Di Ujung Pelangi


Buliran air langit menetes perlahan membasahi jendela kamar Fleur. Rencananya di hari minggu ini untuk membaca buku dalam ketenangan taman rumahnya pun terpaksa dibatalkan dan berpindah ke dalam rumah. Sebenarnya, baik di taman maupun di dalam rumah sama tenangnya, toh dia memang tinggal sendirian.

Dibawanya secangkir besar susu coklat panas yang baru saja diseduhnya ke arah sebuah meja bundar kecil di dekat jendela kamarnya. Di atas meja sudah terdapat buku yang ingin dibacanya, sebuah novel dari seorang penulis favoritnya. Baru saja Fleur terduduk di pinggiran jendelanya yang agak menjorok keluar, perhatiannya langsung teralihkan ke arah vas bunga lily di mejanya. Seekor capung merah, yang entah masuk lewat mana ke dalam rumahnya, sedang hinggap di salah satu bunga lily.

Fleur kemudian mengalihkan kembali perhatiannya kepada apa yang ingin ia lakukan. Disesapnya sedikit susu coklatnya, lalu kemudian ia ambil novel di meja. Baru saja Fleur akan mulai membaca halaman pertama novelnya, si capung merah lalu terbang ke arahnya dan mendarat tepat di atas lututnya.

Fleur memandangi capung itu dengan heran. Tak biasanya ada seekor capung yang dengan berani hinggap di tubuh manusia.

“Hey Fleur, kau mau dengar sebuah cerita?” tiba-tiba terdengar sebuah suara menyapanya. Fleur jelas saja kaget.

“Kau siapa?” tanya Fleur dalam ketakutannya. Dia sudah berpikiran bahwa rumahnya ada “penunggunya”.

“Kau tak usah setakut itu, Fleur. Aku adalah capung yang hinggap padamu,” kata suara itu, yang memang tidak terdengar menakutkan malah terdengar sangat ramah.

Fleur langsung saja menatap capung di lututnya yang kini mengepak-ngepakkan sayap tipisnya.

“Kamu yang bicara?” tanya Fleur pada capung dan dalam sesaat merasa dirinya sudah gila karena bicara pada seekor capung.

“Iya, aku yang bicara.” Capung itu tampak mengepak-ngepakkan sayapnya lagi. “Aku punya sebuah cerita yang bagus. Kau mau dengar?” tanya capung itu lagi, mengulang kembali pertanyaannya.

“Cerita?” Fleur tidak lagi memikirkan kemungkinan dirinya gila karena kini ia menjadi penasaran dengan apa yang dikatakan capung. Sebuah cerita.

“Ya, sebuah cerita. Cerita yang ku dengar dari mulut ke mulut selama perjalananku menuju kepadamu,” kata capung dengan mantap.

“Baiklah, ceritakan padaku,” Fleur setuju.

“Perbaikilah dulu posisi dudukmu, buat dirimu senyaman mungkin, karena cerita ini tidaklah singkat, Fleur,” capung mengingatkan.

Fleur pun mengikuti kata-kata capung dengan menempatkan sebuah bantal di punggungnya dan menggenggam cangkir susunya untuk menghangatkang tangannya yang mulai mendingin karena hujan.

“Ceritakanlah,” kata Fleur pada capung.

Capung pun mulau bercerita.

***

Di masa yang lampau, di sebuah tempat yang jauh, tempat yang mampu melampaui batas imajinasi seorang anak, terdapatlah sebuah negeri. Negeri ini tak bernama, hanya saja tiap orang yang tanpa sengaja mengunjungi negeri ini selalu menyebutnya Negeri Di Ujung Pelangi karena pelangi-pelangi yang muncul di dunia kita selalu berujung di negeri itu. Jika kau bertanya di mana letak negeri ini, lihat saja dimana pelangi berada dan carilah ujungnya.

Menurut cerita, Negeri Di Ujung Pelangi adalah negeri yang penuh dengan cinta dan kedamaian. Negeri itu dipayungi oleh rasa kasih terhadap sesama. Tak ada seorang pun yang saling membenci. Negeri ini dipimpin oleh Raja Sirius dan Ratu Hera. Mereka adalah pemimpin yang sangat berbahagia karena negeri yang mereka pimpin tak pernah memiliki masalah yang berarti. Tapi, ada satu hal yang selalu membebani pikiran mereka, yaitu putri mereka, Putri Lily.

Putri Lily sudah berumur 19 tahun, tapi belum juga menikah. Padahal, pada umumnya wanita di Negeri Di Ujung Pelangi sudah menikah saat berumur 17 tahun. Bukannya tak ada Pangeran yang ingin meminang Putri Lily, tapi Putri Lily yang tak menerima satu pun pinangan dari para Pangeran yang datang untuk melamarnya.

“Aku hanya akan menerima pinangan dari Pangeran yang benar-benar aku cintai,” kata Putri Lily pada setiap Pangeran yang datang melamarnya sebagai bentuk penolakan secara halus.

Perangai Putri Lily yang ceria, pintar, penyuka seni, dan penuh kasih sayang sangat menarik hati para Raja dan Ratu dari berbagai negeri antah berantah untuk menjadikannya menantu. Para Pangeran pun begitu jatuh hati pada sosoknya yang cantik, anggun, dan pemberani. Tidak heran jika para Pangeran yang datang untuk melamarnya tidak segan untuk memberikan segunung hadiah jika lamaran mereka diterima. Tapi tetap saja, Putri Lily kukuh pada pendiriannya.

