The Most Influential Woman


obama & michelleWhen I was younger, I wanted to be the most influential woman in the world. But a virtual conversation (re: chatting) with someone in this very early morning, woke me up.

This someone whose-mind-is-always-thinking asked me what I want to be in this life. I said, I want to be the most influential woman, a wonder woman. Then he mentioned several most influential women.

He mentioned Oprah Winfrey, Mother Teresa, Sri Mulyani (Indonesia Minister of Finance), and Tri Rismaharini (Mayor of Surabaya). Then he said, “all those wonder women are dominant women whose husband always be behind the scene”.

Those words make me thinking.

Deep down, yeah, I really want to be an influential person, an influential woman. But I do realize myself do not want to be a dominant lady or even dominating my (future) husband.

My vision for a perfect household is always a husband holds the power and a wife to support him, not the other way around. Call me old-fashioned, but I still believe in the words “Behind every great man there stands a great woman”.

Those words I find perfectly match Obama and Michelle relationship. Obama as the 44th President of the United States has this great lady named Michelle as his wife. Everyone must remember Obama’s last speech in the end of his reign where he praised Michelle as his wife, a mother of his children, and his best friend who took a role she didn’t ask for, but she made it with grace, grit, style, and good humor (Popsugar). See the picture I put in this post, every woman wishes to be looked at by her man the way Obama looks at Michelle: love and admiration are there.

Michelle, as the first lady, had shown the world her power, not by dominating his husband, but by supporting him. She supported Obama by actively showing her quality as the first lady who is not only a fashion icon, but also a role model for women and an advocate for poverty awareness, nutrition, physical activity, and healthy eating (Wikipedia). How can it be a support? Because a quality of a man can be seen in the appearance of his woman.

So, instead of being like Oprah or Sri Mulyani, I want to be like Michelle for my Obama. I don’t want to dominate him, I will support him instead; use my quality and power to strengthen my man, to make us as an equal partner, then I will be the most influential woman right away. Yeah! 😤

Buku yang Belum Selesai Kubaca


unread_by_mintlights-d6epz5pAda buku yang belum selesai kubaca
Kata-katanya sulit
Kisahnya rumit
Mungkin itu yang membuat penulisnya ternama

Buku yang belum selesai kubaca
Agak kelam
Sedikit suram
Tapi ada cinta di dalamnya

Buku yang belum selesai kubaca
Sepertinya tak kan selesai kubaca
Entah aku yang tak mampu memahaminya
Atau mungkin buku itu memang ditakdirkan untuk tak pernah selesai kubaca

Ada buku yang belum selesai kubaca
Entah bagaimana akhirnya
Aku tak tahu bagaimana akhirnya
Semoga bahagia

Apa Kabar?


unlove_me_by_ahermin-dahpal9Apa kabar, Langit? Masih cerahkah kau di atas sana? Kau yang tetap jauh dan sulit tergapai, masih ingatkah pada Pertiwi?

Engkau yang memeluknya tanpa menyentuhnya. Engkau yang meninggalkan bekas hujan hingga menembus pusat semestanya. Tak terpikirkah kau seberapa dalam lubang yang telah kau ciptakan pada Pertiwi?

Apa kabar, Samudera? Masihkah ombakmu berdebur deras di sisi Pertiwi? Tak sadarkah kau, dia hanya mendamba Langit?

Samudera, tak ada yang berani membantahmu. Tak ada yang mampu menjatuhkanmu. Engkau yang mampu meluluhlantakkan segalanya, bodohnya kau jatuh pada pesona Pertiwi. Tak sadarkah kau betapa luka Pertiwi masih belum sembuh juga?

Apa kabar, Pertiwi? Apa yang engkau pikirkan? Apa yang engkau nantikan? Apa yang engkau harapkan?

Pertiwi, tak ada yang tahu apa yang kau pikirkan. Tak ada yang tahu apa yang kau nantikan. Tak ada yang tahu apa yang kau harapkan. Sungguh, serumit itukah kau, Pertiwi? Tak tahu dirinya kamu, terus menyeret lukamu, terus membiarkannya basah dan tak tersembuhkan. Tak tahu dirinya kamu, terus mendamba yang tak mampu kau jangkau.

