Coffee Talk


coffee_by_sofus85Musim hujan baru saja mulai. Air langit dengan tanpa henti menghakimi setiap apa yang ada di bawahnya. Jalanan jadi sepi oleh orang yang lalu lalang, tapi sebaliknya jadi ramai oleh berbagai kendaraan yang akhirnya menimbulkan kemacetan. Ya, sebuah pemandangan yang biasa di setiap kali musim hujan tiba.

Malam sudah menyapa. Langit gulita, bahkan sinar bulan pun tampak redup. Pengunjung kafe dimana aku duduk kini juga sudah mulai berkurang satu persatu. Ku perhatikan jam tangan di tangan kananku. Sudah jam sepuluh malam ternyata. Pekerjaanku belum selesai juga.

Kembali ku tekuni layar laptopku yang sejak tadi ku biarkan saja menyala, menyaksikanku melamun menatap keluar jendela kaca kafe. Seperti orang-orang pada umumnya, aku juga butuh untuk sejenak beristirahat dari pekerjaan yang harus sudah ku serahkan kepada bosku pagi besok. Iya, kan?

Seorang pria berkemeja putih polos dan mengenakan celemek secara tiba-tiba duduk di hadapanku. Tanpa perlu mendongak aku sudah tahu siapa dia.

“Serius amat, bu,” katanya.

“Hmm.”

Ku acuhkan dia yang ku kenal betul wataknya sejak duduk di bangku SMA.

“Mau kopi lagi nggak?”

Aku hanya mengangkat jempolku untuk mengiyakan pertanyaannya.

Ekor mataku bisa menangkap seringai jahilnya sebelum ia beranjak dari hadapanku dan kembali ke meja baristanya.

Namanya Koko. Bukan nama sebenarnya, itu hanya panggilan dalam pergaulan karena dia memiliki mata yang sipit. Darah Tionghoa memang mengalir deras dalam darahnya langsung dari ibu kandungnya. Dia sahabat karibku sejak SMA dan kafe ini adalah miliknya. Aku hapal betul naik-turun usaha dan upayanya hingga kafe ini menjadi salah satu kafe andalan di kota tempat tinggal kami. Coffee Talk nama kafe ini. Hampir setiap malam Coffee Talk penuh, mulai dari mahasiswa hingga professional muda, apalagi di akhir pekan, dia bisa buka hingga subuh.

Untung bagiku yang selalu membutuhkan tempat seperti Coffee Talk di hampir setiap malam selepas kantor. Terutama ketika ada pekerjaan yang perlu untuk segera diselesaikan, sementara tidak mungkin untukku terus berada di kantor hingga tengah malam.

Koko yang baik tahu benar meja favoritku di kafenya, meja di sudut Coffee Talk tepat di sisi jendela kaca besar, hingga tiap kali aku datang, di meja itu sudah ada tulisan reservasi yang dengan mudah dapat aku singkirkan karena tulisan itu memang sengaja dipasang untukku agar tidak ada orang lain yang menempati meja untuk dua orang itu saat aku datang di jam-jam yang Koko sudah hapal di luar kepala.

Berselang sepuluh menit kemudian, Koko datang lagi dengan secangkir kopi di tangan kanannya, kopi Toraja latte racikannya yang menjadi favoritku, dan sepotong besar cheese cake di tangan kirinya yang juga kesukaanku.

Tepat saat Koko meletakkan piring cheese cake di hadapanku, ku matikan pula laptopku. Akhirnya, selesai juga pekerjaanku.

“Makasih, Koko kesayangan aku,” kataku dengan senang sambil menarik kopi latte dengan latte art seekor capung dan cheese cake ke arahku setelah menyimpan laptopku masuk ke dalam tasnya.

“Sekarang aja kesayangan, tadi nyuekin,” sindir Koko.

“Ya, maaf. Itu kan, tadi. Sekarang kerjaannya udah beres, jadi semua sudah kembali normal.” Aku tersenyum lebar seperti anak kecil yang diminta untuk menunjukkan deretan giginya.

Koko menggeleng pelan sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya melihatku mulai menyantap cheese cake sambil sesekali meneguk latte hangat. Pasangan yang pas di saat hujan turun dengan deras-derasnya.

“Udah makan nasi belum?” tanya Koko.

“Belum. Nggak sempat. Tadi dari kantor langsung ke sini.”

“Dan perutmu sudah menampung dua cangkir latte plus this one and this one,” ucapnya dengan nada menegur sambil menunjuk cangkir latte dan cheese cake bergantian.

Memang kopi latte ini sudah cangkir yang ketiga, dua lainnya sudah diangkat oleh pelayan.

“Mau sakit perut, mbak?”

“Ya, nggaklah, tapi mau gimana lagi, Ko. Udah terlanjur juga.”