Berdasarkan desas-desus yang beredar, ternyata Putri Lily tidak menerima setiap lamaran yang datang padanya karena sesungguhnya Putri Lily sudah jatuh cinta pada seorang Pangeran sejak ia berumur 18 tahun. Seorang Pangeran yang tanpa sengaja ia temui ketika sedang melancong bersama para sepupunya di negeri tempat tinggal Pangeran itu, Negeri Di Tengah Kahyangan. Pangeran itu bernama Pangeran Yudha.

Pangeran Yudha adalah sahabat dari sepupu Putri Lily, Pangeran Andrew. Awalnya, Putri Lily tak tertarik sedikit pun pada Pangeran Yudha. Perkenalan mereka di Negeri Di Tengah Kahyangan hanya sebatas perkenalan antara tuan rumah dan tamunya.

Pangeran Yudha adalah sosok yang sangat mencintai seni. Ia pandai menuliskan puisi, membuat syair lagu, bernyanyi, bermain alat musik, dan sangat menggemari drama. Tapi bagi Putri Lily itu adalah hal yang biasa saja.

Lalu kemudian, di sebuah pesta yang diadakan Negeri Di ujung Pelangi, Pangeran Andrew mengundang serta Pangeran Yudha dan kedua orangtuanya untuk menghadiri pesta itu. Putri Lily kembali bertemu dengan Pangeran Yudha dan sekali lagi pertemuan itu hanya sesaat. Tapi, satu hal yang akan terus dikenang Putri Lily adalah bahwa di penghujung malam Pangeran Yudha menitipkan sebuah salam untuknya lewat Putri Lydia, sepupu Putri Lily yang juga adalah adik dari Pangeran Andrew. Salam untuk mengenal Putri Lily lebih dekat karena Pangeran Yudha jatuh hati pada Putri Lily saat melihatnya turun dari lantai 2 istana dengan sangat anggun bersama kedua orangtuanya.

Awalnya salam itu tak berarti apa-apa bagi Putri Lily, tapi dengar dulu cerita sebelum salam itu disampaikan. Ketika Putri Lily yang bosan dengan suasana pesta memutuskan untuk kembali ke kamarnya karena sudah lelah menolak semua ajakan dansa dari para Pangeran yang diundang, Pangeran Yudha, Pangeran Andrew, Putri Lydia, dan beberapa sahabat Pangeran Andrew sedang berkumpul dan bercerita di salah satu meja di sudut ruangan dansa.

Ketika itu, Pangeran Yudha menceritakan banyak hal kepada para sahabatnya. Ia menceritakan tentang perjalanan cintanya, tentang keluarganya, dan tentang berbagai hal. Putri Lydia yang mendengar dengan seksama setiap kisah yang Pangeran Yudha ceritakan lalu menceritakan ulang semua cerita masa lalu Pangeran Yudha kepada Putri Lily keesokan harinya.

Putri Lily yang awalnya kurang tertarik mendengar cerita Putri Lydia tentang Pangeran Yudha, langsung menjadi sangat tertarik ketika Putri Lydia menceritakan bagaimana seorang Pangeran seperti Pangeran Yudha rela melakukan segala-galanya untuk orang yang ia cintai. Pangeran Yudha rela mengorbankan apa pun untuk mendapatkan sekedar perhatian dari orang yang ia cintai. Meskipun pada akhirnya ia harus menerima kenyataan pahit bahwa orang yang ia cintai ternyata telah dimiliki oleh orang lain.

Jantung Putri Lily berdegup. Kencang tapi menenangkan. Ada sesuatu dalam cerita itu yang membuatnya merasa bahwa apa yang ia cari selama ini telah ia temukan. Sesuatu yang begitu tulus tidak menuntut balasan apa pun. Cinta yang murni dari dalam hati, cinta yang tulus tanpa embel-embel apapun. Hanya cinta itu saja.

Seketika Putri Lily merasa jatuh cinta. Putri Lily jatuh cinta pada sosok yang tak ia kenali bagaimana rupanya, karena meskipun telah 2 kali bertemu, dirinya tak pernah sekalipun memperhatikan wajah Pangeran Yudha. Dan kini, ia sangat ingin bertemu kembali dengan Pangeran Yudha.

Tapi, ada satu hal yang membuat Putri Lily agak berkecil hati. Ternyata Pangeran Yudha pernah menyukai Putri Lydia. Putri Lily, jika dibandingkan dengan Putri Lydia, tentu saja tak sebanding. Putri Lydia jauh lebih jelita dibanding dirinya. Hanya saja, ia adalah putri mahkota Negeri Di Ujung Pelangi hingga para Pangeran lebih banyak yang meminangnya dibanding Putri Lydia. Tapi kemudian Putri Lily sadar bahwa Putri Lydia telah memiliki tunangan yang sangat ia cintai. Bukan bermaksud jahat, tapi Putri Lily sangat senang ketika menyadari hal itu.

“Lalu, apa lagi kata Pangeran Yudha?” tanya Putri Lily dengan sangat antusias.

