Masalahku Bukan, Masalahmu


Masalahku,
Parasku kau terpukau
Auraku kau terpaku
Aku menjerat tanpa tahu

Masalahku,
Menghempas tanpa ragu
Hanya karena satu
Justru ragu

Masalahku,
Hati yang rapuh
Seringkali melabuh
Lalu tersesat tanpa tuju

Masalahmu,
Semudah paku kau terpalu
Tanpa tahu pada aku
Belum tentu ada mau

Masalahmu,
Kepalamu penuh halu
Tentang tak tentu dan semu
Mau saja padaku

Masalahmu,
Hatimu terjerat pesona palsu
Hanyut dibawa banyu
Kau karang yang tak lagi batu

Masalahku bukan,
Masalahmu bukan urusan
Tak akan ada yang bergandengan
Tak pula kini, nanti, atau kapan-kapan

Iklan

Dinding


Dinding-dinding berkisah tentangmu. Kamu yang pernah mengharapkan dia dan hanya bisa memimpikan dia. Kamu yang dulu terjebak pada anganmu tentang dia. Dia yang tak mampu kau jangkau, terlampau jauh.

Dinding-dinding berceloteh. Mereka ribut membicarakanmu yang tiba-tiba berani mengungkapkan rasa. Satu dekade kau lewati mempersiapkan diri, kau pinta hatinya dengan perkasa. Kau tahu kau tak lagi bocah remeh.

Dinding-dinding bergunjing riang. Setelah banyak kisah mereka rekam, kau berikan kisah baru yang menyentakkan. Dia yang dulu kau damba, kau lepas percuma. Entah, mungkin kau mulai congkang. Entah, mungkin kau terlanjur terbang.

Dinding-dinding terdiam membisu. Masih terus menyimpan rahasia baru. Kini ada dia yang mendekam pilu di antara dinding-dinding renta kota kelahiranmu.

Tak tahukah kau dinding-dinding mendengarmu?

Pintu (Hati)


Sebuah pintu tertutup
Tangan demi tangan datang mengetuk
Hanya untuk pergi dengan mengutuk
Karena pintu tetap tertutup

Sebuah pintu tertutup
Kuncinya telah hilang
Terbawa angin dan terbang
Tertimbun musim dan lenyap

Sebuah pintu tertutup
Pernah ada yang mendobrak
Tapi lalu pergi seperti gagak
Tak suka ia pada nyata di balik pintu tertutup

Sebuah pintu tertutup
Ada yang berjanji untuk bertahan tak beranjak
Sayang, tak cukup kuat untuk mendobrak
Hingga pintu tetap tertutup

Sebuah pintu tertutup
Kuncinya hilang

Sesingkat Petang


Sesingkat petang, waktu berkisah. Tentang perpisahan yang terlupakan dan pertemuan yang tak dinantikan. Sepuluh tahun yang disebut menanti dan sebulan yang penuh janji untuk diingkari.

Sesingkat petang, waktu berkeluh. Dua anak Adam dengan hati yang berbeda mencoba mengukir setapak untuk bersama. Sayang, ada yang masih mencari saat yang lain telah berhenti. Mereka tersesat.

Sesingkat petang, waktu berkesah. Ada apa dengan manusia? Terpisah, mereka mencari. Bersama, mereka melukai. Sungguh, sesulit itukah untuk bahagia saja?

Sesingkat petang, waktu berkisah. Dengan sekejap mata, sehembus angin, sekilas kecup, malam berganti, siang berlalu. Tidak jadi kenangan, tidak juga jadi angan.

Waktu menyerah. Kalian keterlaluan.

Until She Fell in Love


She was fine
until she fell in love
She was the coolest
until she fell in love
She was the most difficult
until she fell in love
She was the grey
until she fell in love
She had the highest standard
until she fell in love
She was the most demanding
until she fell in love
She was smart
until she fell in love
She broke many hearts
before she met you
She was a complete different person
when she fell in love
to you

Rumah


Dalam anganku pernah terbersit harapan untuk menjadi gunung yang tinggi. Agar sepi dan tak ada yang akan mengganggu. Hanya langit biru temanku dan sesekali burung-burung besar yang mampu terbang cukup tinggi untuk mencapai puncakku, cukup kuat untuk menerjang kencangnya angin di sekelilingku, dan cukup sepi untuk berbagi sendiri denganku. Aku ingin menjadi gunung yang tinggi agar dunia melihatku dari mata para hewan bersayap yang kesepian itu.

Namun, jauh disana aku melihat sebuah kota besar.

Kali ini aku ingin menjadi sebuah kota besar. Aku bosan dengan sepi. Aku ingin dipenuhi dengan riuhnya jalanan di siang hari oleh orang-orang yang sibuk berlalu-lalang dan bunyi klakson kendaraan-kendaraan yang terjebak macet. Jalan-jalanku akan dipenuhi dengan lampu-lampu yang berkerlip pada malam hari dan menjelang pagi, masih akan ada manusia-manusia yang menyemarakkanku dengan pesta-pesta mereka. Aku ingin menjadi kota besar, aku tak akan pernah kesepian.

Tapi, di sudut salah satu jalanku, kulihat sebuah rumah sederhana.

Rumah itu sangat sederhana. Hanya rumah batu kecil dengan taman yang juga kecil, sesuai dengan ukurannya, tapi ada banyak tanaman berbunga dan berbuah di sana. Ada sepasang bocah perempuan, tampaknya kembar, yang sedang sibuk memetik buah-buahan. Di sisi mereka, ada ibu mereka yang sedang menyirami pohon yang tidak terlalu besar di tamannya. Sang ayah tampak santai membaca korannya di teras dan sesekali tertawa melihat tingkah para gadis kecilnya.

Aku ingin menjadi rumah itu. Jauh dari keramaian, tapi tak sepi. Sederhana, tapi penuh cinta. Tenang, tapi penuh kehangatan. Kain gorden tampak melambai dari salah satu jendelanya. Ada bunga yang mulai mengering di salah satu vas, namun tidak mengurangi keanggunannya. Ada kursi tua yang mengeriput bersama tuannya.

Aku ingin menjadi rumah itu. Aku ingin menjadi rumah tempat cinta pergi untuk kembali. Aku ingin menjadi rumah yang akan kau tuju tiap kali kau merindukan peluk dan sapa. Aku ingin menjadi tempatmu pulang, tempat yang akan selalu kau rindukan.

Aku ingin menjadi rumahmu.

Buku yang Belum Selesai Kubaca


unread_by_mintlights-d6epz5pAda buku yang belum selesai kubaca
Kata-katanya sulit
Kisahnya rumit
Mungkin itu yang membuat penulisnya ternama

Buku yang belum selesai kubaca
Agak kelam
Sedikit suram
Tapi ada cinta di dalamnya

Buku yang belum selesai kubaca
Sepertinya tak kan selesai kubaca
Entah aku yang tak mampu memahaminya
Atau mungkin buku itu memang ditakdirkan untuk tak pernah selesai kubaca

Ada buku yang belum selesai kubaca
Entah bagaimana akhirnya
Aku tak tahu bagaimana akhirnya
Semoga bahagia