Musim yang Berganti


rainy_season_by_appleplusskeletonAku dan Kamu bertemu di musim kemarau. Pada suatu siang yang telah dijanjikan untuk sebuah pertemuan singkat hanya untuk saling mengetahui. Saat itu, belum ada. Belum ada sesuatu apa pun untuk Aku kagumi dari Kamu, belum ada sesuatu apa pun tentang Aku untuk Kamu pedulikan. Belum ada.

Waktu berjalan dengan cepat saat itu, hingga tak terasa akhir musim kemarau sudah begitu dekat. Aku dan Kamu pun mulai dekat. Sebagai teman, teman yang sangat baik, yang berbagi cerita di hampir setiap waktu. Pagi hingga malam, selalu ada cerita yang Aku dan Kamu bagi untuk satu sama lain. Ya, masih Aku dan Kamu, belum ada Kita saat itu.

Kita hadir di awal musim hujan, di suatu sore yang tak pernah Aku duga akan datang dengan begitu cepat. Beberapa kata manis yang tulus mengantarkan perasaan Kamu pada Aku dengan mudahnya seakan apa yang ada di langit dan di bumi dan yang ada di antara keduanya telah merestui saat itu untuk terjadi.

“Waktu tak bisa menjadi ukuran. Hanya sesaat memang, tapi apa yang ada di dalam hati, tak bisa lebih lama dipendam. Tak ada paksaan, selalu ada waktu, tak perlu saat ini, tapi keseriusan telah ada sejak beberapa waktu dan saat ini dinyatakan dengan sepenuh hati untuk disambut jika berkenan,” kata Kamu saat itu dengan lancar seakan telah Kamu pikirkan sejak awal untuk Kamu ucapkan bagai ijab.

Aku mengangguk, mengiyakan. Juga dengan sepenuh hati karena tak ada lagi yang Aku nanti, tak ada lagi yang Aku cari. Bertahun-tahun terlewati untuk mencari dan menanti, ternyata Kamu yang hati Aku ingini.

Tak ada lagi Aku dan Kamu sejak saat itu, hanya ada Kita. Kita yang bersama, Kita yang bercerita, Kita yang saling mendengarkan, Kita yang berharap, Kita yang sedang merangkai mimpi. Semua menjadi terlalu indah bagi Kita hingga lupa dunia tak selalu hanya tentang tawa, ada keseimbangan yang harus dijaga, maka Kita tak diijinkan untuk terus terlalu bahagia.

Di penghujung musim hujan, Kita tak lagi Kita. Kita kembali menjadi Aku dan Kamu dengan menyisakan rentetan kenangan yang tak ikut menghilang seiring dengan bergantinya musim. Ada banyak kenangan berserakan di sepanjang jalan yang telah Aku dan Kamu lalui sebagai Kita. Butiran bening tak hentinya menetes tiap kali kenangan menghantam tanpa permisi untuk setiap apa yang dilalui tanpa keinginan, tapi keharusan. Kenangan tentang Aku dan Kamu yang dulu Kita ada di setiap sudut yang enggan untuk dijamah, tapi mau tak mau harus diterima karena bukan Aku dan Kamu yang berkehendak atas segalanya dan takdir itu sungguh tak terduga.

Aku dan Kamu kecewa. Aku kecewa pada Kamu yang seakan lupa pada keseriusan yang dulu diucapkan, Kamu kecewa pada keadaan dan Aku yang tak paham itu. Semua yang dulu indah menjadi salah kini. Kita yang dulu penuh dengan kasih dan harapan yang indah untuk masa yang akan datang, kini menjadi Aku dan Kamu yang seakan tak saling mengenal dan hanya dua orang yang kebetulan memijak tanah yang sama dan dipayungi oleh langit yang sama.

Musim terus berganti. Aku dan Kamu belum lagi menjadi Kita. Aku tak tahu apakah Kamu juga mengharapkan apa yang Aku harapkan, tapi semoga doa bisa menjaga untuk tetap setia hingga Sang Sutradara Kehidupan memutuskan untuk menciptakan alur cerita yang baru untuk masing-masing Aku dan Kamu atau kembali mempersatukan Aku dan Kamu menjadi Kita di suatu waktu yang tepat dari sisi-Nya, mungkin esok atau lusa.

Di suatu waktu, mungkin Aku dan Kamu memang berjodoh. Di suatu musim, nanti, Aku dan Kamu mungkin akan bertemu lagi dengan semuanya telah menjadi benar dan tak ada lagi kekecewaan atau kemarahan yang akan memisahkan. Pada saatnya nanti, semoga keyakinan ‘kan membawa Kita kembali.

“Cinta itu nyata. Tuhan ciptakan dengan indah dan ribuan tetes airmata. Tak peduli apa, akan ada jalan untuk kembali jika diyakini sepenuh hati. Keseriusan itu masih ada, tinggal pilihan yang diambil yang menentukan. Berjuanglah jika cinta, tinggalkan jika telah dimatikan keadaan. Kurang dan lebih, baik dan buruk, tak ada yang sempurna. Kepercayaan tak berkurang sedikitpun, jika tahu, setia yang Aku pilih karena hati telah memilih. “

Musim yang berganti, semoga bahagia itu kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s