Koko kembali menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum memanggil salah satu pelayannya dan memintanya untuk membawakan nasi goreng untukku.

“Gila, bisa kenyang banget ini, Ko,” protesku.

“Bungkus kalau kenyang,” katanya.

Untuk beberapa saat ada keheningan di antara kami. Suara hujan deras di luar dan perbincangan beberapa pengunjung Coffee Talk yang masih betah yang menjadi latar. Seandainya kami sepasang kekasih, mungkin ini akan menjadi romantis, tapi tentu saja tidak akan ada kisah romantis dari persahabatan kami karena Koko sudah menikah dan istrinya adalah perempuan paling baik dan paling cantik yang pernah aku kenal.

“Aku punya cerita,” katanya kemudian.

“Stok ceritamu nggak ada habisnya, ya.”

Koko memang senang bercerita dan dia tahu, aku sangat senang mendengar setiap ceritanya. Cerita-cerita yang terinspirasi dari para pengunjung Coffee Talk.

“Kalau yang satu ini terjadi di sini, di meja ini.”

“Meja ini? Oke. Go on.” Aku mulai penasaran.

Koko pun memulai ceritanya. Katanya, kira-kira sekitar setahun yang lalu, di awal musim kemarau yang sedang kering-keringnya, ada seorang wanita yang duduk di meja ini yang memesan secangkir affogato, espresso dengan es krim vanilla di atasnya. Beberapa kali wanita itu mengecek jam tangannya. Terlihat jelas, dia sedang menunggu seseorang.

Selang beberapa saat kemudian, seorang pria berperawakan tinggi yang berpenampilan rapi dan terlihat tampan masuk ke dalam Coffee Talk dan terlihat mencari-cari seseorang. Dia lalu mengutak-atik ponselnya dan melihat ke arah meja di sudut Coffee Talk dimana wanita tadi duduk membelakangi pintu masuk.

Pria itu lalu menghampiri si wanita. Mereka bersalaman. Sepertinya itu kali pertama mereka bertemu. Koko bisa melihat kecanggungan yang menyeruak di antara keduanya. Si pria lalu memesan es kopi Luwak, mungkin dia sedang sangat kepanasan dari luar tadi.

Butuh beberapa saat sebelum obrolan menjadi lancar mengalir dari mulut keduanya. Koko yang iseng mencuri-curi dengar obrolan mereka. Hanya obrolan-obrolan remeh, khas orang-orang yang baru pertamakali bertemu.

Pertemuan mereka berakhir di akhir jam makan siang. Sepertinya si pria harus segera kembali ke kantornya.

“Mereka ketemu lagi, nggak?” tanyaku yang penasaran.

“Dengar dulu,” gemas Koko.

Koko kembali melanjutkan ceritanya.

“Mereka bertemu lagi,” kata Koko.

Koko pikir mereka tidak akan bertemu lagi karena telah lewat dua bulan sejak pertemuan pertama mereka di Coffee Talk. Ternyata Koko salah. Mereka kembali bertemu di tempat itu, kembali duduk di meja yang sama, dan memesan kopi yang sama.

Obrolan mereka menjadi lebih santai. Koko kembali mencuri-curi dengar dari meja baristanya yang memang cukup dekat jaraknya dari meja di sudut itu.

“Enak nggak cokelat yang waktu itu aku bawakan ke rumah?” tanya si pria.

“Enak banget, Kak. Langsung habis malah. Mama juga suka banget,” jawab si wanita.

Si pria tersenyum senang mendengar jawaban si wanita yang sepertinya lebih muda beberapa tahun dari si pria, terdengar dari cara bicaranya.

Ternyata beberapa bulan mereka tidak kembali ke Coffee Talk, si pria telah mengunjungi rumah si wanita dan bertemu dengan orangtua wanita tersebut.

Seorang pelayan datang dan meletakkan sepiring nasi goreng di hadapanku dan sebotol air mineral. Wangi daging asap menerobos masuk ke lubang hidungku dan mengganggu saluran pencernaanku yang seketika menuntut perut untuk menyuarakan pinta untuk diisi.

Koko tertawa mendengar suara perutku yang tidak tahu malu.

“Alamat nggak bakal dibungkus ini, sih,” ejek Koko.

“Ih, rese’ banget, sih. Lanjut aja ceritamu.”

Singkat cerita, mulai sejak saat itu, tiada malam minggu yang terlewatkan tanpa mereka menjadi tamu Coffee Talk.

Koko yang senang mempelajari karakter pengunjung Coffee Talk lewat kopi yang mereka pesan, merasa heran dengan dua pengunjung spesialnya itu. Si wanita selalu memesan affogato yang lebih sesuai untuk kepribadian si pria yang tenang dan terlihat serius, sementara si cowok selalu memesan es kopi yang lebih sesuai untuk kepribadian si wanita yang santai dan terang-terangan.