Dunia yang membingungkan. Bahkan nyata kini terasa fana.

Apa kabarmu besok?

Coffee Talk


coffee_by_sofus85Musim hujan baru saja mulai. Air langit dengan tanpa henti menghakimi setiap apa yang ada di bawahnya. Jalanan jadi sepi oleh orang yang lalu lalang, tapi sebaliknya jadi ramai oleh berbagai kendaraan yang akhirnya menimbulkan kemacetan. Ya, sebuah pemandangan yang biasa di setiap kali musim hujan tiba.

Malam sudah menyapa. Langit gulita, bahkan sinar bulan pun tampak redup. Pengunjung kafe dimana aku duduk kini juga sudah mulai berkurang satu persatu. Ku perhatikan jam tangan di tangan kananku. Sudah jam sepuluh malam ternyata. Pekerjaanku belum selesai juga.

Kembali ku tekuni layar laptopku yang sejak tadi ku biarkan saja menyala, menyaksikanku melamun menatap keluar jendela kaca kafe. Seperti orang-orang pada umumnya, aku juga butuh untuk sejenak beristirahat dari pekerjaan yang harus sudah ku serahkan kepada bosku pagi besok. Iya, kan?

Seorang pria berkemeja putih polos dan mengenakan celemek secara tiba-tiba duduk di hadapanku. Tanpa perlu mendongak aku sudah tahu siapa dia.

“Serius amat, bu,” katanya.

“Hmm.”

Ku acuhkan dia yang ku kenal betul wataknya sejak duduk di bangku SMA.

“Mau kopi lagi nggak?”

Aku hanya mengangkat jempolku untuk mengiyakan pertanyaannya.

Ekor mataku bisa menangkap seringai jahilnya sebelum ia beranjak dari hadapanku dan kembali ke meja baristanya.

Namanya Koko. Bukan nama sebenarnya, itu hanya panggilan dalam pergaulan karena dia memiliki mata yang sipit. Darah Tionghoa memang mengalir deras dalam darahnya langsung dari ibu kandungnya. Dia sahabat karibku sejak SMA dan kafe ini adalah miliknya. Aku hapal betul naik-turun usaha dan upayanya hingga kafe ini menjadi salah satu kafe andalan di kota tempat tinggal kami. Coffee Talk nama kafe ini. Hampir setiap malam Coffee Talk penuh, mulai dari mahasiswa hingga professional muda, apalagi di akhir pekan, dia bisa buka hingga subuh.

Untung bagiku yang selalu membutuhkan tempat seperti Coffee Talk di hampir setiap malam selepas kantor. Terutama ketika ada pekerjaan yang perlu untuk segera diselesaikan, sementara tidak mungkin untukku terus berada di kantor hingga tengah malam.

Koko yang baik tahu benar meja favoritku di kafenya, meja di sudut Coffee Talk tepat di sisi jendela kaca besar, hingga tiap kali aku datang, di meja itu sudah ada tulisan reservasi yang dengan mudah dapat aku singkirkan karena tulisan itu memang sengaja dipasang untukku agar tidak ada orang lain yang menempati meja untuk dua orang itu saat aku datang di jam-jam yang Koko sudah hapal di luar kepala.

Berselang sepuluh menit kemudian, Koko datang lagi dengan secangkir kopi di tangan kanannya, kopi Toraja latte racikannya yang menjadi favoritku, dan sepotong besar cheese cake di tangan kirinya yang juga kesukaanku.

Tepat saat Koko meletakkan piring cheese cake di hadapanku, ku matikan pula laptopku. Akhirnya, selesai juga pekerjaanku.

“Makasih, Koko kesayangan aku,” kataku dengan senang sambil menarik kopi latte dengan latte art seekor capung dan cheese cake ke arahku setelah menyimpan laptopku masuk ke dalam tasnya.

“Sekarang aja kesayangan, tadi nyuekin,” sindir Koko.

“Ya, maaf. Itu kan, tadi. Sekarang kerjaannya udah beres, jadi semua sudah kembali normal.” Aku tersenyum lebar seperti anak kecil yang diminta untuk menunjukkan deretan giginya.

Koko menggeleng pelan sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya melihatku mulai menyantap cheese cake sambil sesekali meneguk latte hangat. Pasangan yang pas di saat hujan turun dengan deras-derasnya.

