Paling Indonesia, Paling Butuh Pembenahan


Paling Indonesia. Tema yang singkat, tapi butuh pemikiran yang lumayan rumit untuk menentukan isi terbaik yang dapat menjelaskan apa yang Paling Indonesia itu sendiri. Paling Indonesia di sini bisa jadi kebudayaan, tapi sudah terlalu biasa untuk dibahas karena merupakan topik yang umum, menurut saya. Paling Indonesia di sini juga bisa jadi mengenai karakteristik masyarakat dimana karakteristik masyarakat bisa jadi dibahas dari sisi yang baik maupun sisi yang masih perlu pembenahan. Sisi yang baik mungkin sudah terlalu sering dibahas oleh orang lain, oleh karena itu untuk lomba memperingati ulangtahun ke-17 Telkomsel ini, saya ingin membahas karakter masyarakat Indonesia; Paling Indonesia, Paling Butuh Pembenahan.

Dalam tulisan ini, saya membatasi pembahasan saya hanya pada karakteristik masyarakat di kota tempat tinggal saya, yaitu Makassar. Saya mengambil Makassar agar saya lebih mudah membahasnya karena tidak perlu jauh-jauh mengambil contoh. Lalu, menurut saya, karakteristik masyarakat yang akan saya bahas juga tidak terbatas hanya pada masyarakat Makassar saja, tapi hampir seluruh daerah di Indonesia memiliki karakteristik Masyarakat yang serupa.

Sebelum memulai menuliskan tulisan ini, saya telah merangkum beberapa karakteristik masyarakat Paling Indonesia yang masih butuh pembenahan beserta contoh-contoh yang bisa kita temukan setiap hari di sekitar kita. Karakteristik-karakterisitk yang saya maksudkan adalah:

Peraturan Dibuat Untuk Dilanggar
Saya kurang tahu dari mana awalnya kata-kata ini muncul dan menjadi semacam slogan yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Sudah cukup banyak peraturan yang telah masyarakat langgar, padahal masyarakat tahu peraturan-peraturan tersebut ada untuk kebaikan bersama. Contohnya saja peraturan bahwa kapasitas maksimal penumpang kendaraan bermotor roda dua adalah 2 orang, tapi di Indonesia kita bisa menemukan satu buah sepeda motor bisa ditunggangi oleh 3 sampai 4 orang sekaligus. Padahal, peraturan tersebut ada untuk menjamin keselamatan si pengendara dan orang lain yang juga pengguna jalan. Seorang saudara saya, yang kebetulan berkewarganegaraan Belanda, pernah memotret hal tersebut dan sangat terkaget-kaget melihat pemandangan di depan matanya itu karena di negara beliau dan di negara-negara yang pernah beliau kunjungi, seperti Turki, Hong Kong, dan lain sebagainya, beliau tidak pernah menemukan pemandangan seekstrim satu motor dengan empat penumpang sekaligus tersebut.

Peraturan lainnya yang paling sering dilanggar oleh masyarakat Indonesia adalah peraturan “Dilarang Membuang Sampah Sembarangan”, yang umumnya sudah diperhalus menjadi “Jagalah Kebersihan”. Berapa banyak orang Indonesia di sekitar kita yang benar-benar patuh pada peraturan ini? Tidak banyak. Anda sendiri mungkin tidak. Paling Indonesia yang masih butuh pembenahan bukan?

Buruk Rupa, Cermin Dibelah
Penafsiran saya terhadap peribahasa ini lebih kepada melemparkan kesalahan diri sendiri kepada orang lain. Contohnya saja, yang baru-baru ini terjadi, salah seorang petinggi kota Makassar menyalahkan masyarakat atas gagalnya kota Makassar meraih piala Adipura yang merupakan penghargaan bagi daerah yang dinilai sebagai daerah yang bersih, yang juga berarti bahwa Makassar bukanlah kota yang bersih. Hal demikian rasanya tidak tepat dilakukan oleh seorang petinggi, melemparkan kesalahan kepada masyarakatnya. Semestinya petinggi tersebut melakukan introspeksi terhadap dirinya terlebih dahulu, apakah beliau sudah cukup mengayomi masyarakatnya untuk menjaga kebersihan kota?

Masyarakat pun bereaksi keras terhadap sikap petinggi tersebut dengan memasang banyak banner (panji) di jalan-jalan protokol yang bertuliskan ‘Masyarakat Tidak Ingin Disalahkan’. Lalu siapa yang harus disalahkan? Peraturan jelas sudah dibuat, Jagalah Kebersihan, maka jagalah kebersihan lingkungan sekitarmu. Sayangnya, kembali ke poin pertama, masyarakat kurang peduli karena menganggap peraturan dibuat untuk dilanggar, termasuk peraturan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Ketika musim hujan tiba dan banjir terjadi, masyarakat akan langsung menyalahkan buruknya kinerja pemerintah dalam pengoptimalan fungsi drainase. Saling salah-menyalahkan pun terjadi. Paling Indonesia yang masih butuh pembenahan bukan?

Jam Karet
Karakteristik yang satu ini sudah umum bagi masyarakat Indonesia, bahkan mungkin sudah mendarahdaging dan menjadi kebudayaan yang tidak terelakkan. Tua maupun muda, pria maupun wanita, pelajar maupun pekerja, semua melakoni budaya jam karet ini. Masyarakat kita terkenal sebagai bangsa yang senang mengulur-ulur waktu, menunda ini itu, benar-benar merasa bahwa waktu hanya sekedar ukuran detik, menit, jam, dan seterusnya. Berapa banyak orang Indonesia yang menghargai ketepatan waktu dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari? Tidak banyak, hanya sebagian kecil dan sebagian kecil itulah yang kemudian dinobatkan menjadi orang-orang tersukses di Indonesia. Jadi, jangan heran kalau negara kita menjadi negara yang sangat ketinggalan dibanding negara lain, bahkan bukan hanya uang yang kita korupsi, waktu pun mengalami nasib yang sama. Paling Indonesia kan?

Tulisan ini saya buat bukan sekedar untuk dibaca, untuk diperlombakan, atau untuk dinilai saja. Tulisan ini juga tidak saya buat untuk mengecilkan masyarakat Indonesia karena bagaimanapun saya adalah bagian dari negara Indonesia, saya orang Indonesia, dan saya mencintai Indonesia. Tulisan ini dibuat dengan tujuan untuk memberikan pandangan baru bagi masyarakat Indonesia tentang negeri mereka sendiri. Indonesia sangat terkenal dengan kebudayaan-kebudayaannya yang unik dan berwarna-warni, jadi jangan sampai masyarakatnya sendirilah yang menodai citra bangsa Indonesia di mata dunia. Jangan mau jika hanya menjadi bangsa yang ramah dan murah senyum, mari menjadi bangsa yang beretika, bermartabat, dan berwibawa.

Satu pemikiran pada “Paling Indonesia, Paling Butuh Pembenahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s