Tawuran Mahasiswa UNHAS, Pelecehan Kehormatan Almamater


Tawuran yang melibatkan mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, kembali terjadi. Tawuran yang bermula di hari kemarin, 14 November 2011, sebagai akibat dari ketersinggungan mahasiswa dari Fakultas Kehutanan terhadap sikap mahasiswa dari Fakultas Teknik -atau mungkin sebaliknya, karena kabar yang beredar masih simpang siur- berlanjut hingga hari ini, 15 November 2011. Sebagai dampak dari hal tersebut, Wakil Rektor 3 kena timpuk, para aparat kepolisian menyisir setiap sudut kampus, dan seluruh kegiatan perkuliahan besok diliburkan secara total.

Saya mahasiswi Unhas dan saya merasa sangat malu akan hal ini. Tindakan anarkis mahasiswa yang bersikap bak makhluk primitif yang belum tersentuh oleh modernitas dengan mengusung egoisme diri sendiri, telah banyak mempengaruhi citra universitas tempat saya menuntut ilmu ini. Bayangkan, telah beredar desas-desus, bahwa semua mahasiswa sarjana Fakultas Teknik Unhas tidak akan diterima bekerja di instansi mana pun, entah itu negeri atau swasta. Lalu, bagaimana dengan nasib 2 orang sepupu saya dan teman-teman saya yang juga mahasiswa Fakultas Teknik, yang sama sekali tidak pernah terlibat dalam hal merusak semisal tawuran?

Karena nila setitik, rusak susu belanga. Mungkin itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan bagaimana dampak tawuran terhadap para mahasiswa yang tidak terlibat. Para pelaku tawuran yang disinyalir sebagai mahasiswa-mahasiswa tua penghuni daftar calon DO bahkan menghalalkan berbagai cara agar mereka tidak diketahui. Salah satu caranya, yang baru saya ketahui beberapa minggu terakhir, yaitu dengan menyuruh para mahasiswa baru untuk berada di garis depan tawuran, sehingga ketika ada wartawan yang meliput atau memotret, hanya wajah para mahasiswa baru yang terpampang di media massa. Lalu ketika tawuran sudah reda dan mereka merasa telah aman, masalah baru akan kembali dimunculkan, seakan hidup mereka tidak indah tanpa membuat batu-batu beterbangan dan melukai teman-teman mereka sendiri.

Alasan-alasan yang dilontarkan jika ditanya mengenai keterlibatan dalam tawuran, beberapa di antaranya adalah masalah ketersinggungan dan solidaritas, alasan klasik kalau tidak mau dibilang klise. Apa yang membuat tersinggung? Dicela? Dihina? Dijelek-jelekkan? Tentu saja akan terus dicela, dihina, dan dijelek-jelekkan kalau tidak bisa merubah sifat dan sikap primitif. Buktikan kalau apa yang dicelakan, dihinakan, dan dijelek-jelekkan itu tidak benar. Caranya? Bukan dengan fisik, tapi dengan otak. Solidaritas? Tidak ada seorang manusia pun yang mau melihat jika orang-orang terdekatnya, semisal teman, dihakimi oleh orang lain, tapi kekerasan tidak seharusnya dilawan dengan kekerasan. MAHAsiswa itu bukan hanya sekedar gelar pendidikan, itu sebuah citra, sebuah harga diri. Apa ada makhluk berakal yang ingin mencemari harga dirinya sendiri untuk sebuah kegiatan yang sama sekali tidak ada manfaatnya bagi diri sendiri dan orang lain, bahkan sangat merugikan? MAHAsiswa, gelar pendidikan tertinggi, gunakan akalmu, jangan ototmu.

Para mahasiswa dari fakultas yang dianggap sebagai biang kerok dari semua tawuran yang telah terjadi di Unhas pun mulai merasa dianaktirikan. Salah siapa? Entah salah siapa! Para senior yang telah mendoktrinkah atau kesalahan pola pikirkah atau egoisme yang terlalu tinggikah? Tidak ada yang tahu pasti apa jawaban yang benar karena seakan semua alasan sudah bercampur-aduk menjadi satu. Pantaskah mereka dianaktirikan? Mungkin. Bayangkan saja, mahasiswa lintas fakultas telah bersatu untuk melawan mereka, tidakkah mereka berpikir, apa mungkin ada yang salah dalam diri mereka?