Dugaan Koko hanya satu, mungkin mereka berjodoh karena katanya jodoh adalah orang yang akan melengkapi segala kekurangan dan kelebihan kita dan kopi yang mereka minum, yang berkebalikan dari karakter mereka, sepertinya sudah cukup menjelaskan itu semua.

Di tiga bulan berikutnya, ketika musim kemarau telah berubah menjadi musim hujan, momen indah terjadi. Koko yang masih saja mencuri-curi dengar obrolan mereka menjadi saksi saat itu.

“Aku mau ngomongin sesuatu,” kata si pria. Dia terlihat sangat canggung.

“Mau ngomongin apa, Kak?” tanya si wanita yang sepertinya sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh si pria karena kemudian dia memperbaiki posisi duduknya dan juga terlihat canggung.

Mungkin mereka berdua sudah tahu bahwa inilah momennya.

Si pria menarik napasnya.

“Aku tahu kita belum terlalu lama kenal dan baru beberapa bulan belakangan ini kita menjadi benar-benar akrab. Aku bukannya bermaksud lancang, tapi dari komunikasi yang terjalin di antara kita, jujur saja, ada perasaan berbeda yang aku rasakan terhadap kamu.”

Koko bisa melihat jemari si wanita bergerak dengan gugup di atas meja. Si pria ternyata juga menyadari hal itu dan lalu meraih jemari si wanita.

“Maaf karena ini tiba-tiba, tapi sejak awal kita diperkenalkan, aku memang sudah berniat untuk mengenalmu lebih jauh dan ketika aku telah mengenalmu, aku serius ingin bersamamu.”

Kata-kata pamungkas telah diucapkan oleh si pria. Muka si pria dan si wanita mendadak berubah menjadi semerah kepiting rebus.

Koko tersenyum-senyum sendiri di balik meja baristanya, seakan teringat momen ketika ia melamar istrinya. Ya, pria mana pun yang mendengar kata-kata si pria tahu pasti, dia tidak sedang menyatakan cinta untuk sekedar menjadi pacar, tapi sebuah lamaran untuk menjadi pendamping hidup.

Wanita yang beruntung. Tidak banyak perempuan yang mendapatkan pernyataan cinta sekaligus lamaran dalam satu momen yang sama.

Sejak malam itu mereka menjadi pelanggan yang lebih spesial lagi bagi Coffee Talk. Koko selalu memberikan bonus cheese cake untuk mereka tanpa mereka tahu siapa yang memberikannya.

“Romantis banget, ya, Ko,” gumamku dengan tetap mengunyah. Nasi goreng daging asap di Coffee Talk memang yang terbaik.

“Ini cewek jorok banget sih, telan dulu baru ngomong,” tegur Koko.

“Lanjuuuttt.”

“Hubungan mereka sangat indah. Si pria sangat dewasa dalam menghadapi si wanita yang manja dan sepertinya dia senang-senang saja wanitanya manja padanya. Beberapa kali aku lihat si pria memperhatikan dengan serius wanitanya yang sedang bicara dengan heboh tentang berbagai hal. Kalau kamu lihat sendiri, kamu pasti sibuk meng-aw-aw-kan mereka karena tatapan pria itu, seriously, hanya orang buta yang tidak bisa lihat kalau itu cinta,” kata Koko.

Aku menyimak dengan serius, tidak terusik sedikit pun dengan bagian dia mengangguku.

“Tapi seperti kopi, yang jika terlalu banyak akan membuatmu sakit, mungkin itu juga yang terjadi dengan mereka. Terlalu banyak cinta yang mereka bagi terhadap satu sama lain.” Suara Koko mendadak menjadi lemas.

Hanya dua bulan, ya, hanya dua bulan lebih beberapa hari, kisah cinta yang semanis Arabika seketika berubah menjadi sepahit Robusta.

Mereka tidak lagi datang bersama ke Coffee Talk. Entah apa yang terjadi di antara mereka berdua. Padahal sebelumnya Koko mendengar mereka membicarakan persiapan pernikahan mereka beberapa bulan lagi.

Mereka datang sendiri-sendiri kini. Masih duduk di meja yang sama, meminum kopi yang sama, hanya tidak bersama. Mereka sendiri.

Koko sungguh penasaran dengan apa yang telah terjadi pada hubungan dua pelanggan favoritnya, tapi cukup tahu diri untuk tidak ikut campur dengan masalah mereka.

Koko tahu mereka masih saling mencintai.

Bukan hanya sekali dilihatnya si pria maupun si wanita berjalan di depan Coffee Talk. Tidak masuk, hanya singgah sebentar untuk memperhatikan meja yang pernah menjadi saksi saat-saat indah yang pernah mereka lalui bersama di meja itu.