“Udah makan nasi belum?” tanya Koko.

“Belum. Nggak sempat. Tadi dari kantor langsung ke sini.”

“Dan perutmu sudah menampung dua cangkir latte plus this one and this one,” ucapnya dengan nada menegur sambil menunjuk cangkir latte dan cheese cake bergantian.

Memang kopi latte ini sudah cangkir yang ketiga, dua lainnya sudah diangkat oleh pelayan.

“Mau sakit perut, mbak?”

“Ya, nggaklah, tapi mau gimana lagi, Ko. Udah terlanjur juga.”

Koko kembali menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum memanggil salah satu pelayannya dan memintanya untuk membawakan nasi goreng untukku.

“Gila, bisa kenyang banget ini, Ko,” protesku.

“Bungkus kalau kenyang,” katanya.

Untuk beberapa saat ada keheningan di antara kami. Suara hujan deras di luar dan perbincangan beberapa pengunjung Coffee Talk yang masih betah yang menjadi latar. Seandainya kami sepasang kekasih, mungkin ini akan menjadi romantis, tapi tentu saja tidak akan ada kisah romantis dari persahabatan kami karena Koko sudah menikah dan istrinya adalah perempuan paling baik dan paling cantik yang pernah aku kenal.

“Aku punya cerita,” katanya kemudian.

“Stok ceritamu nggak ada habisnya, ya.”

Koko memang senang bercerita dan dia tahu, aku sangat senang mendengar setiap ceritanya. Cerita-cerita yang terinspirasi dari para pengunjung Coffee Talk.

“Kalau yang satu ini terjadi di sini, di meja ini.”

“Meja ini? Oke. Go on.” Aku mulai penasaran.

Koko pun memulai ceritanya. Katanya, kira-kira sekitar setahun yang lalu, di awal musim kemarau yang sedang kering-keringnya, ada seorang wanita yang duduk di meja ini yang memesan secangkir affogato, espresso dengan es krim vanilla di atasnya. Beberapa kali wanita itu mengecek jam tangannya. Terlihat jelas, dia sedang menunggu seseorang.

Selang beberapa saat kemudian, seorang pria berperawakan tinggi yang berpenampilan rapi dan terlihat tampan masuk ke dalam Coffee Talk dan terlihat mencari-cari seseorang. Dia lalu mengutak-atik ponselnya dan melihat ke arah meja di sudut Coffee Talk dimana wanita tadi duduk membelakangi pintu masuk.

Pria itu lalu menghampiri si wanita. Mereka bersalaman. Sepertinya itu kali pertama mereka bertemu. Koko bisa melihat kecanggungan yang menyeruak di antara keduanya. Si pria lalu memesan es kopi Luwak, mungkin dia sedang sangat kepanasan dari luar tadi.

Butuh beberapa saat sebelum obrolan menjadi lancar mengalir dari mulut keduanya. Koko yang iseng mencuri-curi dengar obrolan mereka. Hanya obrolan-obrolan remeh, khas orang-orang yang baru pertamakali bertemu.

Pertemuan mereka berakhir di akhir jam makan siang. Sepertinya si pria harus segera kembali ke kantornya.

“Mereka ketemu lagi, nggak?” tanyaku yang penasaran.

“Dengar dulu,” gemas Koko.

Koko kembali melanjutkan ceritanya.

“Mereka bertemu lagi,” kata Koko.

Koko pikir mereka tidak akan bertemu lagi karena telah lewat dua bulan sejak pertemuan pertama mereka di Coffee Talk. Ternyata Koko salah. Mereka kembali bertemu di tempat itu, kembali duduk di meja yang sama, dan memesan kopi yang sama.

Obrolan mereka menjadi lebih santai. Koko kembali mencuri-curi dengar dari meja baristanya yang memang cukup dekat jaraknya dari meja di sudut itu.

“Enak nggak cokelat yang waktu itu aku bawakan ke rumah?” tanya si pria.

“Enak banget, Kak. Langsung habis malah. Mama juga suka banget,” jawab si wanita.

Si pria tersenyum senang mendengar jawaban si wanita yang sepertinya lebih muda beberapa tahun dari si pria, terdengar dari cara bicaranya.

