Sewindu


Sewindu - TulusBagi beberapa orang, pantai, gunung, kafe, atau mal mungkin menjadi tempat favorit mereka untuk menghabiskan waktu. Bagiku, rumah ini tempat itu. Rumah yang teduh, dengan banyak pepohonan di sekelilingnya. Letaknya memang agak jauh dari kota, bisa dibilang agak masuk ke pedalaman, tapi aku mengerti, pemiliknya memang senang dengan ketenangan.

Ya, rumah ini bukan milikku. Rumah ini milik seorang perempuan. Seorang perempuan bernama Daanish. Sahabatku. Cinta pertamaku.

Aku mengenalnya sejak SMA dan masih menjadi kawan baiknya hingga saat ini dimana kami sedang mengejar mimpi kami masing-masing. Dia dengan dunia modelingnya, aku dengan musikku.

Jika kuhitung-hitung, sudah delapan tahun kami bersama. Sewindu. Sebagai sahabat.

“Mawar putih lagi?” protesnya ketika membuka pintu rumahnya untukku.

Sepertinya tidak ada hari yang bisa aku lewatkan tanpa mendatangi rumah ini. Setiap pagi. Hanya untuk melihatnya, mengetahui kabarnya. Mengantarnya ke berbagai tempat atau hanya menghabiskan waktu hingga malam bersamanya di waktu-waktu luang kami, seperti hari ini.

Mawar putih ini? Entahlah, bagiku mawar putih ini paling sesuai untuk Daanish. Cantik. Putih juga adalah warna kesukaanya, selain hitam.

Tahu makna mawar putih? Cinta sejati.

Mungkin Daanish tidak tahu ini. Atau pura-pura tidak tahu. Entah.

“Cuma ini yang cantik sepagian gini, Nis,” alasanku sambil memasang senyum terbaikku. Seperti biasa.

Kuserahkan bunga itu padanya yang menerimanya sambil tersenyum sangat manis. Senyum yang menjadi candu bagiku.

Lihatlah dia. Mata mana yang bisa berpaling darinya. Paras yang cantik, kulit putih, tubuh semampai. Rambut hitamnya yang panjang, dia putuskan untuk ubah menjadi model skinhead. Dia meminta pendapatku, aku menolaknya, tapi dasar dia keras kepala, dia tetap melakukannya. Aku hanya bisa tersenyum saja. Untung saja gaya rambut itu membuatnya senang dan tidak mengurangi sejengkal pun kecantikan perempuan yang senang bermain gelembung sabun ini.

“Aku udah dengar lagu baru kamu lho,” katanya saat kami berjalan menuju lantai dua rumahnya yang serba putih ini, menuju ke beranda, tempat kami biasa duduk-duduk seharian. Hanya berdua. Pagi hingga malam. Membicarakan berbagai hal yang seringkali didominasi oleh Daanish dan aku sebagai pendengar setianya.

“Oh, ya? Gimana menurut kamu?”

“Bagus banget! Bisa banget bikin lagu judulnya Sepatu. Sekalian deh, bikinin aku lagu, judulnya heels,” katanya yang disusul dengan tawa berderai, menertawakan candaannya sendiri.

Aku ikut tertawa.

“Nis, kamu tau nggak?”

“Tau apa?” tanyanya bingung.

“Tau kalau kamu cantik banget kalau lagi ketawa kayak gitu.”

Dia tertawa lagi. “Gombalnya paling bisa.”

Aku terkadang bingung. Aku penasaran, apa Daanish tahu perasaanku atau tidak. Setelah delapan tahun kebersamaan kami, beberapa kawanku yang lain bilang, tidak mungkin Daanish tidak tahu. Tapi, Daanish tak pernah menunjukkan tanda-tanda dia tahu.

Salahku jika memang dia belum atau bahkan tidak tahu. Aku yang tidak pernah menyatakan setelah selama ini. Bahkan setelah sewindu lamanya, aku masih merasa saat yang tepat itu belum tiba. Mungkin aku takut persahabatan ini akan berakhir, aku takut dia tidak merasakan apa yang aku rasakan, aku takut sewindu belumlah cukup.

Malam merambat naik. Bintang-bintang sudah bermunculan. Sudah banyak cerita yang kami bagi sejak pagi tadi. Daanish sedang bersender di bahuku saat ini.

“Tulus,” ucapnya.

“Hmm.”

“Aku jatuh cinta.”

Ada sesuatu yang retak di dalam dadaku.

Aku merasakan sekujur tubuhku kaku mendengar kata-kata Daanish barusan.

Aku ingin bersuara, tapi semua kata seakan tertahan di kerongkonganku yang mendadak kering.

Daanish jatuh cinta dan aku tahu, bukan aku.

“Dia bilang dia nggak nyari pacar, dia pengen jadiin aku istrinya, Lus,” kata dia lagi.

Seluruh tubuhku mati rasa.

Genggaman tangan Daanish pada tangan kananku sudah tidak lagi dapat aku rasakan.

Seakan bisa membaca pikiranku, Daanish melanjutkan kata-katanya.

“Kamu tau orangnya kok, Lus.”

Daanish menyebut namanya. Ya, aku memang mengenalnya. Mengenal orang itu dengan sangat baik. Orang itu bahkan tahu kalau aku mencintai Daanish. Sayangnya, aku tidak tahu kalau dia juga dan dia lebih berani mengambil selangkah lebih cepat.

Aku yang bodoh.

Malam semakin menggelap dan cerita Daanish tentang pangerannya itu belum selesai. Aku masih menjadi pendengarnya yang setia. Hanya saja, kali ini  aku tidak mendengarnya dengan sepenuh hati karena hatiku sudah tidak berbentuk lagi dibuatnya.

