Bagman’s Family Fabolous Dinner


Kemarin, tepatnya tanggal 8 Juli 2010, aku bertemu dengan mereka dan langsung saja menjadi sangat menyayangi mereka semua. Mereka yang aku maksudkan tentu saja my Uncle Humphrey, my Aunt Yolande, and my cousins Rowena, Delana, and Damien. Ini pertama kalinya bagi mereka menginjakkan kaki di tanah Indonesia, apalagi Makassar. Banyak cerita yang kami bagi dalam selang waktu dari jam 5 sore hingga jam setengah sebelas malam. Waktu yang singkat, tapi sangat berkesan bagiku, bagi keluarga yang lain, dan aku harap juga bagi mereka sekeluarga.

Uncle Humphrey adalah sepupu Papaku yang sejak berumur lima tahun sudah meninggalkan Indonesia, sekarang ia sudah bermur 55 tahun, jadi tidak heran jika ia tidak lagi mengerti bahasa Indonesia karena sudah 50 tahun lamanya dia meninggalkan Indonesia dan menetap di Belanda. Meski begitu, dia masih mengetahui beberapa kata dalam bahasa Indonesia dan satu bahasa Bugis, commo’ yang artinya gendut. Sepupu-sepupuku, khususnya Damien, menyebutkannya dengan sangat lucu. Hahaha😆

Aku belum pernah bilang ya, kalau aku punya darah Belanda dari Papa dan darah Jerman dari Mama? Maaf, soalnya aku sendiri merasa tidak mirip orang Belanda dan Jerman sih! Hehehe😛

Beberapa hari sebelum kedatangan Uncle Humphrey dan keluarganya, rumahku selalu dipenuhi perbincangan tentang mereka. Kami sangat semangat untuk bertemu dengan mereka secepatnya. Semua sudah tidak sabar untuk bertemu dengan keluarga kami yang jauh ini. Tapi intinya, kami pusing harus mengatakan apa jika bertemu mereka. Kami nggak ngerti bahasa Inggris, mereka nggak ngerti bahasa Indonesia. Susah kan, masalahnya? Tapi untungnya, aku diberi keajaiban oleh Yang Maha Kuasa pada saat pertemuan dengan keluarga Uncle Humphrey karena tiba-tiba saja aku bisa cuap-cuap dengan bahasa Inggris. Jadilah aku walking vocabulary-nya keluargaku yang harus mengartikan dan mengalihbahasakan hampir semua kalimat yang diucapkan Uncle Humphrey dan keluarganya.

Awalnya aku pikir aku akan sulit berkomunikasi dengan para sepupuku, anak-anak Uncle Humphrey. Aku pikir hanya Uncle Humphrey yang akan bicara denganku. Ternyata eh, ternyata Rowena, Delana, dan Damien juga baik. Mereka banyak bertanya tentang bahasa Indonesia. Mereka membandingkan bahasa Indonesia dengan bahasa-bahasa negara lain yang pernah mereka kunjungi sebelumnya dan menurut mereka bahasa Indonesia lebih mudah karena apa yang  tertulis begitu juga yang kita ucapkan, tidak seperti bahasa lain, yang menurut mereka agak sulit untuk diucapkan. Aku lalu menantang mereka untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, bukan hanya sekedar terima kasih, sakit kepala, atau sama-sama, jika nanti mereka datang lagi ke Makassar. Tapi aku malah ditantang balik oleh Aunt Yolande untuk berbahasa Belanda yang baik dan benar ketika nanti kami bertemu lagi. Nah lho, aku mau belajar dimana coba? Dasarnya aja nggak ada. Hiks😥 Tapi tak apa, aku akan berusaha!

Selama pertemuan dengan keluarga Uncle Humphrey, yang lebih cocok disebut reunian sebenarnya, aku lebih banyak ngobrol dengan anak-anaknya, terutama Damien yang paling banyak bertanya. Jauh dari perkiraan awalku yang mengira aku akan lebih sering ngobrol dengan their Daddy, yang ternyata justru sibuk ngobrol dengan para sepupunya, Papaku dan saudara-saudaranya serta sepupu-sepupunya yang lain. Aku justru bertanya-tanya, apa mereka bisa nyambung ya? Soalnya Papaku dan saudara-saudaranya hanya tahu yes dan no. Hahaha😆 Hanya Tante Mega, sepupu Papaku yang lumayan bisa berbahasa Inggris. Untung mereka bisa nyambung.

Oh iya, Uncle Humphrey juga sempat bercerita kalau sejak kecil anak-anaknya sudah sangat ingin mengunjungi Indonesia, khususnya Makassar dan Uncle Humphrey pun berjanji untuk mengajak mereka ke Indonesia, tapi baru tahun ini dia bisa memenuhi janjinya pada anak-anaknya itu. Selain itu, Uncle Humphrey juga mengajak anak-anak dan istrinya untuk melihat rumah yang ia tempati ketika masih tinggal di Makassar. Sayang, rumah itu sudah tidak ada.