Ternyata beberapa bulan mereka tidak kembali ke Coffee Talk, si pria telah mengunjungi rumah si wanita dan bertemu dengan orangtua wanita tersebut.

Seorang pelayan datang dan meletakkan sepiring nasi goreng di hadapanku dan sebotol air mineral. Wangi daging asap menerobos masuk ke lubang hidungku dan mengganggu saluran pencernaanku yang seketika menuntut perut untuk menyuarakan pinta untuk diisi.

Koko tertawa mendengar suara perutku yang tidak tahu malu.

“Alamat nggak bakal dibungkus ini, sih,” ejek Koko.

“Ih, rese’ banget, sih. Lanjut aja ceritamu.”

Singkat cerita, mulai sejak saat itu, tiada malam minggu yang terlewatkan tanpa mereka menjadi tamu Coffee Talk.

Koko yang senang mempelajari karakter pengunjung Coffee Talk lewat kopi yang mereka pesan, merasa heran dengan dua pengunjung spesialnya itu. Si wanita selalu memesan affogato yang lebih sesuai untuk kepribadian si pria yang tenang dan terlihat serius, sementara si cowok selalu memesan es kopi yang lebih sesuai untuk kepribadian si wanita yang santai dan terang-terangan.

Dugaan Koko hanya satu, mungkin mereka berjodoh karena katanya jodoh adalah orang yang akan melengkapi segala kekurangan dan kelebihan kita dan kopi yang mereka minum, yang berkebalikan dari karakter mereka, sepertinya sudah cukup menjelaskan itu semua.

Di tiga bulan berikutnya, ketika musim kemarau telah berubah menjadi musim hujan, momen indah terjadi. Koko yang masih saja mencuri-curi dengar obrolan mereka menjadi saksi saat itu.

“Aku mau ngomongin sesuatu,” kata si pria. Dia terlihat sangat canggung.

“Mau ngomongin apa, Kak?” tanya si wanita yang sepertinya sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh si pria karena kemudian dia memperbaiki posisi duduknya dan juga terlihat canggung.

Mungkin mereka berdua sudah tahu bahwa inilah momennya.

Si pria menarik napasnya.

“Aku tahu kita belum terlalu lama kenal dan baru beberapa bulan belakangan ini kita menjadi benar-benar akrab. Aku bukannya bermaksud lancang, tapi dari komunikasi yang terjalin di antara kita, jujur saja, ada perasaan berbeda yang aku rasakan terhadap kamu.”

Koko bisa melihat jemari si wanita bergerak dengan gugup di atas meja. Si pria ternyata juga menyadari hal itu dan lalu meraih jemari si wanita.

“Maaf karena ini tiba-tiba, tapi sejak awal kita diperkenalkan, aku memang sudah berniat untuk mengenalmu lebih jauh dan ketika aku telah mengenalmu, aku serius ingin bersamamu.”

Kata-kata pamungkas telah diucapkan oleh si pria. Muka si pria dan si wanita mendadak berubah menjadi semerah kepiting rebus.

Koko tersenyum-senyum sendiri di balik meja baristanya, seakan teringat momen ketika ia melamar istrinya. Ya, pria mana pun yang mendengar kata-kata si pria tahu pasti, dia tidak sedang menyatakan cinta untuk sekedar menjadi pacar, tapi sebuah lamaran untuk menjadi pendamping hidup.

Wanita yang beruntung. Tidak banyak perempuan yang mendapatkan pernyataan cinta sekaligus lamaran dalam satu momen yang sama.

Sejak malam itu mereka menjadi pelanggan yang lebih spesial lagi bagi Coffee Talk. Koko selalu memberikan bonus cheese cake untuk mereka tanpa mereka tahu siapa yang memberikannya.

“Romantis banget, ya, Ko,” gumamku dengan tetap mengunyah. Nasi goreng daging asap di Coffee Talk memang yang terbaik.

“Ini cewek jorok banget sih, telan dulu baru ngomong,” tegur Koko.

“Lanjuuuttt.”

