Apa Enaknya Menikah?


331278-marriage“Semua orang mau menikah. Apa enaknya menikah?”

Itu sepenggal kalimat yang dikatakan Lita, yang diperankan oleh Rachel Maryam, di film Arisan! 2. Film ini sudah tayang 5 tahun yang lalu, selisih 8 tahun dari film pertamanya dengan judul yang sama. I watched the movie last night and those words of Lita suddenly created a thought inside my mind.

Apa enaknya menikah?

Banyak orang menjadikan pernikahan sebagai jalan keluar. Jalan keluar dari kesulitan finansial, jalan keluar dari keharusan untuk memenuhi tuntutan keluarga, atau jalan keluar untuk dapat memuaskan masyarakat tentang konsep moralitas yang mereka yakini.

Tidak sedikit juga yang menjadikan pernikahan sebagai sebuah ajang perlombaan, perlombaan untuk menunjukkan siapa yang lebih dulu “laku”, terutama. Seakan-akan dengan menikah mereka telah memenangkan sebuah penghargaan bergengsi di dalam lingkaran pergaulannya sebagai yang tercantik atau tertampan, terbaik atau terhebat hingga pantaslah ia menjadi yang lebih dulu menikah atau dinikahi.

Bahkan, tidak jarang perasaan dilambung oleh teman soal pernikahan juga menjadi pemikiran tersendiri bagi beberapa orang. Membuat mereka merasa kalah atau bagaimana, I don’t really get it.

I’m 24 years old and some of my friends are married now, some others are going to be soon. Me? I don’t know.

Beberapa orang yang belum menikah merepresentasikan pernikahan sebagai a road of flowers. Pemikiran yang terlalu naif atau terlalu terbawa euphoria musim kawin? Once againI don’t get it. Beberapa buku menjabarkan pernikahan sebagai kebalikannya, bahkan ada sebuah laman di internet yang concern terhadap pernikahan yang mengatakan kurang lebih seperti ini: “indahnya pernikahan hanya sampai di bulan madu saja, but after that is just another day“.

I’ve been in a conversation with a friend. We both agree that if Indonesian society has the same way of thinking of marriage with those western people who live in Europe or America, Indonesia must be a better place. Orang-orang di negara-negara di Eropa dan Amerika, as we know, memiliki pandangan yang lebih terbuka soal pernikahan. Mereka bahkan melegalkan hidup bersama tanpa ikatan pernikahan tidak peduli sampai kapan pun, bahkan banyak yang tetap hidup bersama hingga tua, hingga maut memisahkan dengan tetap tanpa pernikahan.

Bukan perkara mudah memang untuk menerapkan hal yang sama di Indonesia karena di Indonesia kita terikat dengan berbagai aturan yang berbagai rupa. Bukan hanya aturan pemerintah, ada pula aturan adat, dan, yang paling keras, aturan agama. Hidup bersama tanpa pernikahan adalah hal yang sangat melanggar norma-norma, tidak bermoral, dan sebuah dosa besar.

Saya tidak menentang pernikahan, saya pun ingin menikah. Tapi, apa enaknya menikah?

Sex? Legally have sex is probably one of the reasonsMake love dengan pasangan resmi tidak akan dianggap melanggar aturan mana pun, pun tak berdosa. Tidak akan kena razia penyakit masyarakat or such thing. Lalu, bagaimana kalau sex itu ternyata tidak semenyenangkan yang ada di film-film porno? Pernikahan yang dikira akan selalu indah dengan sex activity yang berapi-api lama-lama akan membosankan dan lalu apa? Pisah?

Keturunan? Kalau di Indonesia, itulah alasan paling utama, mungkin. Si ini ingin menikah karena ingin punya anak, si itu juga menikah karena orangtuanya sudah ingin punya cucu. Terus, kalau ternyata pasangan memiliki kandungan yang lemah sehingga butuh bertahun-tahun untuk dapat hamil atau pasangan malah mandul, bagaimana? Langsung cerai? Langsung mencari pasangan yang baru?

