Seandainya


Terlalu banyak kata seandainya yang kini terangkai dalam benakku. Terlalu banyak angan yang membentuk semua kata seandainya itu. Mungkin aku yang terlalu banyak berharap atau mungkin hatiku yang belum mengikhlaskan kepergianmu. Seandainya kamu masih di sini, mungkin tidak akan ada kata seandainya. Seandainya kamu tidak pernah meminta itu, tak akan pernah ada kata seandainya.

***

Mulan berlari kecil menuruni tangga rumahnya. Singgah sebentar di meja makan untuk mengambil sepotong roti bakar yang dibuatnya pagi-pagi buta dan lalu berlari kencang ke arah pintu rumah yang setelah dilewatinya langsung ia kunci.

Di luar pagar, Wisnu sudah menunggu Mulan dengan motor kesayangannya yang tak pernah sekalipun lupa ia cuci tiap sore sepulang kuliah. Tidak heran motor Wisnu selalu tampak mengkilat kapanpun, dimanapun.

Morning, sayang,” sapa Mulan dengan semangatnya sambil mengecup kedua pipi pacarnya yang terkasih yang tak pernah lupa untuk menjemputnya tiap pagi sebelum kuliah dan mengantarnya pulang tiap sore selepas kuliah.

Morning, cantik,” balas Wisnu sambil menyunggingkan senyum manisnya yang selalu bisa membuat Mulan jatuh cinta berkali-kali pada sosok lelaki yang ada di depannya saat ini. “Ready to ngampus?” lanjut Wisnu, masih tersenyum.

Ready dong,” jawab Mulan yang kemudian naik ke jok motor Wisnu.

Motor Wisnu pun melaju membelah jalanan menuju kampus mereka.

***

Mulan dan Wisnu sudah hampir 3 tahun pacaran. Dimulai sejak prom night ketika SMA, malam perpisahan. Wisnu sudah lama menyukai Mulan, begitu pula Mulan. Tapi, cinta mereka baru jadi nyata di hari terakhir mereka menjadi murid SMA. Keduanya langsung saja dinobatkan sebagai King and Queen prom night. Wisnu dan Mulan memang idola di sekolah mereka semasa SMA. Mulan yang mudah bergaul dengan siapa saja sangat disenangi oleh teman-teman seangkatannya, para adik kelas, bahkan para senior. Mulan juga termasuk murid yang pintar, tak sampai ranking umum memang, tapi ia tak pernah lepas dari kelas unggulan. Wajah Mulan memang tidak terlalu cantik, tapi darah Jerman dari Mamanya dan darah Belanda dari Papanya cukup berhasil membuat rambutnya menjadi kecoklatan dan terlihat berkilau di bawah sinar matahari, salah satu poin yang membuat banyak mata tertuju padanya. Sedangkan Wisnu adalah cowok yang, entah sejak kapan, sudah dinobatkan sebagai cowok tertampan di sekolah. Kesayangan guru olahraga karena selalu berhasil membawa tim basket yang dipimpinnya menjadi juara dalam setiap pertandingan. Wisnu tidak sepintar Mulan, tapi pergaulannya dimana-mana.

Wisnu selalu menjaga Mulan. Tak pernah bisa melepaskan pandang dari Mulan walau hanya sedetik. Wisnu merasa bertanggungjawab atas segala hal tentang Mulan, apalagi setelah mereka berdua memutuskan untuk tinggal jauh dari kedua orangtua mereka untuk menuntut ilmu di kota orang. Jangan kira karena mereka tak lagi dipantau oleh orangtua mereka dan mendapat tanggungjawab penuh atas diri mereka sendiri maka mereka lalu menyalahgunakan kepercayaan itu. Tidak. Wisnu mencintai Wulan, begitu pun Wulan. Lebih dari itu, mereka saling menghormati satu sama lain.

Hubungan yang sempurna untuk cinta yang sempurna bagi pasangan yang sempurna, begitu pikir semua orang. Semua mata akan memandang iri pada tawa riang Mulan ketika ngobrol dengan Wisnu. Semua mata akan sirik ketika melihat kilau kagum pada pandangan mata Wisnu tiap kali memandang Mulan. Semua sempurna bagi keduanya. Semua indah bagi orang-orang di sekitar mereka. Orangtua mereka sudah memberikan lampu hijau bagi hubungan mereka, teman-teman mereka juga sangat mendukung hubungan mereka, tak ada lagi yang perlu mereka khawatirkan, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk membuat hubungan mereka jauh lebih serius lagi.

Semua sempurna hingga hari itu datang.

“Sayang, aku mau ngomong sesuatu,” kata Wisnu pada Mulan ketika mereka sedang berdua di kantin kampus siang itu.

“Mau ngomong apa, sayang?” tanya Mulan sambil mendongakkan kepalanya dari mangkuk baksonya untuk melihat ke arah Wisnu.

“Minggu depan ada lomba balap, aku udah daftar,” ucap Wisnu cepat.

Sedetik kemudian, Mulan sudah tersedak kuah baksonya dan langsung terbatuk-batuk. Wisnu pun ikut jadi panik dan langsung memberikan botol air mineralnya yang baru habis setengah pada Mulan.