“Hubungan mereka sangat indah. Si pria sangat dewasa dalam menghadapi si wanita yang manja dan sepertinya dia senang-senang saja wanitanya manja padanya. Beberapa kali aku lihat si pria memperhatikan dengan serius wanitanya yang sedang bicara dengan heboh tentang berbagai hal. Kalau kamu lihat sendiri, kamu pasti sibuk meng-aw-aw-kan mereka karena tatapan pria itu, seriously, hanya orang buta yang tidak bisa lihat kalau itu cinta,” kata Koko.

Aku menyimak dengan serius, tidak terusik sedikit pun dengan bagian dia mengangguku.

“Tapi seperti kopi, yang jika terlalu banyak akan membuatmu sakit, mungkin itu juga yang terjadi dengan mereka. Terlalu banyak cinta yang mereka bagi terhadap satu sama lain.” Suara Koko mendadak menjadi lemas.

Hanya dua bulan, ya, hanya dua bulan lebih beberapa hari, kisah cinta yang semanis Arabika seketika berubah menjadi sepahit Robusta.

Mereka tidak lagi datang bersama ke Coffee Talk. Entah apa yang terjadi di antara mereka berdua. Padahal sebelumnya Koko mendengar mereka membicarakan persiapan pernikahan mereka beberapa bulan lagi.

Mereka datang sendiri-sendiri kini. Masih duduk di meja yang sama, meminum kopi yang sama, hanya tidak bersama. Mereka sendiri.

Koko sungguh penasaran dengan apa yang telah terjadi pada hubungan dua pelanggan favoritnya, tapi cukup tahu diri untuk tidak ikut campur dengan masalah mereka.

Koko tahu mereka masih saling mencintai.

Bukan hanya sekali dilihatnya si pria maupun si wanita berjalan di depan Coffee Talk. Tidak masuk, hanya singgah sebentar untuk memperhatikan meja yang pernah menjadi saksi saat-saat indah yang pernah mereka lalui bersama di meja itu.

Beberapa bulan hal itu terus berulang. Tak ada satu pun dari mereka yang masuk ke Coffee Talk. Mungkin terlalu takut akan diserbu oleh serangan kenangan yang begitu banyak di tempat ini.

Baru beberapa minggu yang lalu, si wanita memutuskan untuk masuk ke Coffee Talk lagi. Sepertinya dia sudah mengumpulkan segala daya dan upayanya untuk menguatkan dirinya ketika melangkahkan kakinya lagi di Coffee Talk. Koko melihatnya menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan, seakan berusaha menenangkan detak jantungnya.

Wanita itu melihat Koko memperhatikannya dan tersenyum pada Koko dengan senyum yang seakan tahu selama ini Koko mendengar semuanya. Koko membalas senyuman wanita itu dengan seprofesional mungkin agar tidak terpancar kesedihan yang juga dia rasakan.

Wanita itu kembali duduk di meja yang sama. Tampak enggan awalnya, namun tetap duduk juga.

Wanita itu pun masih memesan kopi yang sama.

Satu hal yang wanita itu tidak sadari, ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya dari balik kaca Coffee Talk. Mata yang tampak nanar, memandangnya dengan penuh kesedihan. Pemilik mata itu hanya berdiri diam di tempatnya terus memperhatikan wanita itu yang sedikit pun tidak menyadari keberadaannya

Hujan turun. Si pria masih berdiri di tempatnya dan baru beranjak pergi ketika dilihatnya wanita yang dia cintai telah pergi dengan tanpa menyadari keberadaannya setelah sekian lama di tempat itu.

“Mereka ada masalah apa ya, Ko?” tanyaku dengan mata yang mulai berair. Untung saja nasi gorengku sudah habis.

Koko mengangkat kedua bahunya.

“Hanya mereka dan Tuhan yang tahu,” ujar Koko. “Sejak saat itu, si pria juga sudah mulai sering ke sini lagi. Duduk di meja ini dan minum kopi yang sama sejak pertama mereka bertemu di meja ini.”

“Nggak pernah gitu, mereka nggak sengaja berpapasan di tempat ini?”

“Nggak pernah. Sekalipun. Sedetikpun. Seakan dunia sudah berkonspirasi untuk tidak mempertemukan mereka lagi.”

Aku terdiam. Tidak tahu harus bagaimana lagi untuk merespon kisah cinta yang menyedihkan itu.

