, tapi hanya kekasihnyalah yang ia ingini.

Di hari pernikahannya, ketika ia bersimpuh di hadapku, sungkem padaku, aku tak dapat membendung airmataku. Putri sematawayangku kini bukan hanya milikku, kini ia pun milik suaminya yang belasan tahun lalu ku nasihati untuk menjaganya dan ia benar-benar menjaga putriku. Aku bahagia, meski aku sedih karena kini aku harus hidup sendiri di rumah tuaku yang penuh dengan kenangan bersama putri kecilku yang kini bersanding di pelaminan dengan pangeran hatinya.

***

“Haaah,” ku hela napas panjangku setelah mengulang kembali kisah hidupku yang telah lalu.

“Oma,” gadis kecil yang tadi bermain-main di taman rumahku kini sudah berdiri di pintu kamarku bersama ibunya.

“Ibu, kok bangun sendiri?” kata Sasa padaku dan lalu mendorong kursi rodaku ke arah tempat tidurku.

“Ibu kan juga bosan kalau di tempat tidur terus,” kataku pada Sasaku yang cantik, yang kini juga sudah menjadi seorang ibu dari gadis kecil yang tak kalah cantiknya dari ibunya, Annisa.

Dengan perlahan Sasa membantuku untuk berdiri dari kursi rodaku dan lalu membaringkanku di tempat tidurku. Sasa membelai-belai rambutku yang sudah putih semua dengan penuh kasih sayang, seperti dulu ketika aku yang membelai-belainya sebelum ia tertidur dalam pangkuanku.

“Sa,” panggilku pada Sasa.

“Iya, Bu,” jawabnya.

“Ibu minta kamu jaga Annisa baik-baik ya. Sayangi cucu ibu baik-baik. Jangan pernah kamu biarkan dia merasakan sakitnya luka walau hanya sedikit, jangan pernah kamu buat ia menangis walau hanya sebentar, jangan pernah kamu sakiti hatinya meski harus berbohong. Sayangi putrimu itu seakan hanya kamu di dunia ini yang bisa membahagiakannya,” nasihatku pada putriku.

“Iya, Bu. Sasa berjanji akan selalu menjaga dan menyayangi Nisa untuk Ibu, seperti dulu Ibu menjaga dan menyayangi Sasa,” ucap Sasa sambil tersenyum dan aku mempercayai tiap kata-kata putriku yang sejak aku sakit karena usia yang tak lagi muda, selalu setia menjaga dan merawatku.

Usaha rumah makanku kini ku serahkan sepenuhnya pada menantuku. Aku percaya padanya karena ia sudah menjaga putriku sejak dulu. Bagaimana mungkin aku bisa tidak mempercayainya setelah ia menjaga hartaku yang paling berharga hingga selama ini?

“Sekarang Ibu tidur, ya,” pinta Sasa yang kemudian mencium keningku. “Aku selalu mencintai Ibu,” katanya kemudian.

“Nisa juga selalu sayang Oma,” kata cucuku yang cantik yang gantian mencium keningku setelah ibunya.

Mereka berdua lalu meninggalkanku untuk beristirahat di peraduanku. Ku lihat matahari seakan tersenyum padaku, bunga-bunga hibiscus merahku pun seakan menari untukku karena tertiup angin. Seekor kupu-kupu berwarna biru terbang masuk ke kamarku dan hinggap di figura foto yang memperlihatkan kebahagiaanku ketika bersama dengan putri dan cucuku tersayang.

Sepertinya, aku bisa tidur dengan nyenyak sekarang. Suamiku sudah menungguku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s