The Lovely Bones


Director: Peter Jackson
Writer:  Peter Jackson, Fran Walsh & Philippa Boyens (sreenplay), Alice Sebold (novel)
Released Date: April 7, 2010 (Indonesia)
Stars: Rachel Weisz, Mark Wahlberg, and Saoirse Ranon

The Lovely Bones sebuah film yang ber-genre fantasi, drama, dan thriller. Film ini diceritakan berdasarkan sebuah novel dengan judul yang sama yang diterbitkan pada tahun 2003.  Meskipun sudah telat lebih dari setahun, aku tetap tertarik dan terpesona dengan film ini. Sebuah cerita yang unik tentang penggambaran sebuah dunia yang tidak terjabarkan, dunia yang terletak di tengah-tengah antara dunia kehidupan dan dunia setelah kematian sebelum menuju ke dunia yang abadi.

Film ini bercerita tentang Susie Salmon (Saoirse Ranon), gadis remaja berusia 14 tahun yang menjadi korban pembunuhan pada 6 Desember 1973. Susie menjadi korban pembunuhan yang dilakukan oleh tetangganya sendiri yang memiliki insting membunuh tanpa alasan yang jelas. Sejak awal film, para penonton telah diberikan gambaran mengenai siapa pembunuh Susie, jadi jangan mengira kalau ini adalah sebuah film teka-teki detektif untuk mencari pelaku. Menurutku, film ini lebih kepada film psychology, dimana perasaan penonton dipermainkan oleh emosi setiap tokohnya.

Susie Salmon, sebagai tokoh utama, berusaha untuk menyadarkan keluarganya mengenai siapa pembunuhnya dan berusaha menyelesaikan perasaannya pada Ray Singh (Reece Ritchie), seniornya di sekolah yang telah lama ia sukai. Di sisi lain, ayah Susie (Mark Wahlberg) yang begitu mencintai putrinya, terobsesi untuk mencari pembunuh anaknya, sementara ibu Susie (Rachel Weisz) merasa tertekan atas obsesi suaminya yang berlebihan dan kenangan-kenangan tentang putrinya. Susie dan keluarga yang ditinggalkannya berusaha untuk saling merelakan.

Beberapa adegan yang benar-benar membekas di kepalaku, antara lain saat adik Susie, Lindsey Salmon (Rose McIver), masuk ke rumah pelaku pembunuhan kakaknya dan tertangkap basah oleh si pembunuh. Lalu, saat Ray Singh bertemu untuk terakhir kalinya dengan Susie yang ia cintai. Susie masuk ke tubuh teman sekolahnya yang selalu tampil nyentrik dan bisa melihat makhluk halus, Ruth Connors (Carolyn Dando). Susie meminta Ray untuk menciumnya agar ia merasa bahwa perasaannya pada Ray telah terbalas dan segala urusannya di dunia telah selesai.

Secara keseluruhan, film ini adalah film yang sangat wajib ditonton. Ini pertama kalinya aku nonton film yang benar-benar bisa mempermainkan emosi penontonnya. Antara sedih melihat Susie, gemas melihat ibu Susie, kasihan melihat ayah Susie, jengkel melihat si pembunuh, terpesona melihat keteguhan dan kekuatan cinta Susie dan Ray, dan sebagainya. Ditambah lagi dengan semua efek yang diciptakan, terutama mengenai penggambaran “dunia tengah” yang begitu memukau. Memang, sebagai manusia yang masih hidup, kita belum tahu bagaimana gambaran nyata “dunia tengah” itu, tapi film The Lovely Bones ini benar-benar membangkitkan imajinasi kita mengenai “dunia tengah”.

Jika aku ditanya mengenai pesan yang ingin disampaikan oleh si sutradara dan penulis lewat film ini, aku akan bilang: “True love is truly exist in this world“. Yup, cinta sejati itu memang benar-benar ada, entah itu antara pria dan wanita sebagai kekasih atau antara anak dan orangtuanya. Cinta dan segala hal magis di dalamnya menyimpan kekuatan yang tidak mungkin sanggup dipisahkan oleh apapun, ruang dan waktu sekalipun. Selamat nonton!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s