Posting-an ini saya buat bukan untuk menjatuhkan apalagi mendiskreditkan fakultas tertentu di Universitas Hasanuddin. Saya hanya ingin menyadarkan, HEY! Kita ini sekampus, sealmamater, sama-sama menimba ilmu, sama-sama mencita-citakan kesejahteraan untuk masa depan, buat apa kita saling adu otot. Kita ini mahasiswa, bertarung dengan intelegensi, bukan dengan otot, panah, batu, busur, dan semacamnya. Kita bertarung di medan pendidikan untuk menghasilkan kemakmuran, bukannya bertarung di kampus sampai membakar barang-barang yang bukan milik pribadi dan menghasilkan korban-korban yang sebenarnya berniat melerai.

Buat apa kalian selama ini berkoar-koar mengenai bobroknya pemerintahan dan segala hal yang menyimpang di negeri ini kalau sikap dan sifat kalian sendiri tidak benar? Mungkin kalianlah penerus kebobrokan negeri ini. Mari tenangkan pikiran, lapangkan dada, semua permasalahan akan dapat terselesaikan dengan baik jika kita mau berpikir dengan kepala dingin. Jadilah generasi penerus bangsa, bukan generasi yang makin memporak-porandakan harga diri bangsa! Mahasiswa atau siswa?

Don’t let people say: “Look at what those barbarian students have done! A barbarian campus that just giving a sh*t barbaric education, and produce more infamous graduates”.

We are not barbarians! We are university students, so show the people!

14 pemikiran pada “Tawuran Mahasiswa UNHAS, Pelecehan Kehormatan Almamater

    1. They’re just barbars, I’m not surprised when they perform such barbaric manner. They thought they fought for reasons, of course. Whether it’s true or not, the only fact I know is they don’t belong in our campus.

  1. Chelsky

    Tolong kalau tidak tahu masalah yang sebenarnya yang menjadi akar permasalahan jangan menulis sembarangan.Kemudian menyangkut pernyataan anda “Bayangkan, telah beredar desas-desus, bahwa semua mahasiswa sarjana Fakultas Teknik Unhas tidak akan diterima bekerja di instansi mana pun, entah itu negeri atau swasta.” Kami orang Teknik mempunyai peluang kerja yang paling tinggi.Jadi tenang saja selama keluarga anda memang mempunyai kualitas mereka pasti akan mendapat pekerjaan.
    Bravo Teknik.”We Are The Champion”

    1. Saya tahu masalah, anda tidak baca: Saya juga MAHASISWA UNHAS! Ya, kalian mempunyai peluang kerja yang tinggi, jika kalian punya cukup ruang dalam otak kalian untuk memikirkan semua kerugian yang telah kalian timbulkan. Kalian tawuran, tidak ada yang menang dalam tawuran, semua pelaku tawuran adalah LOSER! Kalian hanya bisa merusak barang yang bukan milik kalian. Apa kalian siap jika seandainya pihak universitas meminta ganti rugi pada kalian? Apa kalian tidak punya cukup ruang di hati kalian untuk memiliki nurani layaknya manusia beradab, at least ingat orangtua kalian yang mengeluarkan biaya untuk memberikan kalian pendidikan, bukan perilaku primitif. Semua masalah ada penyelesaiannya dan kekerasan bukan jalannya. Dan kalaupun tawuran itu terpaksa harus dilakukan, apa kalian sebagai mahasiswa tidak berpikir, apa ada yang salah dengan kalian hingga kalian dibenci oleh fakultas-fakultas lain? Arogansi kalian tidak akan menghasilkan apa-apa. Tolong, jaga kehormatan almamater, jangan hanya memperjuangkan egoisme pribadi!

  2. Nice post. Mungkin memang awalnya hal ini terjadi karena dipicu oleh hal sepele, tapi anda benar bahwa ini semua bermula dari rentetan sistem yang rusak, mulai dari doktrin senior, anggapan bahwa fakultas satu lebih baik dari yang lain, dsb.

    Saya pikir malah seharusnya sebagai mahasiswa kita bahkan tidak punya waktu untuk saling ejek. Tapi saya cukup bangga juga karena kami di fakultas hukum tidak begitu kekanak-kenakan untuk ikut terprovokasi.

    Btw, salam kenal.