“Katanya, Pangeran Yudha akan segera mengirimkan surat untukmu, kak,” kata Putri Lydia yang sudah bagaikan adik kandung bagi Putri Lily yang seorang anak tunggal.

Sepanjang malam Putri Lily tak bisa tidur nyenyak dan hanya bisa tersenyum terus menerus. Putri Lily tak hentinya memikirkan tentang Pangeran Yudha. Bagaimana wajah Pangeran yang telah membuatnya jatuh cinta itu? Putri Lily sangat penasaran.

Keesokan harinya, seorang kurir pengantar dari Negeri Di Tengah Kahyangan datang dan mencari Putri Lily. Putri Lily langsung berlari kegirangan menghampiri kurir itu, menerima surat untuknya, dan lalu memberikan sekantung hadiah untuk kurir itu. Kurir itu kaget, merasa sangat senang, dan hanya dapat berucap terimakasih pada Putri Lily sebelum ia pamit untuk mengantar titipan lainnya.

Putri Lily membuka gulungan suratnya perlahan, sangat pelan seakan takut jikalau kertas itu hancur saat terkena angin. Putri Lily membacanya dengan sebuah senyuman tersungging manis di bibirnya.

Untuk Putri Lily

Dengan segala hormat dan kerendahan hati, maafkan atas kelancangan saya mengirimkan surat ini pada Yang Mulia. Apakah Putri Lydia telah memberitahukan pada Yang Mulia perihal surat ini? Semoga dia sudah memberitahukannya, kalau belum maka betapa malunya saya telah sedemikian lancang menulis dan mengirimkan surat ini.

Jikalau Yang Mulia telah menerima surat ini dan telah mendengar perihal surat ini dari Putri Lydia, kiranya sudilah Yang Mulia untuk membalas surat saya ini, sehingga saya tahu apakah yang saya perbuat ini adalah hal yang benar atau malah sebaliknya.

Pangeran Yudha

Putri Lily menari-nari di dalam kamarnya. Kucing kecilnya, Lova, hanya bisa mengeong-ngeong ke arah tuannya yang sedang berbahagia sendiri.

“Seandainya kau melihat betapa bahagianya aku menerima surat darimu, maka betapa malunya aku,” kata Putri Lily pada surat yang seakan sedang berdansa dengannya itu.

Putri Lily langsung saja membalas surat Pangeran Yudha dengan perasaan senang tiada terkira. Senyumnya mengembang sedemikian lebarnya memamerkan deretan gigi putihnya. Putri Lily juga tak hentinya mendendangkan lagu-lagu cinta kesukaannya selama menulis surat.

Kegiatan surat-menyurat Putri Lily dan Pangeran Yudha tak terasa telah berlangsung selama 6 bulan. Hingga suatu hari Pangeran Yudha mengajak Putri Lily bertemu yang langsung saja diiyakan oleh Putri Lily. Mereka pun berjanji untuk bertemu di sebuah taman di Negeri Di Ujung Pelangi.

Tanpa mereka duga, ternyata kegiatan surat-menyurat mereka diketahui oleh Putri Sarah, seorang Putri dari Negeri Di Dasar Dunia. Putri Sarah sudah lama memendam perasaan suka pada Pangeran Yudha, tapi Pangeran Yudha tak pernah membalasnya. Seluruh negeri antah berantah tahu bagaimana buruknya perangai Putri Sarah, jadi tidak heran jika banyak yang tidak menyukainya, termasuk Pangeran Yudha sendiri.

Putri Sarah yang tidak terima cintanya ditolak oleh Pangeran Yudha lalu menghancurkan setiap hubungan cinta Pangeran Yudha, sehingga Pangeran Yudha terus-terusan merasakan patah hati. Tapi kini Pangeran Yudha telah menemukan cinta yang baru, yaitu Putri Lily, dan Putri Sarah tidak suka itu. Putri Sarah pun berencana untuk menghancurkan hubungan Pangeran Yudha dengan Putri Lily. Tapi belum sekarang, ia menunggu saat yang benar-benar tepat hingga baik Pangeran Yudha maupun Putri Lily tak akan pernah melupakan rasa sakit yang ia berikan.

“Tunggu saja. Kali ini kau akan benar-benar menyesal telah menolakku dulu, Pangeran,” kata Putri Sarah sambil menyeringaikan senyum jahatnya.

Sementara itu pertemuan Putri Lily dan Pangeran Yudha tidak berjalan terlalu lancar karena baru sebentar mereka berkenalan secara langsung hujan badai tiba-tiba saja turun di Negeri Di Ujung Pelangi. Putri Lily pun menyuruh Pangeran Yudha untuk segera pulang sebelum hujan badai makin deras. Putri Lily agak kecewa memang, tapi dia sudah cukup senang telah melihat wajah Pangeran Yudha secara langsung.

Hubungan Putri Lily dan Pangeran Yudha terus berlanjut, baik melalui surat maupun lewat beberapa pertemuan. Tak jarang pertemuan mereka hanya sebentar saja karena cuaca berubah secara tiba-tiba. Ternyata Putri Sarah yang pandai sihir yang menciptakan segala hujan, badai, dan segala macam kejadian yang tiba-tiba itu.