Ketika ngobrol dengan para sepupu Belandaku, Rowena, Delana, dan Damien, selain banyak bertanya tentang bahasa Indonesia, mereka juga banyak bercerita tentang kehidupan mereka di Belanda. Ternyata, meskipun sudah lama meninggalkan Belanda, Papa mereka, Uncle Humphrey, juga masih banyak mengingat tentang Indonesia, khususnya makanan Indonesia. Mereka bercerita kalau tiap hari Sabtu, Uncle Humphrey selalu memasakkan makanan Indonesia untuk mereka, seperti nasi goreng dan ayam pedis. Uncle Humphrey bahkan selalu membuat nasi kuning tiap ulangtahun anggota keluarganya atau untuk merayakan sesuatu. Makanya, sepupu-sepupu Belandaku ini sudah lumayan akrab dengan makanan Indonesia. Ketika nenek mereka masih hidup, Grandma Vera, nenek mereka selalu memasakkan semur untuk mereka dan itu menjadi salah satu makanan favorit di keluarga mereka. Delana juga sangat menyukai tumis kangkung sejak pertama kali memakannya. I really love them cause they are so Indonesia even they can’t speak Indonesian language ♥ Mereka juga bercerita kalau di kota tempat tinggal mereka di Belanda, Ede City, ada sebuah panti jompo yang bernama Rumah Kita. Panti jompo itu menampung orang-orang tua yang berasal dari Indonesia juga orang-orang tua Belanda.

Damien juga bercerita kalau Papanya pernah menyanyikan sebuah lagu untuk dia dan saudari-saudarinya dan mereka sudah menghapalnya sejak mereka masih kecil. Sebuah lagu anak-anak berjudul Kute-Kute (berdasarkan pengucapannya dia), yang bercerita tentang anak ayam. Aku langsung saja dibuatnya bingung tujuh keliling. Emangnya ada ya, lagu tentang anak ayam yang judul Kute-Kute? Maka, aku pun menyuruh dia untuk menyanyikannya. Dia nggak mau dan malah menyuruh Rowena dan Delana untuk menyanyikan, tapi mereka juga tidak mau. Damien pun memberanikan diri untuk bernyanyi agar aku tahu lagu yang dia maksudkan. Begitu mendengar lagunya, aku langsung tertawa ngakak. Ternyata lagu yang dia maksudkan adalah Kotek-Kotek😆 Dia pun langsung memintaku untuk mengajarinya mengucapkan kata kotek-kotek. Tek, kotek-kotek-kotek, anak ayam turun sepuluh, mati satu tinggal sembilan.

Tak lupa pula aku promosikan tempat-tempat wisata di Makassar tentunya. Yang paling aku promosikan adalah Trans Studio. Mereka sangat kaget ketika mengetahui di Makassar, di tempat asal papa mereka ini, ada the biggest indoor theme park in the world. Mereka jadi sangat ingin mengunjunginya, tapi sayang mereka hanya sehari di Makassar, karena keesokan paginya mereka sudah harus melanjutkan tour mereka ke Toraja, lalu ke Palu, selanjutnya terbang ke Jakarta untuk berkeliling Jawa, ke Bali, kemudian ke Hongkong, barulah setelah itu mereka kembali ke rumah mereka di Netherland sana. Mungkin di liburan mereka yang selanjutnya, ketika mereka kembali berkunjung ke Makassar dengan waktu yang lebih banyak, kami bisa berkeliling ke lebih banyak tempat, bukan hanya Trans Studio dan Benteng Rotterdam tentunya.

Malam yang benar-benar menyenangkan bersama dengan keluarga yang baru pertama kali aku temui, tapi sudah sangat dekat denganku. Aku sudah merasa jadi adik mereka (liat di foto, aku sudah kayak anak bungsu aja. Hehehe😛 ) Tapi, aku agak malu juga pada Uncle Humphrey dan keluarganya, soalnya lewat e-mail aku mengatakan kalau ada sekitar 13 orang keluarganya yang akan memenuhi undangan makan malam dari keluarganya, tapi ternyata yang datang satu kompi, sekampung, banyak anggota keluarga Bagman lainnya datang. Aku pikir, Uncle Humphrey akan tidak senang dengan begitu banyaknya orang yang datang dan tidak sesuai dengan apa yang aku katakan, tapi kemudian dia membisikku, kalau dia sangat senang bertemu dengan semua keluarganya dalam makan malam itu. Di akhir pertemuan kami malam itu, Uncle Humphrey mengucapkan terima kasih padaku, pada sepupuku, Kak Sari, dan pada omku, Om Iskandar, karena kami bertiga membuatnya dapat bertemu lagi dengan keluarganya di Makassar. Dia bilang kalau dia sangat menikmati liburannya di Makassar, terutama makan malam bersama keluarganya.

I wish that we can meet again soon, Uncle. I miss you and your family, especially my cousins, Rowena Liane Bagman, Delana  Ashley Bagman, and Damien Raymond Bagman. I love their names. Rowena said that I am fun person . You, too, cousin 🙂 Nice to meet you all.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

I really miss them so much!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s