Rumah


Dalam anganku pernah terbersit harapan untuk menjadi gunung yang tinggi. Agar sepi dan tak ada yang akan mengganggu. Hanya langit biru temanku dan sesekali burung-burung besar yang mampu terbang cukup tinggi untuk mencapai puncakku, cukup kuat untuk menerjang kencangnya angin di sekelilingku, dan cukup sepi untuk berbagi sendiri denganku. Aku ingin menjadi gunung yang tinggi agar dunia melihatku dari mata para hewan bersayap yang kesepian itu.

Namun, jauh disana aku melihat sebuah kota besar.

Kali ini aku ingin menjadi sebuah kota besar. Aku bosan dengan sepi. Aku ingin dipenuhi dengan riuhnya jalanan di siang hari oleh orang-orang yang sibuk berlalu-lalang dan bunyi klakson kendaraan-kendaraan yang terjebak macet. Jalan-jalanku akan dipenuhi dengan lampu-lampu yang berkerlip pada malam hari dan menjelang pagi, masih akan ada manusia-manusia yang menyemarakkanku dengan pesta-pesta mereka. Aku ingin menjadi kota besar, aku tak akan pernah kesepian.

Tapi, di sudut salah satu jalanku, kulihat sebuah rumah sederhana.

Rumah itu sangat sederhana. Hanya rumah batu kecil dengan taman yang juga kecil, sesuai dengan ukurannya, tapi ada banyak tanaman berbunga dan berbuah di sana. Ada sepasang bocah perempuan, tampaknya kembar, yang sedang sibuk memetik buah-buahan. Di sisi mereka, ada ibu mereka yang sedang menyirami pohon yang tidak terlalu besar di tamannya. Sang ayah tampak santai membaca korannya di teras dan sesekali tertawa melihat tingkah para gadis kecilnya.

Aku ingin menjadi rumah itu. Jauh dari keramaian, tapi tak sepi. Sederhana, tapi penuh cinta. Tenang, tapi penuh kehangatan. Kain gorden tampak melambai dari salah satu jendelanya. Ada bunga yang mulai mengering di salah satu vas, namun tidak mengurangi keanggunannya. Ada kursi tua yang mengeriput bersama tuannya.

Aku ingin menjadi rumah itu. Aku ingin menjadi rumah tempat cinta pergi untuk kembali. Aku ingin menjadi rumah yang akan kau tuju tiap kali kau merindukan peluk dan sapa. Aku ingin menjadi tempatmu pulang, tempat yang akan selalu kau rindukan.

Aku ingin menjadi rumahmu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s