Lewat pernikahan, berpisah menjadi hal yang rumit. Mesti berurusan dengan pengadilan, pengacara, dan serangkaian persidangan dengan mediasi yang hanya sekedar formalitas demi mengikuti aturan yang ada. Belum lagi urusan dengan keluarga dan orangtua yang mungkin akan sangat kecewa dengan keputusan berpisah. Lebih rumit lagi jika ada anak di tengah-tengah. Kalau tanpa ikatan pernikahan, at least tidak perlu melalui persidangan dan embel-embelnya yang sebenarnya paling menguras emosi dan tenaga. How’s that?

One day, a friend told me that every girl has this time of their life when they really want to get married. But only that one time. When that one time has passed, takes time for the second time or never.

Lucky my friend for she has not been in that stage of life, but I have.

I was in that moment when I finally felt the time for me to get married had come, I had met this one guy I used to believe as the one I wanted to spend the rest of my life with, but then one evil devil ruined everything, made him left me watching that road of flowers I dreamed of burned right in front of my eyes. And here I am now, with no desire to get married so soon, though all my friends seem running to the gate of marriage, though many people insist me to settle down and tie the knot soon.

Sempat terpikir, why do I need to get marriedI have a job and financially stable in this young age. Menikah atau tidak, saya rasa saya akan baik-baik saja. Jika kemudian saya menikah, itu patut disyukuri. Namun, jika kemudian saya tidak menikah, sepertinya tidak ada yang perlu saya khawatirkan. But then, saya ingin punya anak. Perlukah saya menikah? Well, the answer is crystal clear as long as I still live in Indonesia and as long as I’m still a muslimI must be married to have a child.

Mungkin masih ada kekecewaan dari pengalaman sebelumnya atau mungkin juga pikiran saya telah terlalu banyak berpikir hingga akhirnya menarik kesimpulan bahwa pernikahan bukanlah jawaban atas semua masalah ataupun gerbang menuju kebahagiaan yang abadi karena, sungguh, dunia nyata ini bukanlah dunia dongeng yang selalu berakhir dengan happily ever after.

My Mom told me one day, after years of marriage, love will be gone dan yang tersisa hanya sayang. Sayang yang ambigu, bagi saya. Apakah “kasih sayang” yang tersisa? Atau “sayang” untuk mengakhiri setelah selama ini dan anak-anak sudah besar? Sayang yang mana yang kemudian tersisa dari pernikahan yang telah bertahun-tahun lamanya itu?

I’m in a relationship now. My boyfriend is someone who will do everything to make me happy, a way better man than my ex. I don’t wish him to read this, but if he suddenly fall to this post, he knows it already, he knows this thought of mine about marriage.

Saya ingin menikah, tapi tak masalah kapan pun itu. Tidak seperti banyak perempuan lainnya di Indonesia yang begitu menginjak usia 25 tahun mulai kasak-kusuk soal jodoh yang tak kunjung datang, sementara bagi saya kapan pun jodoh saya datang tidak menjadi masalah. Tahun depankah, lima tahun lagikah, sepuluh tahun lagikah, I will let the time answer itMy friend is already above 30 years old, still single, and she’s just fine with it. She enjoys every single day of her singleness with a wide smile in her face and a brave thought that best always takes time and the best will come at the right time, never too soon, never too late.

And after this long post, I keep asking myself: Apa enaknya menikah?

Anyone, help meDon’t give me a cliche or classic answer or religion-based answer, I’m enough of those things. Berikan saya satu saja jawaban yang masuk akal untuk pertanyaan saya tadi dan anda akan menjadi orang yang sangat berjasa dalam membantu sesosok manusia untuk menjawab salah satu pertanyaan terbesar dalam hidupnya.

Apa enaknya menikah?

Saya ingin menikah bukan semata untuk sex atau ingin memiliki keturunan. Saya ingin menikah untuk alasan yang tepat hingga tidak akan pernah terlintas sekali pun kata berpisah di dalam benak saya.

A good marriage would be between a blind wife and a deaf husband — Michel de Montaigne

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s