Pertemuan Putri Lily dan Pangeran Yudha tak hanya di taman Negeri Di Ujung Pelangi, kadangkala di sebuah tempat bersejarah, semacam museum, yang berada di pinggir Negeri Di Ujung Pelangi. Di tempat itu ada sebuah alat yang disebut mesin penenun hujan oleh penduduk Negeri Di Ujung Pelangi. Mesin itulah yang konon katanya menjadi cikal bakal hingga banyaknya pelangi yang berujung di Negeri Di Ujung Pelangi. Konon katanya lagi, jika seseorang menggunakan mesin penenun hujan maka akan muncul Pelangi Kembar yang jika kita salah menyentuh kembarannya dan bukan pelangi aslinya, maka kita akan lenyap.

Putri Lily dan Pangeran Yudha menyukai tempat bersejarah itu karena suasana di tempat itu sangat menyenangkan. Banyak ujung pelangi berada di tempat itu. Warna-warni pelangi memantul di sana-sini, seakan menjadi pewarna bagi bunga-bunga yang ditanam di tempat itu, membuat keindahannya semakin menjadi-jadi. Di tambah lagi dengan hadirnya menara tempat menyimpan mesin penenun hujan, tempat itu semakin terlihat menakjubkan.

Sementara itu, Raja Sirius dan Ratu Hera belum mengetahui kalau putri mereka sedang jatuh cinta. Mereka hanya tahu kalau belakangan ini putri mereka sangat senang berjalan-jalan di luar istana. Mereka tidak tahu kalau sang Putri sedang menemui pujaan hatinya. Mereka juga tidak tahu kalau hampir tiap 3 hari sebuah surat yang ditujukan untuk Putri Lily masuk ke kotak surat istana. Karena mereka tidak tahu, makanya setiap kali ada Pangeran yang datang untuk meminang Putri Lily selalu mereka terima.

Tak terasa hubungan Putri Lily dan Pangeran Yudha sudah berjalan 2 tahun. Malam ini adalah malam perayaan ulangtahun ke-20 Putri Lily, malam yang tepat untuk memperkenalkan Pangeran Yudha kepada kedua orangtuanya, begitu pikir Putri Lily.

Di lain tempat, Putri Sarah yang mengetahui bahwa malam ini adalah ulangtahun Putri Lily yang ke-20, sangat yakin bahwa Putri Lily akan mengundang Pangeran Yudha ke pesta ulangtahunnya. Putri Sarah pun menyusun rencana karena malam ulangtahun Putri Lily adalah malam yang paling tepat untuk memisahkan Putri Lily dan Pangeran Yudha.

Di istana, Putri Lily sudah berdandan secantik mungkin dan memakai gaun terbaiknya agar ia dapat mempesona Pangeran Yudha. Putri Lydia yang membantunya berdandan tak habis-habisnya memuji kakak sepupunya itu.

“Kakak, kau sungguh sangat cantik malam ini,” puji Putri Lydia.

Putri Lily tersenyum lalu mencubit gemas Putri Lydia. “Itu sudah untuk yang kesekiankalinya kau mengatakan aku cantik. Kau membuatku malu, dik.”

Putri Lydia tertawa renyah mendengar kata-kata Putri Lily sambil membetulkan letak gaun Putri Lily.

“Kakak, maafkan aku jika aku lancang, tapi untuk apa atau siapakah kau berdandan secantik ini? Untuk ulangtahunmukah atau untuk Pangeran Yudha yang tampan itu?” goda Putri Lydia yang seketika saja memburatkan rona merah di kedua pipi Putri Lily.

Putri Lily tidak menjawab pertanyaan Putri Lydia karena bahkan wajah yang memerah itu sudah cukup menjawab. Tawa Putri Lydia makin menjadi sambil menggoda Putri Lily yang makin malu dibuatnya.

Semoga dia segera datang, ucap Putri Lily dalam hatinya. Putri Lily sangat berharap.

Putri Sarah sedang bersiap di tempat persembunyiannya, di pinggir Negeri Di Tengah Kahyangan, dengan penyamaran sempurna hasil kerja sihirnya untuk mengelabui Pangeran Yudha. Putri Sarah menyamar menjadi Putri Cleo, mantan kekasih Pangeran Yudha yang sangat dicintai oleh Pangeran Yudha. Tapi sebelum itu, Putri Sarah telah mengirimkan sebuah surat untuk Putri Lily dengan mengikuti tulisan tangan Pangeran Yudha.

Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya kereta kuda Pangeran Yudha nampak juga di pelupuk matanya. Putri Sarah bersiap-siap untuk mengelabui Pangeran Yudha.

Sementara itu, di Negeri Di Ujung Pelangi, pesta ulangtahun Putri Lily pun segera dimulai. Musik sudah mengalun memenuhi ruang dansa istana. Ratu Hera pun sudah menjemput putrinya di kamar untuk segera turun.

“Pangeran Yudha, pasti akan segera datang, kak,” bisik Putri Lydia pada Putri Lily ketika mereka sudah sampai di ruang dansa istana, tapi Pangeran Yudha belum juga tampak.

“Semoga,” ucap Putri Lily penuh harap.