“Hidup itu seperti kopi. Pahit. Untuk benar-benar menikmatinya, butuh waktu untuk benar-benar menyukainya. Mungkin itu yang tidak mereka tahu. Mungkin kopi yang selama ini mereka kecap terlalu manis, hingga ketika merasakan yang pahit, mereka memilih untuk tidak lagi meminumnya. Dan ketika mereka memutuskan untuk mencobanya lagi, semuanya sudah berbeda.”

 “Kenapa tempat ini kamu namakan Coffee Talk?” tanyaku kemudian.

“Karena teman bicara yang paling baik adalah kopi, kan? Pahitnya kopi membuat beberapa orang menambahkan susu dan krim. Pekatnya kopi membuat beberapa orang mengindahkannya dengan seni. Kopi membuatmu belajar tentang kehidupan hanya lewat sebuah tegukan.”

Koko tersenyum.

Seorang wanita cantik tiba-tiba merangkulnya dari belakang.

Latasya. Istri cantik Koko.

“Hai, Mocca,” sapanya padaku.

“Hai, La.”

“Ca, aku balik duluan, ya. Nggak apa-apa, kan?” tanya Koko.

“Yalah, nggak apa-apa. Istrimu sudah di sini juga.”

Thanks, ya. Eh, aku lupa nanyak daritadi, aku mau bikin menu kopi baru, bagusnya namanya apa, ya?” tanya Koko yang sudah beranjak dari duduknya dengan tangan istrinya menggandengnya mesra.

“Kopi Sianida.”

“Ngasal aja,” kata Koko sambil tertawa. Istrinya juga tertawa. “Besok ke sini, ya. Harus ada namanya besok.”

Aku hanya mengiyakannya saja sambil membalas lambaian Latasya.

Koko pun pulang bersama istrinya setelah sebelumnya melepas celemeknya dan menyuruh pelayannya untuk menyimpan celemek itu di ruangannya di belakang Coffee Talk.

Aku hanya bisa memandang mereka menghilang masuk ke dalam mobil yang terparkir di depan Coffee Talk.

“Sampai jumpa besok, Ko, dengan cerita lain, tapi kopi yang tetap sama. Seperti perasaanku ke kamu. Tetap sama, nggak peduli sepahit apa.”


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Moon Comes at Noon


holding the moon

Moon comes at noon
No one’s expecting
To see the sky suddenly maroon
Heart’s pounding

I wish to see it close
I wish to touch it now
I know I miss all that lost
Like I don’t care if I’m low

Moon comes at noon
When the land doesn’t anticipate it
But I know it will happen soon
Though my heart can’t contain it

I’m paralyzed
When I see the moon comes at noon
I’m blinded
With a desire to hold the moon

When moon comes at noon,
I wish we meet soon

Musim yang Berganti


rainy_season_by_appleplusskeletonAku dan Kamu bertemu di musim kemarau. Pada suatu siang yang telah dijanjikan untuk sebuah pertemuan singkat hanya untuk saling mengetahui. Saat itu, belum ada. Belum ada sesuatu apa pun untuk Aku kagumi dari Kamu, belum ada sesuatu apa pun tentang Aku untuk Kamu pedulikan. Belum ada.

Waktu berjalan dengan cepat saat itu, hingga tak terasa akhir musim kemarau sudah begitu dekat. Aku dan Kamu pun mulai dekat. Sebagai teman, teman yang sangat baik, yang berbagi cerita di hampir setiap waktu. Pagi hingga malam, selalu ada cerita yang Aku dan Kamu bagi untuk satu sama lain. Ya, masih Aku dan Kamu, belum ada Kita saat itu.

Kita hadir di awal musim hujan, di suatu sore yang tak pernah Aku duga akan datang dengan begitu cepat. Beberapa kata manis yang tulus mengantarkan perasaan Kamu pada Aku dengan mudahnya seakan apa yang ada di langit dan di bumi dan yang ada di antara keduanya telah merestui saat itu untuk terjadi.

“Waktu tak bisa menjadi ukuran. Hanya sesaat memang, tapi apa yang ada di dalam hati, tak bisa lebih lama dipendam. Tak ada paksaan, selalu ada waktu, tak perlu saat ini, tapi keseriusan telah ada sejak beberapa waktu dan saat ini dinyatakan dengan sepenuh hati untuk disambut jika berkenan,” kata Kamu saat itu dengan lancar seakan telah Kamu pikirkan sejak awal untuk Kamu ucapkan bagai ijab.

