Siluet


Pernahkah kamu terpikir untuk mewarnai sendiri pelangimu? Menyalakan sendiri langitmu? Inginkah kamu menentukan kapan airmata dan senyuman harus menghampirimu? Menciptakan duniamu sendiri? Itu yang sedang Aku pikirkan, hingga Aku tak sadar Kamu datang dan merusak lamunannya.

Aku, seperti Kamu, hidup dalam dunia yang realitanya tak seindah paduan warna dalam lukisan Ayah, dimana sebuah air terjun mengalir menuju sebuah sungai beriak tenang di antara tanaman hijau besar dan kecil. Kayu, daun, air, angin, tanah,  bunga, burung, kupu-kupu, semua menikmati hidup, meski hanya sedikit cahaya yang mampu menyinari kehidupan mereka dalam redupnya cahaya hutan mereka. Tidak seperti itu, Aku hidup hanya sebagai siluet, hanya bisa membayangkan warna, karena sesungguhnya warna itu ada di dunia yang lain, di dunia yang kata Ibu sangat jauh, tempat dewa dan dewi bernyanyi dan menari sepanjang waktu bersama para malaikat dan Tuhan mengawasi mereka dengan tersenyum. Bahkan dalam lukisan Ayah, Aku hanya dapat membayangkan seperti apa warna itu.

Seperti apa warna itu? Apakah hitam dan putihku termasuk di dalamnya? Tanya Aku pada dirinya sendiri.

Kamu datang tiba-tiba dan langsung saja mengagetkan Aku. Menertawakan khayalan Aku tentang warna dunia, seperti biasanya, tanpa bosan. Kamu tahu Aku marah, tapi Kamu terlalu senang melihat Aku yang kaget dan lalu marah-marah. Mereka sahabat, bersahabat sejak dulu, sejak dunia mereka belum menyiluetkan semua isinya, kata para tokoh yang dituakan, sejak Ibu mereka pun masih berada dalam kandung nenek mereka, karena mereka seperti satu siluet yang terpisah tapi tetap bersama dengan cara yang berbeda, soulmate kata orang. Mereka bersahabat dan tidak ada yang akan pernah bisa merubah itu.

Aku tahu betul bahwa Kamu hanya bercanda tiap kali menertawakan khayalan Aku tentang warna-warni dunia karena Kamu sendiri pun selalu berusaha mencari tahu, kemana semua warna pergi, apa yang menyebabkan semua menjadi sekedar siluet. Mereka berusaha dan terus berusaha, bertanya dan bertanya, pada orangtua mereka, pada para tokoh, pada para pemimpin negeri siluet mereka, tapi tak ada yang bisa menjawab, bahkan para pemimpin hanya menghardik mereka dengan sebutan Orang-Kurang-Kerjaan. Ada apa sebenarnya? Tak seorangpun mampu menjawab.

Suatu ketika mereka melihat kenyataan menyedihkan pada salah satu teman mereka. Hidupnya berkecukupan, siluet yang cantik, banyak teman, pintar, dan banyak disukai lelaki. Namanya Shadow. Tak ada yg kurang dari Shadow dan hidupnya, semua mendekati sempurna, jika memang tidak ada yang sempurna. Lalu kemudian, sebuah desas-desus merusak semua yang hampir sempurna tentang Shadow. Shadow hamil, di luar nikah dengan siluet lelaki yang entah siapa. Shadow tidak mau membuka mulut. Ketika ditanya kenapa, Shadow hanya berkata, “Warna-warni tak ada, biarkan aku mewarnai sendiri duniaku. Meskipun aku tahu ini salah.”

Aku dan Kamu makin tidak mengerti. Semua siluet, ternyata, juga menginginkan hal yang sama. Mereka menginginkan warna kembali. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana cara mengembalikan warna? Mereka mencari dan terus mencari tahu.

Tapi sayangnya, semuanya hanya seperti omong kosong. Mereka hanya berdua, berusaha sendiri tanpa ada tanda-tanda akan berhasil. Siluet yang lain memang menginginkan warna kembali, tapi mereka juga tidak tahu harus bagaimana untuk mengembalikan warna. Mereka juga sudah terbiasa dengan kegelapan yang mewarnai dunia mereka. Warna benar-benar sudah hilang. Mungkin akan muncul kembali, tapi butuh waktu yang lama dan butuh banyak perubahan.

Warna masih ada, hanya tak tersentuh. Terletak jauh di dalam, di dalam hati kecil yang menunggu untuk dijamah akal sehat. Aku dan Kamu bahkan tak menyadari kenyataan itu. Perlahan-lahan pun, Aku dan Kamu mulai terlarut dalam siluet hitam-putih mereka. Entah kapan warna akan kembali menyentuh mereka. Waktu pun sulit untuk menjawab dan memastikan itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s