Kembali ke Negeri Di Tengah Kahyangan, Putri Sarah berhasil membuat kereta kuda berhenti dan membuat Pangeran Yudha turun menghampirinya dengan berpura-pura jatuh dan terus memohon untuk bertemu dengan Pangeran Yudha. Pangeran Yudha yang mengenal suara wanita yang kata pengawalnya terjatuh di depan kereta kudanya, langsung saja turun dan menghampiri wanita itu. Alangkah kagetnya Pangeran Yudha ketika kembali melihat wajah Putri Cleo. Putri Sarah dalam wujud Putri Cleo langsung saja memeluk Pangeran Yudha.

“Yudha, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan,” kata Putri Sarah dengan cara bicara yang sama persis dengan Putri Cleo yang asli. Putri Sarah tertawa terkekeh-kekeh di dalam hatinya ketika ia tahu kekuatan sihirnya sungguh hebat karena dapat mengelabui Pangeran Yudha.

Awalnya Pangeran Yudha menolak karena sedang terburu-buru, tapi kemudian dia mengiyakan karena merasa iba dan sepertinya apa yang ingin Putri Cleo adalah hal yang sangat penting hingga ia hampir mengorbankan dirinya terlindas kereta kuda hanya untuk menyampaikan sesuatu hal yang penting itu kepadanya. Mereka pun menuju ke taman Negeri Di Tengah Kahyangan, tempat yang dipilih oleh Putri Cleo.

Di istana di Negeri Di Ujung Pelangi, ada seorang pelayan yang menghampiri Putri Lydia dan membisikkan sesuatu ke telinga Putri Lydia dan lalu berpamit pergi. Setelah itu Putri Lydia lalu menghampiri Putri Lily yang sedang para tamu yang menghadiri pesta ulangtahunnya. Putri Lydia juga membisikkan sesuatu ke telinga Putri Lily yang kemudian memohon permisi dari para tamu yang sedang disapanya dan berlalu menuju ke arah belakang istana.

Di belakang istana pelayan yang tadi menghampiri Putri Lydia sudah menunggu Putri Lily dengan sebuah amplop di tangannya.

“Maaf, Putri, ada surat dari Negeri Di Tengah Kahyangan untuk Putri,” kata si pelayan sambil menundukkan kepalanya. “Maafkan saya pula karena telah lancang meminta Putri datang kemari karena pengirim surat ini meminta saya untuk melakukannya karena katanya Putri akan marah jika saya memberikan surat ini di depan Raja dan Ratu,” pelayan itu makin menundukkan kepalanya karena takut akan dihukum karena kelancangannya.

“Tidak apa-apa. Berikan saja surat itu padaku dan kembalilah melayani para tamu,” kata Putri Lily dengan bijak, pelayan itu pun langsung berlalu setelah menyerahkan surat pada Putri Lily.

Putri Lily membaca surat itu dengan cepat. Selesai membaca surat itu, Putri Lily langsung pergi meninggalkan istana dan menjatuhkan surat itu begitu saja ke lantai istana. Tak ada yang tahu kalau Putri Lily pergi meninggalkan istana.

***

“Cepatlah, Cleo! Katakan saja apa yang ingin kau katakan karena aku sedang sangat buru-buru,” pinta Pangeran Yudha pada Putri Sarah, agak memaksa.

“Ijinkanlah aku memohon maafmu dahulu, Yudha, karena aku telah menghambat perjalananmu dan ternyata aku juga telah mengganggu kegiatanmu,” basa-basi Putri Sarah untuk mengulur sebanyak mungkin waktu. “Aku juga minta maaf dari hatiku yang terdalam karena dulu telah mencampakkanmu,” sambung Putri Sarah.

“Sudahlah, Cleo. Tidak apa-apa, aku sudah melupakan semua itu, itu semua adalah masa lalu,” kata Pangeran Yudha yang terdengar sangat tergesa-gesa, karena sesungguhnya dia merasa sangat tidak nyaman dengan keberadaan Putri Cleo di dekatnya, sedangkan di sudut hatinya yang lain, Putri Lily telah mengambil tempat selama 2 tahun belakangan ini. “Lalu, apa yang sebenarnya membuatmu datang ke negeriku ini?”

“Mmm, Yudha, aku tidak tahu apakah aku akan melakukan hal yang benar atau salah, karena aku tahu sekarang di hatimu hampir tidak tersisa sedikitpun tempat untukku,” Putri Sarah menghentikan sesaat kata-katanya. “Bolehkah aku meminta kembali padamu?” kata Putri Sarah, kalimat pamungkasnya ia keluarkan.

Pangeran Yudha kaget bukan kepalang karena kata-kata Putri Cleo itu. Hatinya langsung saja menjadi galau.

“Apa maksudmu, Cleo?”

“Aku hanya ingin kita kembali bersama, Yudha. Aku menyesal dulu telah mencampakkanmu. Ternyata Pangeran yang dulu mengaku cinta padaku hanya menginginkan hartaku, kini ia yang mencampakkanku hingga aku terlihat seperti gelandangan saat ini,” kata Putri Sarah dengan mimik muka yang ia buat semeyakinkan mungkin.

Sementara itu, di Negeri Di Ujung Pelangi, Putri Lily telah sampai di menara mesin penenun hujan. Entah apa yang membuat Putri Lily menjadi begitu tergesa-gesa dan langsung menjalankan mesin penenun hujan yang sudah ratusan tahun tidak difungsikan itu. Putri Lily mulai menenun hujan.