“Udah baikan, sayang?” Wisnu tampak khawatir melihat Mulan. Bagaimana semua orang tidak iri pada hubungan mereka, kalau hanya karena tersedak saja, Wisnu sudah sangat khawatir pada keadaan Mulan.

“Kamu balapan lagi?” tanya Mulan dengan tampang tidak percaya dengan nafasnya yang masih saling memburu karena barusan tersedak. “Kamu kan, udah janji ama aku untuk nggak balapan lagi. Itu berbahaya, sayang,” mata Mulan mulai berkaca-kaca.

Selain seorang pemain basket, Wisnu memang sangat senang balapan. Hampir semua lomba balapan akan dia ikuti jika tidak berbenturan dengan jadwal sekolahnya. Tapi sejak jadian dengan Mulan, Wisnu menghentikan total kegiatan balapannya karena tidak mau Mulan khawatir. Selama ini Mulan memang tidak menyenangi kegiatan balapan yang dilakukan Wisnu karena resiko yang sangat besar untuk keselamatan Wisnu. Wisnu mengerti dan mengalah pada kekasih hatinya itu. Tapi kali ini, dia tidak mampu lagi menahan hasratnya untuk sekali lagi melajukan motor sekencang-kencangnya di arena balap dan menunjukkan pada semua orang bahwa dialah yang terbaik.

“Aku janji ini yang terakhir, sayang,” janji Wisnu untuk meyakinkan Mulan.

“Ini benar-benar yang terakhir kan, sayang?” Mulan meminta kepastian.

“Iya sayang, aku janji ini yang terakhir.” Wisnu tersenyum penuh arti pada Mulan yang selalu bisa mengerti dirinya. Mulan bisa mengerti dia sangat ingin balapan, meskipun dia tahu, Mulan sangat khawatir.

Dan balapan itu benar-benar menjadi balapan terakhir bagi Wisnu.

Awalnya semua berjalan lancar. Putaran-putaran awal Wisnu masih tampil sebagai pemimpin balapan. Mulan menanti dengan harap-harap cemas di bangku penonton bersama para sahabatnya. Para sahabat Mulan dan Wisnu sibuk bersorak-sorai mendukung Wisnu. Lalu kemudian semua berubah.

Di beberapa putaran akhir, Wisnu seakan tidak mampu mengendalikan motornya. Motornya mulai bergerak oleng. Perasaan Mulan mulai buruk, dia tahu sesuatu yang buruk akan terjadi. Benar saja, motor Wisnu jatuh. Pengendara motor di belakangnya tidak mampu menghentikan motornya tepat waktu dan akhirnya menginjak tubuh Wisnu. Dunia Mulan berputar menuju kegelapan. Sedetik kemudian, semua hilang ditelan airmata dan ketidaksadaran Mulan.

***

Hari ini tanggal 2 Juni 2011, tepat 3 tahun kepergian Wisnu selama-lamanya. Selama 3 tahun itu pula, Mulan tidak lagi bisa berdamai dengan kehidupan. Setengah dari nyawanya sudah diambil oleh Yang Maha Kuasa, tapi ia masih tidak bisa menerima kenyataan itu. Orang yang menjadi penyemangatnya, sosok yang menjadi senyumnya, sudah tidak ada. Kini dia sendirian.

Kedua orangtuanya tidak bisa berbuat apa-apa, para sahabatnya pun tak bisa membuat dia melupakan Wisnu. Terlalu banyak kenangan antara Mulan dan Wisnu. Hubungan yang sempurna untuk cinta yang sempurna bagi pasangan yang sempurna tetap hidup di hati Mulan.

Mulan melangkah pelan di taman tempat cinta dan mimpinya terbaring untuk selamanya. Berbagai batu berukiran indah membuatnya menitikkan air mata, mengingat salah satunya adalah setengah dari hidupnya.

Mulan berhenti di sebuah nisan. Duduk dengan perlahan, mengelus nisan putih bertuliskan nama Wisnu, tanggal lahir, dan tanggal wafatnya. Mulan tidak bisa membendung airmatanya. Semua kenangannya bersama Wisnu tak pernah berhenti bergulir tiap detik dalam hidupnya. Wisnulah kehidupannya, pusat dari semestanya. Tapi kini tak ada lagi Wisnu.

Mulan membacakan doa dengan takzim bagi cintanya. Dia tahu Wisnu tak kan kembali, tapi suatu saat nanti mereka pasti akan bertemu lagi, di lain tempat dengan keadaan yang jauh lebih baik. Di suatu tempat di langit sana yang di sebut surga, Wisnu sedang menunggunya datang.

Seandainya dulu tidak ku turuti maumu, kamu pasti masih di sini. Seandainya dulu kau mau menahan hasratmu, kita masih bersama. Seandainya hari itu tak pernah ada, kita masih bisa saling memandang, sayang.

8 pemikiran pada “Seandainya

  1. dewi dawe dewi

    Jadii keingett sm almarhum (˘̩̩̩-˘̩̩̩) (-̩̩-̩̩_-̩̩-̩̩)
    Jahaaatt tellyy bkin crita kek ginii (˘̩̩̩_˘̩̩̩) (˘̩̩̩_˘̩̩̩)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s