    1. Mahasiswa Fakultas Hukum ya? Ya, tepat sekali. Intinya, semua ini berawal dari egoisme diri sendiri, dengan sedikit doktrin sesat, akhirnya merembes menjadi masalah-masalah besar yang diujungnya mencoreng kehormatan almamater dan nama baik universitas.
      Saya kurang tahu sebenarnya, tapi kabarnya mahasiswa Fakultas Hukum juga ada yang terlibat. Entah benar atau tidak. Tapi jika benar ada, itu justru bagus, untuk memberi gertakan pada para mahasiswa pembuat onar yang sering mencari masalah, bahwa di UNHAS bukan hanya ada mereka, dan fakultas yang lain bukan sekedar “fakultas lain-lain”.

      Salam kenal kembali🙂

  3. Jika pun tawuran tak mempengaruhi penyerapan alumni fakultas tertentu, tetapi tolong jangan jadikan tawuran sbg salah satu parameter bahwa alumninya tetap diterima di berbagai instansi. Saya sangat malu ketika mengikuti suatu workshop tingkat nasional, di mana Unhas termasuk salah satu pesertanya. Pada saat diadakan angket peserta (beberapa PTN terbesar diundang, termasuk Unhas, ITB, UI, UGM, IPB, dan Undip, dan UB) yang berisi penilaian terhadap para peserta (termasuk lembaga swasta, BUMN yang ikut), setiap peserta harus memberi opini” positif, negatif, dan netral. Ketika tiba pada nama Unhas, semua memberi p[ilihan negatif, kecuali saya yang memberi pilihan positif. Alasan mereka, Unhas sering tawuran. Inilah imej nasional publik terjadap almamater Kampus Merah ini. Ini dapat dijadikan renungan. Para mahasiswa hanya tinggal lima atau paling lama tujuh tahun di kampus, kemudian pergi. Yang kalian tinggalkan adalah nila buat kami dan generasi mendatang. Buat kami yang menjaga almamater ini hingga akhir pengabdian.. Terima kasih.

    1. Kita tidak bisa memungkiri kenyataan yang terbentang di depan mata kita semua bahwa seberapa sering mahasiswa sebuah universitas melakukan tindakan brutal juga kemudian mempengaruhi citra universitas tsb di mata publik dan di mata beberapa instansi yang tidak mau mengambil resiko dengan menerima lamaran kerja dari para alumni universitas tsb, para mahasiswa tsb bisa merusak kampus tempat mereka menimba ilmu, bukan tdk mungkin mereka juga bisa menghancurkan perusahaan tempat mereka mencari nafkah. Kita pun tdk bisa menyalahkan pola pikir demikian, karena memang satu hal buruk yang kita lakukan akan dapat menciptakan tanggapan-tanggapan negatif selanjutnya. Tapi, sebagai mahasiswa UNHAS, saya selalu berpendapat bahwa UNHAS adalah universitas yang sangat baik dalam hal prestasi akademik, hanya saja memang tidak semua mahasiswanya dapat berbuat demikian, beberapa mungkin masih belum bisa berpikir secara dewasa sehingga hanya bisa bersikap arogan terhadap orang lain tanpa alasan yang jelas.

  4. aruL

    kenapa anda tidak konsisten terhadap pernyataan anda semula??
    komentar anda yang terakhir justru memperjelas kerangka berfikir anda, pernyataan anda yang melihat ini secara parsial serta menggunakan parameter ideal anda sendiri untuk “mengeksekusi” baik buruk, benar salahnya suatu kejadian, sehingga sudut pandangnya kurang objektif.

    selalu ada alasan suatu tindakan bisa di ambil atau dilakukan, serta selalu ada motif dari suatu dinamika sosial yang terjadi (kecuali itu kita sebut itu fenomena, maka tidak perlu kita bahas), kondisi kampus yang trjadi sekarang ini adalah suatu bentuk “ketersumbatan intelektual”, saya tidak memihak pada siapa – siapa, tapi melihat orang – orang seperti anda menempatkan diri anda pada posisi “orang – orang yang berfikir jernih, menjaga almamater di kampus, dll” bahkan saya tidak bisa membedakan anda dengan pelaku tawuran, melihat dampak yang akan ditimbulkan bagi masyarakat.