Di istana di Negeri Di Ujung Pelangi, Raja Sirius dan Ratu Hera, serta para tamu undangan mulai kebingungan mencari keberadaan Putri Lily yang tiba-tiba saja menghilang. Tak ada yang tahu dimana Putri Lily. Putri Lydia langsung saja mencari pelayan yang tadi berbisik padanya tentang sebuah surat yang harus pelayan itu sampaikan kepada Putri Lily.

“Dimana terakhir kali kau melihat Putri Lily?” tanya Putri Lydia pada pelayan itu ketika akhirnya ia menemukan pelayan itu sedang melayani para tamu di sudut ruang dansa. Mata Putri Lydia sampai melotot karena lelah mencari pelayan itu dan khawatir dengan keberadaan kakak sepupunya. Tanpa sadar, ia pun bersuara cukup keras hingga memancing perhatian seisi ruang dansa istana.

“D-di-di di belakang istana, Putri,” gagap pelayan itu karena terlalu ketakutan melihat raut amarah di wajah Putri Lydia.

Putri Lydia langsung berlari sambil mengangkat gaunnya menuju ke belakang istana dibarengi dengan pandangan heran Raja Sirius, Ratu Hera, dan para tamu. Pangeran Andrew yang sadar ada sesuatu yang tidak beres langsung menyusul adiknya menuju ke belakang istana. Curiga dengan gelagat kedua keponakan mereka, Raja Sirius dan Ratu Hera pun menyusul mereka.

Putri Lydia tidak menemukan Putri Lily di belakang istana. Putri Lily justru menemukan sebuah surat tergeletak di lantai istana, hampir saja terhempas oleh angin. Putri Lydia segera mengambil surat itu dan membacanya. Pangeran Andrew yang baru tiba langsung berhenti di belakang Putri Lydia dan membiarkan Putri Lydia menyelesaikan membaca surat.

Tak disangka Putri Lydia langsung terisak. Pangeran Andrew pun langsung mengambil surat di tangan Putri Lydia.

“Putri Lily, maafkan saya karena selama 2 tahun ini telah berbohong kepadamu. Sebenarnya saya tak pernah sedikit pun menyukaimu. Maafkan saya, Putri, jika selama ini membuat Putri mengira bahwa saya mencintai Putri. Maafkan say, tapi saya mencintai wanita lain.” Pangeran Andrew membaca surat di tangannya dengan wajah yang menunjukkan ekspresi tidak percaya dan makin tidak percaya di setiap katanya.

“Siapa yang mengirim surat ini, Lydia?” tanya Pangeran Andrew dengan penuh kemurkaan.

“Seseorang dari Negeri Di Tengah Kahyangan, Kak. Itu surat dari Pangeran Yudha kan?” jawab Putri Lydia di antara hisakan tangisnya.

“Bukan. Ini bukan dari Pangeran Yudha. Ini bukan tulisan Pangeran Yudha,” kata Pangeran Andrew. “Cepat kita cari Putri Lily sebelum terlambat,” sambung Pangeran Andrew.

Tanpa Pangeran Andrew dan Putri Lydia sadari, Raja Sirius dan Ratu Hera sudah berada di belakang mereka sejak tadi dan mendengar semuanya.

“Ada apa ini?” tanya Raja Sirius kemudian sebelum Pangeran Andrew dan Putri Lydia bergerak untuk mencari Putri Lily.

Tapi kemudian perhatian mereka teralihkan pada satu hal, kemunculan pelangi kembar. Semua kaget. Untuk pertamakalinya setelah ratusan tahun hanya hidup dalam legenda, pelangi kembar memunculkan dirinya. Semua orang di Negeri Di Ujung Pelangi langsung keheranan memandang pelangi kembar itu. Terpesona.

Pangeran Andrew yang pertama tersadar dari keheranan dan keterpesonaannya. Sedetik kemudian, ia menyadari satu hal. “Paman, apa legenda mengenai pelangi kembar itu benar?” tanya Pangeran Andrew langsung pada Raja Sirius.

“Yah, tentu saja! Tak ada legenda yang hanya sekedar cerita di negeri kita ini. Kau lihat sendiri kan,” jawab Raja Sirius sambil mendongak ke arah pelangi kembar yang juga baru pertama kali ia saksikan dalam hidupnya itu.

Setelah mendengar jawaban Raja Sirius, Pangeran Andrew langsung saja berlari bagai kesetanan keluar dari istana.

“Kak Andrew!” panggil Putri Lydia yang heran dengan tingkah kakaknya.

“Andrew, kau hendak kemana?” teriak Raja Sirius pada Pangeran Andrew yang telah berlari semakin menjauh.

“Putri Lily sedang menenun hujan, aku harus menghentikannya,” balas Pangeran Andrew yang sudah melupakan segala tata krama istana karena terlalu berupaya untuk berlari secepat mungkin menuju menara mesin penenun hujan. Perasaannya benar-benar tidak enak.

Ratu Hera yang mendengar kata-kata Pangeran Andrew menjadi kalap dan meminta kepastian suaminya.

“Suamiku, apa benar putri kita yang sedang menenun hujan hingga pelangi kembar itu muncul? Apa itu benar, suamiku?” suara Ratu Hera makin meninggi dan penuh penekanan pada kalimat terakhir.