Beberapa bulan hal itu terus berulang. Tak ada satu pun dari mereka yang masuk ke Coffee Talk. Mungkin terlalu takut akan diserbu oleh serangan kenangan yang begitu banyak di tempat ini.

Baru beberapa minggu yang lalu, si wanita memutuskan untuk masuk ke Coffee Talk lagi. Sepertinya dia sudah mengumpulkan segala daya dan upayanya untuk menguatkan dirinya ketika melangkahkan kakinya lagi di Coffee Talk. Koko melihatnya menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan, seakan berusaha menenangkan detak jantungnya.

Wanita itu melihat Koko memperhatikannya dan tersenyum pada Koko dengan senyum yang seakan tahu selama ini Koko mendengar semuanya. Koko membalas senyuman wanita itu dengan seprofesional mungkin agar tidak terpancar kesedihan yang juga dia rasakan.

Wanita itu kembali duduk di meja yang sama. Tampak enggan awalnya, namun tetap duduk juga.

Wanita itu pun masih memesan kopi yang sama.

Satu hal yang wanita itu tidak sadari, ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya dari balik kaca Coffee Talk. Mata yang tampak nanar, memandangnya dengan penuh kesedihan. Pemilik mata itu hanya berdiri diam di tempatnya terus memperhatikan wanita itu yang sedikit pun tidak menyadari keberadaannya

Hujan turun. Si pria masih berdiri di tempatnya dan baru beranjak pergi ketika dilihatnya wanita yang dia cintai telah pergi dengan tanpa menyadari keberadaannya setelah sekian lama di tempat itu.

“Mereka ada masalah apa ya, Ko?” tanyaku dengan mata yang mulai berair. Untung saja nasi gorengku sudah habis.

Koko mengangkat kedua bahunya.

“Hanya mereka dan Tuhan yang tahu,” ujar Koko. “Sejak saat itu, si pria juga sudah mulai sering ke sini lagi. Duduk di meja ini dan minum kopi yang sama sejak pertama mereka bertemu di meja ini.”

“Nggak pernah gitu, mereka nggak sengaja berpapasan di tempat ini?”

“Nggak pernah. Sekalipun. Sedetikpun. Seakan dunia sudah berkonspirasi untuk tidak mempertemukan mereka lagi.”

Aku terdiam. Tidak tahu harus bagaimana lagi untuk merespon kisah cinta yang menyedihkan itu.

“Hidup itu seperti kopi. Pahit. Untuk benar-benar menikmatinya, butuh waktu untuk benar-benar menyukainya. Mungkin itu yang tidak mereka tahu. Mungkin kopi yang selama ini mereka kecap terlalu manis, hingga ketika merasakan yang pahit, mereka memilih untuk tidak lagi meminumnya. Dan ketika mereka memutuskan untuk mencobanya lagi, semuanya sudah berbeda.”

 “Kenapa tempat ini kamu namakan Coffee Talk?” tanyaku kemudian.

“Karena teman bicara yang paling baik adalah kopi, kan? Pahitnya kopi membuat beberapa orang menambahkan susu dan krim. Pekatnya kopi membuat beberapa orang mengindahkannya dengan seni. Kopi membuatmu belajar tentang kehidupan hanya lewat sebuah tegukan.”

Koko tersenyum.

Seorang wanita cantik tiba-tiba merangkulnya dari belakang.

Latasya. Istri cantik Koko.

“Hai, Mocca,” sapanya padaku.

“Hai, La.”

“Ca, aku balik duluan, ya. Nggak apa-apa, kan?” tanya Koko.

“Yalah, nggak apa-apa. Istrimu sudah di sini juga.”

Thanks, ya. Eh, aku lupa nanyak daritadi, aku mau bikin menu kopi baru, bagusnya namanya apa, ya?” tanya Koko yang sudah beranjak dari duduknya dengan tangan istrinya menggandengnya mesra.

“Kopi Sianida.”

“Ngasal aja,” kata Koko sambil tertawa. Istrinya juga tertawa. “Besok ke sini, ya. Harus ada namanya besok.”

Aku hanya mengiyakannya saja sambil membalas lambaian Latasya.

Koko pun pulang bersama istrinya setelah sebelumnya melepas celemeknya dan menyuruh pelayannya untuk menyimpan celemek itu di ruangannya di belakang Coffee Talk.

Aku hanya bisa memandang mereka menghilang masuk ke dalam mobil yang terparkir di depan Coffee Talk.

“Sampai jumpa besok, Ko, dengan cerita lain, tapi kopi yang tetap sama. Seperti perasaanku ke kamu. Tetap sama, nggak peduli sepahit apa.”


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

5 pemikiran pada “Coffee Talk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s