Aku mengangguk, mengiyakan. Juga dengan sepenuh hati karena tak ada lagi yang Aku nanti, tak ada lagi yang Aku cari. Bertahun-tahun terlewati untuk mencari dan menanti, ternyata Kamu yang hati Aku ingini.

Tak ada lagi Aku dan Kamu sejak saat itu, hanya ada Kita. Kita yang bersama, Kita yang bercerita, Kita yang saling mendengarkan, Kita yang berharap, Kita yang sedang merangkai mimpi. Semua menjadi terlalu indah bagi Kita hingga lupa dunia tak selalu hanya tentang tawa, ada keseimbangan yang harus dijaga, maka Kita tak diijinkan untuk terus terlalu bahagia.

Di penghujung musim hujan, Kita tak lagi Kita. Kita kembali menjadi Aku dan Kamu dengan menyisakan rentetan kenangan yang tak ikut menghilang seiring dengan bergantinya musim. Ada banyak kenangan berserakan di sepanjang jalan yang telah Aku dan Kamu lalui sebagai Kita. Butiran bening tak hentinya menetes tiap kali kenangan menghantam tanpa permisi untuk setiap apa yang dilalui tanpa keinginan, tapi keharusan. Kenangan tentang Aku dan Kamu yang dulu Kita ada di setiap sudut yang enggan untuk dijamah, tapi mau tak mau harus diterima karena bukan Aku dan Kamu yang berkehendak atas segalanya dan takdir itu sungguh tak terduga.

Aku dan Kamu kecewa. Aku kecewa pada Kamu yang seakan lupa pada keseriusan yang dulu diucapkan, Kamu kecewa pada keadaan dan Aku yang tak paham itu. Semua yang dulu indah menjadi salah kini. Kita yang dulu penuh dengan kasih dan harapan yang indah untuk masa yang akan datang, kini menjadi Aku dan Kamu yang seakan tak saling mengenal dan hanya dua orang yang kebetulan memijak tanah yang sama dan dipayungi oleh langit yang sama.

Musim terus berganti. Aku dan Kamu belum lagi menjadi Kita. Aku tak tahu apakah Kamu juga mengharapkan apa yang Aku harapkan, tapi semoga doa bisa menjaga untuk tetap setia hingga Sang Sutradara Kehidupan memutuskan untuk menciptakan alur cerita yang baru untuk masing-masing Aku dan Kamu atau kembali mempersatukan Aku dan Kamu menjadi Kita di suatu waktu yang tepat dari sisi-Nya, mungkin esok atau lusa.

Di suatu waktu, mungkin Aku dan Kamu memang berjodoh. Di suatu musim, nanti, Aku dan Kamu mungkin akan bertemu lagi dengan semuanya telah menjadi benar dan tak ada lagi kekecewaan atau kemarahan yang akan memisahkan. Pada saatnya nanti, semoga keyakinan ‘kan membawa Kita kembali.

“Cinta itu nyata. Tuhan ciptakan dengan indah dan ribuan tetes airmata. Tak peduli apa, akan ada jalan untuk kembali jika diyakini sepenuh hati. Keseriusan itu masih ada, tinggal pilihan yang diambil yang menentukan. Berjuanglah jika cinta, tinggalkan jika telah dimatikan keadaan. Kurang dan lebih, baik dan buruk, tak ada yang sempurna. Kepercayaan tak berkurang sedikitpun, jika tahu, setia yang Aku pilih karena hati telah memilih. “

Musim yang berganti, semoga bahagia itu kembali.

Mungkin Kita Berjodoh


umbrellaMungkin kita berjodoh
Andai mereka tak berulah
Mungkin kita berjodoh
Andai angin yang bertiup selalu searah
Mungkin kita berjodoh
Andai saat itu kisah hanya kisah
Mungkin kita berjodoh
Andai kata tak pernah salah
Mungkin kita berjodoh
Andai hujan menghapus duka
Mungkin kita berjodoh
Andai menyerah itu tak ada
Mungkin kita berjodoh
Semoga kita memang berjodoh