Emosi Ratu Hera menjadi tidak terkendali hingga akhirnya ia pingsan.

Terlambat bagi Pangeran Andrew. Putri Lily sudah tidak berada di menara mesin penenun hujan. Mesin penenun hujan pun telah berhenti menenun, pelangi kembar telah menghilang. Pangeran Andrew pun mencari berkeliling menara mesin penenun hujan dan taman di sekelilingnya. Putri Lily tidak ditemukan dimana-mana.

Sesosok tubuh yang terbaring di tanah langsung menarik perhatian Pangeran Andrew. Putri Lily terbaring tak bergerak. Pangeran Andrew mencoba mencari denyut nadi adik sepupunya itu. Nihil. Putri Lily telah tiada. Pangeran Andrew hanya bisa terisak menangis penuh penyesalan karena terlambat menghentikan adik sepupu yang sudah dia anggap bagai adik kandungnya sendiri itu.

Putri Lydia yang tadi menyusul kakaknya sadar akan apa yang telah terjadi hanya dengan melihat reaksi kakaknya dan tubuh Putri Lily dalam pelukan kakaknya. Putri Lydia pun menangis sejadi-jadinya. Mereka berdua sudah tidak tahu harus bagaimana.

***

“Lalu bagaimana cerita selanjutnya, Capung?” tanya Fleur dengan rasa ingin tahu yang begitu besar.

“Sabarlah, Fleur, aku baru saja ingin melanjutkannya,” ucap Capung.

***

“Maafkan aku Cleo, tapi aku tidak bisa kembali bersamamu. Kau mesti tahu, yang saat ini aku cintai adalah Putri Lily,” kata Pangeran Yudha tanpa ada basa-basi.

“Kau mencintai Putri Lily? Hhh, sayang sekali, kau sudah terlambat Pangeran Yudha yang tampan.”

Pangeran Yudha menjadi heran sendiri karena secara tiba-tiba perangai Putri Cleo yang sedang duduk di hadapannya berubah. Putri Cleo tampak menyeramkan saat ini, seringaiannya seakan mampu mencabik malam.

“Apa maksudmu, Cleo? Apa maksudmu aku terlambat?” Pangeran Yudha meminta penjelasan.

Dua orang pengawal yang tadi mengawal Pangeran Yudha datang menghampiri Pangeran Yudha dengan tergesa-gesa.

“Maaf, Pangeran,” kata salah satu pengawal dengan nafas yang saling memburu.

“Ada apa? Kenapa kalian setergesa-gesa seperti itu?”

“Maaf, Pangeran, ada kabar buruk dari Negeri Di Ujung Pelangi. Putri Lily meninggal di ujung pelangi kembar setelah menenun hujan,” kata pengawal lainnya.

“Apa?” Pangeran Yudha tidak percaya dengan berita yang baru didengarnya itu. Tanpa sadar ia pun kini sudah berdiri di hadapan kedua pengawalnya.

“Aku sudah bilang, kau terlambat, Pangeran Yudha. Hahahah,” suara Putri Cleo berubah diiringi dengan perubahan wujudnya kembali menjadi Putri Sarah.

“Sarah? Jadi kau penyebab semua ini?” geram Pangeran Yudha yang sudah menggerakkan tangannya menuju ke leher Putri Sarah untuk mencekiknya.

Tapi sayang, Putri Sarah lebih gesit, hingga kini Putri Sarahlah yang sedang mencekik Pangeran Yudha.

“Pangeran tampan yang bodoh! Itulah akibatnya kalau kau menolak cintaku,” kata Putri Sarah. Kedua pengawal Pangeran Yudha tidak tahu harus berbuat apa karena mereka juga tahu bagaimana kekuatan sihir Putri Sarah. Kedua pengawal itu malah melarikan diri.

“Apa cantiknya Putri Lily itu? Jelas-jelas aku lebih cantik dari dia,” sambung Putri Sarah dengan geramnya. “Aku bisa sihir, dia tidak. Aku bisa membuatmu menguasai seluruh kerajaan antah berantah. Apa dia bisa? Tidak kan!”

“Aku lebih baik mati menyusul Putri Lily yang aku cintai daripada harus menjadikan wanita sejahat kau sebagai permaisuriku dan ratu di istanaku,” bentak Pangeran Yudha dengan segenap kekuatannya dan dia pun sudah pasrah jika Putri Sarah benar-benar akan mencekiknya hingga mati. Dia tidak akan mampu melawan kekuaran sihir Putri Sarah.

“Dasar Pangeran bodoh!”Putri Sarah murka dan mempererat cekikannya di leher Pangeran Yudha.

Nafas Pangeran Yudha berhenti. Malam semakin gelap. Langit di Negeri Di Tengah Kahyangan pun menangis.

***

“Desas-desus meninggalnya kedua sejoli itu pun menyebar ke seluruh negeri antah berantah. Seluruh negeri berkabung atas kepergian mereka. Dan begitulah akhir kisah cinta mereka,” kata Capung mengakhiri ceritanya.

Fleur masih tidak puas dengan cerita Capung.

“Kenapa Putri Lily dan Pangeran Yudha harus mati? Kenapa bukan Putri Sarah yang jahat itu saja yang mati?” tuntut Fleur tidak terima.

