Rumah Impianku


Sekali lagi awan kelabu memeluk langit. Cuaca yang tak tentu membuat tubuh ini rasanya tak ingin beranjak dari kursi dan membuat mata ini melihat terus ke arah laptop. Berbagai macam catatan telah ku baca, beberapa di antaranya membahas tentang rumah, sebuah simbol yang lumayan kompleks untuk sebuah perasaan, kalau aku bilang. Mungkin aku juga ingin menulis tentang rumah, sekedar untuk mengisi blog yang mulai berdebu, kata Pria Hujan. Tapi aku tak ingin menuliskan kesepian atau pun kekecewaan, aku ingin menuliskan mimpi yang akan aku rangkai dengan harapan.

Kelak, ketika aku berhasil mewujudkan doa ke dua orangtuaku, yaitu keberhasilan, tentu saja aku ingin menemukan sebuah rumah yang tepat sebagai tempat aku berlindung dan menghabiskan waktuku. Sebuah rumah yang tidak besar, tapi juga tidak kecil. Cukup dengan 3 kamar. Satu untukku, satu untuk tamu-tamuku, dan satu untuk orangtuaku.

Di setiap rumah tentu saja tuan rumah harus memiliki kamar terbaik, begitu pun mauku. Kamarku haruslah bisa membuatku merasa nyaman. Tak hanya untuk siang yang terik, tapi juga untuk malam yang dingin. Kamarku haruslah mampu menjadi pelarianku yang terbaik saat dunia sedang tidak berpihak padaku.

Lalu kamar untuk tamu-tamuku. Banyak yang berpikiran, buat apa kamar tamu, toh jarang ada yang berkunjung apalagi memutuskan untuk menginap? Bukannya sombong, tapi aku punya banyak teman. Teman-temanku pun, terutama para sahabatku, juga harus mendapatkan tempat terbaik di rumahku. Baik buruknya rumahku, mereka adalah salah satu yang akan menilainya. Kamar mereka tak harus besar, asal mereka merasa nyaman, itu sudah lebih dari cukup.

Kamar orangtuaku. Orangtuakulah yang harus mendapat pelayanan terbaik di rumahku, bahkan lebih dari aku. Aku mengagungkan kedua orangtuaku setelah Tuhan yang aku sembah dalam lima waktu hari-hariku. Rumahku pun haruslah memenuhi segala persyaratan yang orangtuaku inginkan. Kamar mereka pun harus sesuai dengan apa yang mereka inginkan, semua yang terbaik akan aku berikan untuk membahagiakan mereka.

Selain kamar, di dalam rumahku kelak akan ada ruang tamu untuk menyambut semua orang yang aku sayangi. Dengan beberapa sofa minimalis dan sebuah meja panjang yang berhias fas bunga kaca dengan bunga lili putih sebagai pelengkapnya. Ramah dan menyenangkan. Ruang tengah rumahku hanya ada karpet dan televisi, serta beberapa bantal kecil jika saja aku tertidur saat sedang asik menonton berbagai tayangan, yang kata orang tidak mendidik, tapi menurutku itulah hiburan; membodohi diri sendiri. Ruang ini haruslah hangat dan tak membosankan. Lalu dapur, kitchen set harus sempurna, pusat kodratku sebagai wanita adalah dapur, jika aku tak sibuk. Dan yang terakhir, toilet. Tempat aku menumpahkan, membuang, dan menguras segala yang dapat mengganggu keseluruhan ragaku dan toiletku haruslah mampu menampung semua sampah yang ku keluarkan. Inti dari semuanya, rumahku haruslah nyaman bagiku, dapat memenuhi segala kebutuhanku, dan dapat melindungiku, begitu kata Papaku.

Setelah isi rumah, kini aku memikirkan tampak luar rumahku. Taman rumahlah awal dari semua pandangan orang tentang rumah, sebagaimana sampul pada buku. Rumput di rumahku haruslah hijau, kalau bisa yang paling hijau di antara rumah yang lain, pesan Mamaku. Betul katanya, meskipun awalnya aku tidak setuju karena bagiku paving block saja sudah cukup. Mungkin nanti aku akan menanam pohon flamboyan di depan rumah. Besar, tegas, dan mampu merindangi rumah saat matahari sedang bersukacita di langit sana. Bunganya pun cantik saat musim berbunga, merah, dan jumlahnya tak pernah sedikit. Mataku akan sangat puas jika melihatnya tumbuh dan banyak mata memandang iri padaku sebagai pemilik pohon besar yang elok itu. Ketegasan pada tiap serat kayunya dan pesona yang ditebar oleh bunga-bunganya, mata siapa yang mampu menolaknya.

Selain pohon, aku juga akan menanam bunga. Mungkin mawar karena aku suka mawar. Merah dan putih. Kekuatan dan keanggunan. Sangat pas. Kalau mawar-mawarku sudah berbunga, pasti akan banyak tangan jahil yang ingin memetik mereka karena mereka terlalu cantik. Tapi aku yakin, mereka tak akan mudah di petik, mereka akan mengeluarkan duri-duri mereka bagi yang ingin berbuat macam-macam. Mawar-mawarku pasti akan membuat banyak orang ingin memilikinya juga.

Apa aku sudah bilang kalau aku menginginkan model rumah minimalis? Ya, aku ingin rumah yang minimalis. Sederhana tapi tetap berkelas. Modernitasnya tidak membatasi tiap lekuk dindingnya untuk tampil sebagai hasil karya jenius. Tiang-tiang yang kuat, yang menopang tiap dindingnya, tidak ia pamerkan, malah ia sembunyikan dalam suramnya abu-abu dan kelamnya hitam, yang justru membuatnya makin terlihat menarik. Bagaimana mungkin aku tidak menyukai rumah seperti ini? Hampir sempurna, tapi tetap berusaha tampil seminimalis mungkin, sesederhana mungkin. Model rumah yang mampu memberikan nilai tambah di mata para tim penilainya.

Aku tak butuh banyak bagian untuk menceritakan rumah impianku, hanya satu ini saja cukup. Mungkin nanti, ketika aku telah menemukan rumah impianku, aku akan membukakan pagarnya untuk kalian dan memperlihatkannya pada kalian. Dan jika waktu itu telah tiba, silahkan kalian menilainya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s