Pernah melihat bentuk gelas kaca yang terjatuh atau mungkin pernah menendang jatuh sebuah gelas kaca? Seperti itulah bentuk hatiku saat ini, saat berada di sisi Daanish. Dia sudah menendang jatuh gelas kaca itu.

***

Pagi ini aku bimbang. Antara ingin dan tidak ingin untuk ke rumah Daanish. Rumah yang selama delapan tahun ini menjadi tempat wajib untuk kudatangi setiap pagi. Ada perasaan aneh jika aku ke sana hari ini, tapi ada perasaan aneh lainnya jika aku tidak ke sana.

Aku memutuskan untuk tetap ke sana.

Mawar putih sudah siap di tangan kananku. Kuketuk pintu rumahnya.

Tak lama pintu itu terbuka.

Bukan Daanish.

Setelah delapan tahun, baru kali ini bukan Daanish yang membuka pintu untukku, tapi si mbok, pembantunya. Katanya, Daanish sudah berangkat bersama seorang lelaki.

Setelah delapan tahun, baru kali ini bukan aku lelaki yang mengantar Daanish.

Setelah si mbok masuk dan pintu tertutup kembali, kuletakkan bunga mawar putih itu di depan pintu.

Semoga Daanish tersenyum saat melihatnya.

***

Sudah hampir tiga bulan aku tidak mendengar kabar dari Tulus. Sahabatku itu, entah apa yang terjadi padanya hingga tak pernah mengabariku lagi sejak tiga bulan lalu.

Mawar putih terakhir pemberiannya masih kusimpan dengan baik, meskipun kelopaknya sudah tak lagi putih, beberapa bahkan sudah hancur. Mawar itu dia letakkan begitu saja di pintu depan tiga bulan lalu. Ada apa dengannya?

Dulu, setiap pagi dia akan berdiri di pintu depan dengan sebuket bunga mawar putih di tangan kanannya. Selalu saja bunga mawar putih. Selama delapan tahun, selalu mawar putih.

“Tulus, aku kangen,” gumamku pada diriku sendiri sambil memandang foto kami yang berada di bedside table berbentuk batang pohon.

Kadang aku berpikir untuk membakar bunga mawar putih itu agar Tulus tahu betapa marahnya dan rindunya aku pada kehadirannya, seakan bunga mawar putih itu jiwanya saja.

Sudah tiga bulan, tak ada lagi yang menghabiskan apel, kiwi, dan anggur di kulkas. Dulu, Tulus yang selalu menghabiskannya. Tidak heran dia jadi sebesar gajah. Aku tertawa sendiri mengingat kebiasaan makan Tulus yang luar biasa itu.

Sudah tiga bulan, tak ada lagi yang mendengarkan segala cerita, keluh, dan kesahku. Pacarku? Ya, dia  juga memang mendengarkanku, tapi tak ada yang mendengarku lebih baik dari Tulus.

Beberapa kali aku mendatangi rumahnya, tapi rumah itu selalu kosong. Di studionya pun, orang-orang selalu mengatakan dia tidak ada atau sedang rapat. Apa dia menghindariku? Kalau memang iya, kenapa?

Kunyalakan televisiku. Televisi kecil yang sebenarnya sudah jadul, tapi aku suka. Barang ini unik, aku membelinya di pasar loak bersama Tulus tahun lalu.

Tulus lagi.

Semuanya mengingatkan pada Tulus.

Kuganti-ganti siaran di televisiku. Tak ada yang menarik.

Hapeku berbunyi. Telepon dari pacarku ternyata. Sedetik yang lalu aku berharap itu adalah Tulus. Aku malas mengangkatnya.

Samar-samar kudengar suara yang sangat familiar di telingaku.

Suara yang selama delapan tahun ini keluar-masuk di telingaku.

Tulus.

Dari arah televisi.

Kulihat wajah Tulus di dalam layar televisiku. Lagu barunya.

Tanpa aku sadari, aku tersenyum. Senyum terlebar yang pernah aku sunggingkan dalam tiga bulan ini. Aku senang melihatnya lagi, meskipun tidak secara langsung.

Tentang apa lagi lagunya kali ini? Aku harus mendengarkannya.

Kukeraskan suara televisiku.

Aku kaget.

Sesaat, kurasakan dunia seakan berhenti. Padahal jam di kamarku terus berdetik dan hujan di luar sana mulai rintik.

Angin berhembus masuk ke dalam kamarku. Dingin.

“Nggak mungkin.”

Tulus bernyanyi sebagus biasanya, suaranya semerdu yang kuingat. Tapi, sumpah, aku terperangah

Aku tahu untuk siapa dan tentang siapa lagu itu. Aku sangat tahu.

Aku merasa perih di dalam dadaku.

***

Sudah tiga bulan aku tidak mengunjungi rumah ini. Apa kabarmu, Daanish?

Mungkin dia sudah mendengar lagu baruku. Mungkin dia sudah tahu.

Aku tidak ingin masuk ke dalam rumahnya atau, mungkin, aku tidak berani. Aku memutuskan untuk melihatnya dari belakang saja. Semoga dia tidak menyadari kehadiranku.

Dia ada.

Di sana  dia berdiri, di beranda belakang rumahnya. Sesaat kemudian dia duduk. Kakinya yang mengantung bergoyang-goyang.

Kulihat di belakangnya sesuatu tampak berantakan dengan sebuah tongkat golf di sebelahnya. Sesuatu yang lain, yang entah apa, tapak gosong di sisi yang lain. Entah apa yang baru saja Daanish lakukan.

Aku mendekat, tapi tetap tidak ingin dia tahu aku ada.

Dia masih tidak menyadari keberadaanku, sesuai harapanku. Mungkin lebih baik begini.

Setelah sewindu, mungkin lebih baik begini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s