Capung tertawa. “Tidak semua cerita harus berakhir dengan bahagia Fleur. Terkadang kau harus merasakan kesedihan agar dapat memaknai hidup lebih dalam,” kata Capung.

“Lalu, apa yang terjadi pada Putri Sarah yang jahat itu?” tanya Fleur.

“Hmm, yang aku dengar sih, Putri Sarah menghilang dan mungkin telah binasa karena kejahatannya sendiri. Kau tahu, musuhnya sangat banyak. Mungkin salah satu musuhnya telah berhasil membinasakannya,” kata Capung.

“Kasihan sekali nasib Putri Lily dan Pangeran Yudha. Cinta mereka harus berakhir tragis seperti Romeo dan Juliet,” gumam Fleur dengan raut wajah sedih.

“Mereka tidak seperti Romeo dan Juliet. Mereka berakhir bahagia meski dengan kematian,” kata Capung. “Jika kau beruntung menemukan Negeri Di Ujung Pelangi, tanyalah penduduknya, dimana letak makam Putri Lily dan Pangeran Yudha. Mereka dimakamkan di taman menara mesin penenun hujan. Jika kau datang saat banyak pelangi bermunculan, mungkin kau beruntung dapat melihat keduanya bersama-sama menikmati keindahan pelangi-pelangi di taman mesin penenun hujan, seperti saat mereka masih hidup,” jelas Capung.

“Benarkah?”

“Tentu saja! Tubuh mereka mungkin telah mati, tapi cinta mereka selalu abadi, seabadi kisah mereka yang sudah menjadi dongeng kesukaan para putri kecil di berbagai negeri antah berantah,” ucap Capung.

“Kisah mereka benar-benar menyentuhku, Capung. Sebelumnya, aku tidak pernah percaya yang namanya cinta sejati.” Fleur tersenyum ke arah Capung yang kini berada di ujung jari telunjuk kanannya. “Apakah aku bisa merasakan cinta sejati juga?” tanya Fleur lebih kepada dirinya sendiri.

“Tentu saja kau bisa, Fleur. Andi adalah pria yang baik, dia sangat mencintaimu, seperti cinta Pangeran Yudha pada Putri Lily,” ucap Capung.

“Benarkah?”

“Jalani saja dulu dan kau akan tahu kalau aku benar,  Fleur.”

Capung sudah mulai mengepakkan sayapnya bersiap untuk terbang. Fleur pun membetulkan duduknya yang tadi agak menyender menjadi tegak, kakinya yang tadi lurus, kini ia silangkan.

Bel pintu rumah Fleur berbunyi. Fleur menengok ke jendela dan ternyata hujan baru saja berhenti. Matahari sudah menyirami taman Fleur dengan cahayanya. Air hujan masih membasahi dedaunan. Fleur teringat akan janjinya untuk bertemu Andi hari ini.

“Sepertinya Andi sudah datang ya, Fleur,” kata Capung. “Baiklah, aku harus pergi sekarang, Fleur. Aku masih harus terbang untuk mencari lebih banyak lagi cerita.”

“Dan ingatlah untuk kembali dan menceritakannya padaku,” ucap Fleur pada Capung. “Jendela rumahku akan selalu terbuka untukmu.”

“Aku pasti akan kembali.”

Fleur tersenyum ke arah Capung yang mulai terbang keluar dari rumahnya lewat jendela yang Fleur bukakan. Capung terbang menjauh melewati beberapa ranting pohon dan dedaunan. Saat keberadaan Capung sudah tak dapat ditangkap oleh matanya, barulah Fleur menuju ke pintu rumahnya dan membukakan pintu rumah itu untuk Andi.

“Hai, sayang,” sapa Andi sambil tersenyum manis pada Fleur, padahal Fleur telah membuatnya menunggu beberapa saat. “Ada apa? Kenapa lama sekali buka pintunya? Aku mengira kekasihku ada yang culik tau,” canda Andi sambil mencubit ujung hidung Fleur.

“Maaf ya, sayang. Nanti aku ceritakan, tapi bukan sekarang,” kata Fleur pada Andi sambil menarik tangan Andi masuk ke dalam rumahnya dan menggandengnya untuk duduk di sofa di ruang tamunya.

“Cerita tentang apa?” Andi penasaran.

“Tentang sebuah kisah dari seekor sahabat kecil,” ucap Fleur tanpa pernah melepaskan senyum dari wajahnya.

Andi makin penasaran. “Seekor? Hmm, aku jadi benar-benar penasaran.”

“Kamu hanya perlu tahu kalau aku sangat menyayangimu, Andi,” kata Fleur manja kepada kekasih yang sudah merangkap sebagai kakak dan sahabatnya.

Andi tertawa renyah dan mengacak-acak sayang rambut Fleur. “Aku juga menyayangimu, Fleur. Aku mencintaimu.” Andi mencium kening Fleur.

“Hey, ada pelangi, Andi,” kata Fleur tiba-tiba dan langsung berdiri dan berjalan ke arah jendela rumahnya. Andi mengikutinya dari belakang.

“Kau benar-benar menyukai pelangi ya,” ucap Andi sambil menggenggam jemari Fleur.

“Dan hari ini aku makin menyukainya.”

4 pemikiran pada “Di Ujung Pelangi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s