    1. Saya bukannya sedang menjadi “anak manis” dalam penulisan posting-an saya ini, saya hanya menjabarkan apa yang saya pikirkan mengenai dampak dari tawuran yang kemudian menciptakan cibiran dalam skala nasional untuk Universitas Hasanuddin, kampus saya sendiri. Saya juga tidak ada maksud untuk kembali mengepulkan asap yang lain dengan membuat tulisan ini, kalau ada yang setuju ya, alhamdulillah, kalau ada yang kontra, terimakasih atas apresiasinya. Jika ada mengatakan pasti ada motif yang mendasari suatu tindakan diambil, termasuk motif dibalik aksi brutal mahasiswa UNHAS, motifnya tidak lain dan tidak bukan adalah arogansi kelompok tertentu yang kemudian menciptakan kerugian bagi pihak UNHAS dan cibiran bagi keseluruhan kota Makassar yang kemudian dialamatkan sebagai kotanya para biang onar.
      Saya pikir, saya sudah berusaha untuk menjadi seorang penulis yang konsisten dengan secara utuh menjabarkan buruknya dampak dari tawuran yang barusan terjadi. Kalaupun anda mengatakan saya tidak konsisten dan mengomentari kerangka berpikir saya, tolong tunjukkan pada bagian mana saya mulai menampilkan sebuah ke-tidakkonsisten-an dalam tulisan saya & kerangka berpikir macam apa yang anda harapkan dari seorang mahasiswi semester ke-3 yang hanya sedang melontarkan pendapat lewat tulisan? Maaf, bukan saya kalau harus menyampaikan pendapat lewat pengrusakan dan pelemparan batu.

  5. Iya, mahasiswa harus bisa bersikap lebih dewasa. Gw alumn teknik salah satu inst di bandg. Gw sangat ngerti perasaan para angkatan bapuk yg masih belom lulus. Kuliah susah, duid habis, waktu habis, kalaupun udah tamat umurnya dah tua, ip rendah. Saran gw kalau kalian gak mampu kuliah!! Ya udah, usaha dong!! Jualan!!.. Toh walau gak sarjana kalian masih bisa dapat uang. Daripada kalian tetep di kampus dan bikin kacau para junior kalaian.

  6. saya juga termasuk anak teknik di salah satu PTN di semarang, nice post…^^…saya anak sulawesi juga…hehe…pas liad di media ttg tawuran itu benar2 kaget juga…=,=..

    banyak hal positif yang bisa di lakuiin selaiin tawuran, mahasiswa juga bisa ngisi dengan hal-hal yang lebih manfaat (ikut lomba2..jadi wirausaha muda,dll )..tentu nya ya dukungan dari semua pihak termasuk birokrasi…
    mungkin skrg itu bukan jaman nya lagi tawuran2 yang ga jelas, bisa lebih saling memantu dengan langsung aplikatif di masyarakat biar semangad nya lebih tersalurkan…pengembangan biogas…ngajarin anak2 terlantar…membantu masyarakat buta aksara…dll…
    semoga ga ada tawuran lagi….salam kenal…^^

    1. Terimakasih buat kunjungan dan komentarnya untuk blog sy.
      Memang benar, mahasiswa seharusnya tahu bagaimana cara bersikap seorang yg intelektual, bukan sekedar bergelar mahasiswa.
      Salam kenal juga ya🙂

  7. andry

    tulisan yang bagus. tapi seberapa banyak mahasiswa yang sadar?
    kita juga sebagai rekan se-almamater, buktikan ki empati ta kalo memang miris diliat teman-teman sekampus ta tawuran. jangan cuma diliat trus dibilang begini begitu, kalo bisa terjunki juga, tapi utk nasehati atau bagaimanakah, bukannya terjun utk ikut aksi tawuran.
    percuma ki tegur kalo cuma lewat tulisan begini. berapa banyak yang sering online internet tapi online untuk membaca tulisan-tulisan begini? kebanyakan fb ji toh, atau twitter dan segala macam. kalopun dibaca ini tulisan ta, mungkin sudah lewatmi masa tawuran yang kita maksud. intinya, bicaraki. diskusikan dalam forum. atau kalo yang tawuran itu notabene anak himpunan atau BEM, justru disitumi bagusnya dibicarakan. mereka tonkmi anak himpunan, mereka tonkmi yang tawuran. kan membuat jelek ji jg nama himpunan kalo begitu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s